instagram

Pages

Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

Monday, February 23, 2015

Paman Ngemal  Bibi Ngemil

Seperti layaknya fase hidup, ada suatu momen dimana kita mulai pindah dari tempat bujang kita kemudian menyatu bersama pasangan dalam bahtera rumah tangga baru *halah … Nah, berawal dari ide ini dan bagaimana bahagianya saya menemukan pasangan hidup yang mendukung hobi traveling, eating, sharing, and cooking kami kemudian mulai mendokumentasi perjalanan kami dari cerita - cerita tersebut. Karena suka bilang, "ayo ngemil!" tanpa kenal waktu dan selalu punya stok camilan di keranjang piknik kami, maka jadilah dia Paman Ngemal dan aku Bibi Ngemil ….. lalu kami sebut seluruh dokumentasi perjalanan dan hobi kami NgemalNgemil.

Senang rasanya ketika mulai memberi referensi perjalanan, makanan, resep masakan, sharing hidup, dan beberapa tulisan inspiratif lainnya, kami mendapat tanggapan positif dari teman - teman semua. Mulai dari yang kemudian mencurahkan isi hatinya, mencoba resep masakan, mendapatkan ide kencan dengan kecengan baru nya, mencoba kuliner ini itu, dan mulai memberi semangat kami untuk terus berbagi. Harapan kami, Paman Ngemal dan Bibi Ngemil, adalah … kami ingin wadah www.ngemalngemil.wordpress.com ini menjadi tujuan teman - teman semua untuk memberi referensi rasa, cinta, dan rock n roll :)

Let's move to our new house




Thursday, September 11, 2014

Share the Unshared Things


Well, this writing is actually not the most interesting thing I want to write yet I'm amazed with how people deal with Social Media. Besides those scandals about bullying that ruining one and some people social life, Social Media might somehow malfunction for some too. Pathetic? yes! it is pathetic seeing how people being influenced with such drama and neglecting the real life they suppose to live with. So, I guess this matter is in between are we not ready for social media? or are we the victim of this attractive applications for sharing and updating things for public. I do not have this answer for people have their rights of their own perspective about social media.

Tuesday, August 19, 2014

Belajar Tua

I'm planning to do something today that my future self
will thank for!

Sayangnya saya belum sempat belajar banyak, ketika teman saya bicara soal ini dahulu sekali. Saya hanya sempat manggut - manggut dan belum terlalu mengerti kenapa saya harus belajar tua. Umur saya baru saja lepas 25 tahun waktu itu, tentu berpikir untuk keriput belum menjadi prioritas pikir saya. Yang jelas sedikit saya pahami waktu itu hanyalah pola pikir yang diimbangi dengan menuanya usia. Belajar untuk mempersiapkan diri ketika menjadi tua nanti. Semoga saya tidak salah tangkap dan menginterpretasikannya lain.

Wednesday, August 13, 2014

Mengakui Keangkuhan Menerima Ketidaksempurnaan


Sembari menunggu antrian panjang bakmi jawa terenak di desa, saya mencoba membuat hari ini lebih bermanfaat dengan mendiskusikan perasaan saya kepada suami saya. Meski diskusi ini juga tak cukup membunuh waktu karena lamanya antrian bakmi jawa yang hanya dimasak oleh satu orang dengan tiga tungku dan kami adalah antrian ke dua puluh mungkin. Kami berdua membahas bagaimana saya belajar untuk mengakui keangkuhan dan mulai adaptasi dengan penerimaan atas ketidaksempurnaan hidup.

Thursday, July 17, 2014

ayahku (bukan) idolaku

Kalau melihat di sosial media beberapa teman menampilkan berbagai bentuk kasih sayang dan bagaimana mereka mengidolakan ayah mereka, aku hanya punya perasaan dingin untuk melalui laman itu dan mengganti pada laman lainnya. Sementara setiap aku melihat sebuah citra keluarga suamiku yang hangat dan bagaimana suamiku mencium hangat ayahnya setiap bertemu dan meninggalkan pesan manis berbau perhatian, aku hanya teringat betapa aku tidak pernah ingin mencium dan memeluk ayahku. Aku cemburu bagaimana aku tidak punya hubungan relasi demikian dengan ayahku, dia bukan idolaku.

Sebagai sosok pahlawan, aku hampir tidak punya kenangan manis bagaimana dia menyelamatkan aku dari sebuah masalah. Hanya satu mungkin yang aku ingat ketika masa SMP dimana aku harus dijatuhi hukuman karena merokok di sekolah. Dia mewajarkan kegiatan merokokku dan membuat hukumanku sedikit lebih ringan daripada yang lain. Entah itu bentuk kepahlawanan atau menjerumuskan, yang jelas saat itu aku merasa diselamatkan. Menjelang SMA sampai saat ini, hubungan kami memburuk dan aku sudah tidak melihatnya sebagai pahlawan lagi, dia cukup bertitel ayah dimana aku memanggilnya "Pa" Ingatanku kembali pada masa titik balik hidupku, dimana aku sangat terpuruk kala itu dan ayahku tidak tercatat kehadirannya, bahkan dia takut untuk sekedar memberi dorongan, semangat, atau bahkan mengunjungiku. Kami tidak bertegur sapa sampai hampir satu tahun. Aku kehilangan pahlawanku.


Monday, July 7, 2014

Blow me a year






Suatu sore aku lihat ekspresi suami saya sedikit berbeda. Sepertinya dia sedang melakukan komunikasi dengan orang lain dan tampak sekali dia kebingungan. Aku tanya kenapa dia sepertinya kesulitan menjawab. Sampai sebelum tidur dan setelah banyak bercerita, aku tau kalau dia kuatir kado ulang tahunku tidak sampai pada hari-H. Wajahnya nampak gusar dan lucu seperti orang yang tidak biasa memberikan sesuatu yang spesial untuk orang lain di hari yang penting. Oh I'm flattered.

Iya, Hari Minggu kemarin ini umurku bertambah 1 tahun lagi menjadi 29! oh lala … on more year and I hit 30! Ulang tahunku sejak kecil selalu dirayakan. Mulai dari berkumpul bersama tetangga lengkap dengan kue dan kado sampai pada kejutan tengah malam dan makan bersama keluarga. Tentu ini berbeda dengan budaya suamiku yang tidak pernah merayakan hari jadi secara spesial. Maka pada hari ini, aku pun mengurungkan diri untuk berharap banyak. Malah aku lebih merenungkan mencari determinasi hidupku menjelang umur 30. Oh my God! better resolution please.

Syukurlah aku sudah siap dengan pertanyaan suamiku "what's your resolution this year?" lalu aku menjabarkan betapa aku ingin sifat temperamentalku perlahan memudar, rasa percaya diriku tumbuh, aku bisa menerima orang siapapun itu tanpa penilaian subyektifku, aku bisa melepaskan masa lalu, dan lebih tenang menjalain hari - hariku, juga menahan diri atas segala ucap sadisku terhadap suatu kejadian . Oh satu lagi! resolusi kali ini tidak lagi langsing, tapi aku ingin bisa olahraga … *bwahahahahh!
Lalu kemudian entah kenapa malam itu ketika suamiku bertanya dan aku menjelaskan, rasanya langkahku semakin ringan walaupun daging 200 gram baru saja kunikmati dengan arogannya.

Terima kasih alam semesta!

let's go!

poffertjes from a friend!

my very surprising birthday gift
from my be loving husband
My husband's writing!



Wednesday, July 2, 2014

Dear Citizen,

Setelah belajar dan mencoba memahami gegap gempitanya negara ini mengusung dua calon presiden yang bersikeras menjadi yang terbaik, saya ingin mencoba menulis dari sisi kaca mata yang lain. Seusai panasnya suasana surat menyurat untuk calon presiden A dan presiden B, serta merta surat balasan untuk si penulis surat dan ditutup 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat harap dibalas, lalu kemudian saya tersenyum betapa selow  (baca: ngga ada kerjaan) nya orang - orang ini. Karena saya tidak selow dan mumpung ada 30 menit waktu istirahat supaya saya ndak dituduh magabu (makan gaji buta) maka saya sempatkan menulis.

Protesmu keras! komentarku pada beberapa orang frontal yang membabi buta menuntut ini itu. Seperti ibu - ibu yang saya temui di warung ijo tempat langganan beli nasi sayur berujar "ya saya tetep milih pak itu to! jelas baik buat presiden!!! cinta rakyat" *sembari menyenggol tempe goreng yang terjatuh di tanah dan tidak diambil, hanya memberi senyum, dan merugikan si pemilik warung ijo* Mbok ya kalau nuntut sesuatu tu balikkan tuntutan itu ke diri sendiri. Ini yang mendasari saya menulis untuk warga negara ini, bukan buat calon - calon presiden itu.

Dalam satu hari saja, sudah berapa warga yang kelakuannya brutal minta ampun saya temui? minimal 10 lah … Dari mulai ketika saya ada di lampu lalu lintas, warnanya sudah kuning, saya memutuskan berhenti, tapi dimaki karena lamban dan didahului meski warna lampunya merah. Berapa banyak yang melanggar lalu lintas hari ini? korupsi waktu? berapa banyak dari kita yang memilih untuk melakukan hal lain daripada menyelesaikan pekerjaan kantor? doing social media for instance? Buang sampah sembarangan? seperti seseorang yang saya temui di jalan, mobil mewah, tapi kelakuan barbar! Membuang semua sampah di mobilnya ditengah jalan raya Yogyakarta - Solo? Itu baru sedikit yang saya gambarkan disini, tapi sudah cukup membawa ke inti pemikiran saya.

Saya sebagai warga negara, juga sudah patah hati sama negara ini. Namanya patah hati kan sembuhnya lama, jadi sampai sekarang juga belum sembuh. Dulu sempat semangat ikut pemilu, wah capresnya seru programnya, tapi akhirnya sama saja. Itu juga sama dengan cerita lima tahunan pemilu lainnya. Rasanya kayak dirayu habis - habisan, lalu ditinggal selingkuh. Tentunya rasa percaya pada negara ini juga kandas entah kemana, mengembalikannya saja tidak semudah menghitung anggaran THR (hehehe, saya lagi sibuk ngitung THR nih). Pada akhirnya saya nyanyi lagunya The Corrs "don't say you love me, unless forever…" jadinya nunggu bukti aja, daripada kemakan janji - janji palsu. Kemudian ya mau ngga mau jadi warga negara disini, wong saya lahirnya disini padahal ngga pernah minta, wong saya nyari pria asing yang mau nikahin saya supaya dapet warga negara lain juga ngga dapat.

Nah, ketika kita menuntut orang lain untuk memberi bukti bukan janji, coba sekarang menghadap ke cermin dan tanya ke lubuk hati yang paling dalam sambil lihat pantulan muka kita di kaca, "sudahkah saya menepati janji?" Banyak sekali kok yang bisa kita lakukan sebelum menuntut pemerintah kita menjadi lebih, yuk mari kita jadi cerdas dan cermat sedikit dimanapun kita berada, mulailah dari hal kecil. Coba pikirkan lagi, kalau kita ini menyerukan bahwa kita negara beragama ( ya cuman agama satu itu tok til yang disebut - sebut), tapi coba lihat, kenapa negara lain yang sudah tidak taat beragama tapi bisa lebih tertib hukum dan lebih beradab kelakuannya dan terlebih lagi, negara mereka lebih maju…

Monday, June 16, 2014

Asli vs. KW Super

MERTUA

Kalau mertua saya itu merupakan pasangan yang punya topeng 1,000. Harus dijamin semua orang tau bahwa keluarganya bahagia dan harmonis. Suasana rumah yang dingin dan bicara hambar dipermukaan adalah kebiasaan mereka. Menghindari konflik dan memendam perasaan adalah bentuk rumah tangga idaman ala pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Senyum manis yang dibuat pakai sakarin memberi rasa lezat dan meninggalkan lekak ditenggorokan. Coba bayangkan ketika kamu ingin marah tapi berusaha untuk senyum, rasakan ada rongga di hidung dan tenggorokan yang terasa lekak sakit yang tertahan. Itu maksudku :)


ORANG TUAKU

Berangkat dari pasangan rebel tahun 80an, mama dan papa terlalu terbuka akan segala kelakuannya baik dan buruknya. Kami tumbuh berasaskan kejujuran meski kadang mengetahui yang jujur itu sakit. Semua orang tau keluarga kami out of the box. Beberapa temanku suka main kerumah karena memiliki sosok mama papa baru yang bisa menerima perbedaan … beberapa orang tua memandang nyinyir karena mama papa terlalu rebel dan tidak normal didepan kehidupan sosial. Kami seperti bilang "oh Sh*t" kepada satu sama lain dengan senyum merekah penuh cinta yang membuat kami tau bahwa kami bisa marah, sedih, senang, baik - baik, berkonflik, atau emosional tapi kami tetap apa adanya.


AKU

Mencoba punya rumah tangga sesuai imajinasi aku disadur dari yang baik - baik perpaduan mertua dan orang tuaku.

Tingkat kegagalan : medium!

Solusi : F**k it!

Moral Lesson : Tidak ada kebohongan dari apa yang kita ucapkan hanya perbedaan persepsi yang memiliki dampak lain dalam menerima suatu pernyataan.



SOUNDTRACK


Selamat ulang tahun perkawinan 1 tahun untuk aku dan suamiku, terserah ucap jujur atau kepalsuan dan lamismu serta pengaruh orang tuamu karena aku bicara apa adanya, sadis, dan abnormal serta pengaruh orang tuaku yang membawa kita pada ranjang yang sama dan membuang waktu bersama sampai nantinya kita berpisah …. semoga sampai mati. Let's get wasted!

pf . June 8, 2014


Friday, May 23, 2014

I fail in Love!

Jadi ceritanya tetangga blog menulis soal tips - tips mempertahankan cinta. Menggunakan kata 'tips' tampak cheesy ya tapi ini yang aku maksud tulisannya bagus sekali sebenernya dan cukup menampar karena, I fail in maintaining love if that's really the rule … ya naw wad ai min! :

1. Make time to communicate with your partner, share things don't hide things.
Well, I love sharing things with my husband, more to know… I talk a lot. My husband? mmm he is so much so so in his life and he is in progress to share things as he never share things in his live. So I talk too much and he is so silent… well, which part of two way communication we have?

2. Value your partner trust and commitment
Hmmmm … my husband was a cheater and so was I … I trust him in love with me but I build myself to be ready if one day he cheats again. In the other way trying to be optimistic is I stop cheating and I hope the universe conspire to not to let my husband reverse it back to me.

3. Support the positive way of what your partner doing
Oh! I win this part .. yes I support him!

4. Give your partner priviledge to be himself/herself by giving them space to grow.
Hmmm … my husband is the most boring person I ever met, but I manage myself to accept that and support him as he is who he is and I don't want to change anything about him a bit …

5. Make your love life romantic everyday!
Oh my husband is really good at it… so I guess …. "checked!"

Wednesday, April 30, 2014

Pilah Pilih

Sehabis pemilu dan Kartini yang ngga ada hubungannya sama sekali babarblas  (baca : not at all), aku merangkum kejadian - kejadian akhir - akhir ini yang bisa jadi semangat buat bangun tidur. Ngga tau kenapa bangun tidur sekarang makin hari makin berat. <--- ah ini sih alibi kemalasan aja sebenernya.

Beberapa waktu lalu temanku bilang kalau hidupnya itu tidak ada pilihan dimana dia harus menghadapi suaminya yang suka melarang dan hidup sama mertuanya yang hobinya mengkomparasi dia dengan mantan - mantan pacar suaminya. Well, for me life is full of choices! jadi kalau kamu sekarang hidup dengan suami dan mertua yang bikin kamu ngga bahagia dengan bilang ngga ada pilihan, itu hanya menambah beban hidup saja. Kenapa ngga memberi semangat pada diri sendiri .. ya ini suami yang kupilih, jadi walaupun suka ngelarang, tapi dia ganteng jadi aku suka. Nah, aku milih mertua ini .. kalau aku ga mau ama mertua ini ya kemarenan pacaran ama si bambang, atau joko aja … tapi mertuaku ini masih mending, paling nggak dia kaya raya walaupun suka minta ditoyor kalau ngomong. Alhasil, cara kita menjalani hidup jadi lebih mudah.

Seperti ketika pemilu kemarin, bingung juga pilihannya banyak banget. Jadi rasanya aku ngga ada pilihan buat memilih yang terbaik. Tapi aku memilih untuk mencoblos saja semuanya. Resiko aku adalah aku tidak punya suara, tapi aku tidak sakit hati kalau anggota DPR nya berkhianat, dan untungnya dengan aku mencoblos semuanya, kertas suara aku tidak disalah gunakan. Jadi aku adalah warga negara yang bebas memilih dan menerima semua resiko dan keuntungannya dengan lapang dada! *uwyeah!

Jadi, satu - satunya hal yang menurut aku ngga ada pilihan adalah aku terlahir di dunia ini … the rest is our choices .. even when you are under pressure, it's your choice to be under … I prefer on top!




Thursday, April 10, 2014

single (busy) ladies rules

Be soft. Do not let the world make you hard. Do not let pain make you hate. Do not let the bitterness steal your sweetness. Take pride that even though the rest of the world may disagree, you still believe it to be a beautiful place.
Kurt Vonnegut
Pagi ini salah satu sahabatku menuliskan harapannya untuk segera menemukan pasangan hidup untuk bisa berbagi dalam segala naik turun kanan bawahnya kehidupan. Aku sengaja memberi semangat bahwa dia pasti bisa dan aku ingin berbagi harapan itu. Bukan, aku bukan ahli dalam hal ini dan tulisan ini tidak menjamin 100% seluruh wanita yang saat ini masih sendiri lalu segera mendapatkan pasangan. Hanya sekedar 28 tahun aku hidup ini punya beberapa pengalaman yang mungkin bisa menjadi inspirasi atau sekedar harapan bahwa teman hidup itu pilihan dan takdir itu cerita lain.

Aku juga pernah menjadi wanita yang mandiri dan super sibuk. Aku tidak punya kekasih yang resmi dan waktuku itu 12 jam untuk bekerja, 8 jam untuk tidur, 2 jam pagi hari untuk siap - siap, dan 2 jam sepulang kerja untuk waktu luang yang kadang aku pakai untuk mengurung diri di kamar kos atau sekali waktu bercengkerama dengan teman dekat. 12 jam dalam kesibukan itu juga bukan waktu yang longgar, telepon, email, dan percakapan  chatting itu benar - benar penuh untuk dibalas dalam lingkup pekerjaan. Aku seperti tidak punya waktu untuk sekedar menjawab "hai good morning!" atau "have you had your lunch? dinner? sleep well?" Bukan .. bukan maksud sombong untuk menjawab, tapi bahkan membuka laman sosial media untuk sekedar bla … bla.. bla … dalam kehidupan sosial saja rasanya tidak sempat.

Resiko yang aku dapatkan adalah ketika semakin banyak aku bertemu orang baru apalagi pria dengan berbagai karakter, pencapaian, kecerdasan, dan lain lain juga mempengaruhi standardisasi keinginanku dalam memilih pasangan hidup. Disisi lain, semakin dalam aku berkecimpung dalam kesibukan dan kehidupanku, beberapa pria yang mencoba mendekati pun memilih untuk mundur dengan alasan, pesan tak berbalas, kehidupan aku yang susah disejajarkan, dianggap sombong, dianggap tidak punya waktu, dan berbagai alasan lainnya. Hal ini juga membuat aku terjebak dalam hubungan tanpa status karena bertemunya dengan orang - orang yang kebetulan kerja bersama lalu punya kesempatan berinteraksi lebih banyak tapi statusnya suami orang *lhah!

Ada juga kendala lain, pernikahan menjadi bukan suatu prioritas lagi dalam hidupku karena gambaran pernikahan yang tidak abadi menjadi bayangan yang menakutkan dan susah dijalani. Rasanya aku lebih mudah bekerja keras tapi hasilnya jelas dapet uang lalu bangun rumah, daripada membangun rumah tangga yang caranya pun aku ngga tau tapi resikonya patah hati berkepanjangan… What the damn hell!   Jadi jujur saja aku menikmati sekali kehidupan melajangku tanpa kejelasan akan hati tapi rekeningnya pasti jelas terisi tiap bulan, heheheh.

Sampai pada suatu waktu aku merasa bahwa kehidupan ini dingin, tidak ada warnanya. Aku bisa saja membubuhi kegiatan hura - hura sebagai warna kehidupanku, tapi rasanya ada yang kurang. Lalu aku mencoba beberapa langkah dengan harapan menemukan teman hidup dan resiko melajang selamanya.

1. Terbuka
Aku membuka luas pertemananku tanpa pilih - pilih. Mulai dari pria yang bau, wangi, cakep, kurang cakep fatal, pintar, kurang pintar, sama sekali tidak pintar, bisa ngobrol, pendiem, garing, lucu, lucu berlebihan, norak, keren, dll sebagainya aku berusaha untuk ramah. Menyediakan beberapa menit atau membagi waktu untuk bertemu mereka juga bukan hal yang mudah, tapi menurutku aku tertantang untuk survey. Tentu saja tidak ada yang memenuhi kriteria pria ganteng, gagah, perut kotak - kotak, mapan, sukses, pinter bahasa Inggris, lucu cerdas, warisan banyak, suka nonton film, suka makan enak, suka travelling, dan ribuan syarat lainnya.

2. Menerima
Aku menyadari kalau aku tidak sempurna, selulit dimana - mana, berat badan diatas rata - rata, kecantikan pas pasan, kecerdasan bergantung sama mbah google, lambat, suka molor, nggak rapih, ngga punya tabungan, dan sebagainya. Jadi apa salahnya menerima sosok yang tidak sempurna tapi paling tidak ada kemauan untuk bisa dan mampu beradaptasi. Artinya gini, bukan berarti trus ngawur cari pria asal mau jadi suami tapi kamu liat mukanya aja ngga pengen buat cium atau peluk bahkan making love. Tetep paling tidak ada batas penerimaan yang kita mampu untuk membayangkan berbagi dengan orang itu seumur hidupmu. I agree that we cannot decide to whom we shall fall in love with, but I agree in process. 

3. Komitmen
Be good and you will be treated good, the rest leave it to universe. Itu yang aku pegang ketika aku siap untuk berkomitmen, meski mudah diucapkan tapi ya rasanya kayak jumpalitan menjalaninya. Yang jelas, aku tidak suka istilah pernikahan dan patriarki, jadi aku menganggap pasangan hidupku sebagai teman hidup bukan suami. Itu rasanya lebih ringan dan mempermudah menjalaninya. Godaan di luar juga pastinya banyak ada yang lebih ganteng, lebih baik, lebih lucu, lebih sexy, tapi selebihnya itu aku sudah punya keputusan dan aku juga ngga mau hal - yang lebih - lebih itu membuat pasangan hidupku lari ke pelukan kimcil lain <-- kata kimcil dipilih untuk menggambarkan wanita penggoda lain. Pada akhirnya, ya sudah lah ya kalau sampe tetep ditinggal juga tinggal ngomel dikit sama alam semesta lalu move on as life is just a walk to march on. 

4. Melepaskan
I live to let go! yang paling kuat diajarkan pengalaman kepadaku adalah seni untuk melepaskan harapan dan tetap hidup untuk terus berharap. <---- sebenernya ini malesin banget ya. Buat apa berharap kalau akhirnya terus melepaskan dan tetap punya harapan…. what a waste! Tapi hidup itu semua misteri dan itu tantangannya buat aku menarik. Kemudian proses melepaskan ketika alam semesta tidak menghendaki harapan kita dipenuhi, selalu saja ada alasan dan alasan lain untuk terus bersyukur. Oiya, 10 tahun yang lalu aku melepaskan seseorang dan kami saling mencintai pada masanya. Sekarang orang itu ada di kehidupan aku menjadi suamiku.

Jadi rasanya itu saja sih yang aku dapatkan dari pengalaman hidup dan benar saja sampai saat ini aku juga masih belajar untuk terus belajar hidup mumpung belum dipanggil ama si empunya hidup. Dibilang susahnya setengah mati ya bisa tapi dibilang tantangan juga rasanya bisa meringankan bebannya. Jadi, coba diresapi quotes di atas dan mari kita mencoba mengerti.

Wednesday, March 19, 2014

Growing Old vs. Together

For I may still in progress of having faith that love can last even some may not, I accidentally found this inspirational images taken for anniversary photography depicting from the movie "Up".
So I kinda heart it to put on my blog for reminder, that I must have the fight to keep my love life with my husband until death do us part, but not to forget if somehow we fail before we die, then I must let go.






I got this adventure jar of coins with my husband
once collected, we bought a tiny red car to travel!


photo courtesy : http://www.mymodernmet.com/profiles/blogs/up-themed-anniversary-photo-shoot

Friday, January 17, 2014

Batas Akhir Penggunaan : Expired Date

Kemarin adikku berseru dengan lantang "yaaaaaa TimTam ku expired! Ah ya udahlah ya masih enak inih …" lalu tetap saja dia lahap meski sudah terlambat 3 hari dari batas akhir penggunaan. Di lain hari aku juga membaca pernyataan dari teman "Jangan terhanyut sama yang manis - manis, pasti nanti juga basi… coklat aja bisa expired." Hmmm …. Mari berpikir bukan dari permukaannya saja, tapi mari kita ulas lebih dalam. Mau bicara batang coklat? atau biji coklat? <---- kok rasanya maknanya ambigu menuju saru.

Sebagai wanita yang level kecantikannya sedikit diatas rata - rata (bukan bermaksud kePDan tapi lebih ke sadar diri *helah! ) saya menemui pria - pria bicara manis dengan berbagai pujian dan perlakuan. Semuanya mulai dari manis, jorok, norak, dan mempesona pernah saya hadapi. Apakah mereka bisa basi? Apakah mereka lama - lama bosan bicara manis? atau tetap konsisten dengan perlakuannya itu? Tentu saja sebagai orang yang pernah dan masih berusaha untuk tidak skeptis, saya sempat menganggap itu semua bisa basi. 3 bulan pernikahan bilangnya "Hai honey, gorgeous you are awesome and yummy please hand me the food!" nanti 3 hari menuju kematian kalau untung istrinya masih sama dan peyot - peyot bilangnya "ambilin makan!" Ini yang selalu ada di pikiran saya, karena toh sudah tua dan peyot kan ya palsu dan munafik sekali kalau masih dipanggil georgeous, honey, and yummy!

Nah, ini juga lagi - lagi bicara persepsi. Seperti ketika kita makan coklat. Mungkin coklat yang sudah dalam kemasan itu nantinya akan basi karena sudah diolah dan diberi bahan lain yang daya tahannya tidak lama. Tapi coba pikirkan buah coklatnya, sebelum dia diolah. Pastinya orang yang memetik buah coklat untuk diolah akan memikirkan pembibitan ulang, sehingga coklat akan tetap tumbuh terus dan mengikuti lingkaran kehidupan untuk terus dan terus memberi kenikmatan dalam bentuk es coklat, susu coklat, truffles, cookies, dan lain sebagainya. Jadi, kalau nanti kamu lihat istri atau suamimu semakin menua, menyebalkan, tidak bisa dipahami, dan bahkan sudah tidak bisa diajak bercinta *tsah … maukah kamu untuk tidak melihatnya usang secara biologis tapi tetap setia mencintainya dengan tulus dan konsisten? Agar supaya manusia - manusia ini lingkaran kehidupannya semakin terus kaya akan saling memberi dan menerima cinta?


Mungkin setelah menulis ini diatas kepalaku sudah ada halo dan ditanya Tuhan Alam Semesta "mau mati kapan? kok kayaknya udah sok paham gitu sama idup?" ….. jawabku, "nanti - nanti deh Tuhan, lagi pengen beli mobil jeeeeee …. "

Monday, January 13, 2014

Ya Sudahlah yaaaaaa …..

Jantungku berdegup kencang dan sedikit sakit. Nafasku tersengal seperti tidak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutku. Badanku bergetar dan tanganku mengepal serasa ingin menghantam. Wajahku panas persis seperti karakter komik yang memerah karena amarah. Mataku buram tertutup air mata yang juga ingin memecahkan suasana dan mendukung gemparnya…

amarah

Akhirnya kepalaku sakit, perutku mulas konstipasi, nafasku sesak seperti Asthma, dan akhirnya kencingku berdarah. Ya, aku sedang marah sampai sampai pada akhirnya ini berpengaruh pada tubuhku. Ya tepat! Aku terlampau marah sampai tubuhku tak lagi bisa menerima dan melampiaskannya  pada efek - efek samping sakit yang tidak biasa bin ajaib ini.





Seminggu kemarin aku diajak belajar sama alam semesta. Aku diajak belajar mengolah semangat, amarah, dan menerima. Sebenernya ajaran ini sudah berulang kali diajarkan, tapi mungkin aku kelewat bengal atau goblok, tetep aja gagal paham. Tapi aku mau agak congkak sedikit, karena kupikir seminggu kemarin sudah kulalui dengan penuh gejolak tapi pada akhirnya aku paham dan bisa menerima. 

REMUK

Hoooo ya remuk pastinya, ketika seseorang punya harapan sesuatu dan harapan itu sirna. Seperti patah hati yang belum bikin mati tapi ya lumayan remuk. Rasa tidak terima, kecewa, gemes, marah, bingung, dan frustasi akan jadi perpaduan bumbu yang pas dalam segala bentuk amarah. Njuk aku kudu piye aku bingung! Gimana sih caranya menanggulangi rasa ini ketika kenyataan tidak sesuai dengan realita? *akukudupiye

Pilihan 1

Tentunya banyak orang yang mengusulkan untuk berdoa! minta pada Tuhamu maka kau akan diberi HALLLEEELUYAHHHH! helah! kayak Tuhan itu pembantu …. "Tuhan! bikinin minum" … "Tuhan! minta duit!" ….. tapi ya tidak ada salahnya minta pada Tuhan, siapa tau kuatnya sinergi antara doa dan semangat bisa berbentuk pada keajaiban, karena seluruh kekuatan terbesar ada padaNya … aku percaya itu! Asaaaaaaalllll ya tetep musti bisa rela, ketika Tuhan yang dipuja berbagai cara dan dipanggil dengan berbagai nama ini dengan seenak jidatnya melakukan manuver lain - lain memberikan sesuatu yang tidak kita inginkan tapi yang kita butuhkan. Ya sudahhhhlaaahh ya terima aja!

Pilihan 2

Sadar diri aja kalau hidup itu naik turun dan bentuk semangat itu seperti merelakan apapun yang terjadi dalam hidup ini. Dengan demikian, apapun harapannya kita sudah sadar jawabannya bisa iya dan tidak, tinggal diterima aja, karena ini pasti yang terbaik. Ya sudaaahhh laaahhh yaaa terima aja!

Pada intinya, semua orang punya caranya sendiri untuk bersemangat dan menjadikan faktor lain untuk menambah semangat dalam mencapai sesuatu atau berharap akan sesuatu. Mereka hanya sering lupa atau tidak terima atas apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan keinginan mereka. Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi proses remuknya itu? yaaaaa… kalau aku sih sedang belajar menghadapi, menerima, memahami, dan kencing berdarah …. sampai akhirnya … yaaaaa sudahhhlaaahh yaaaaa terima aja!


I do really thank the coincidence of universe for bringing me to watch RUSH the movie as I learn about encouragement and acceptance and to Samuel Mulia for writing "Ya sudahlah ya" article on Kompas, Sunday, 12 January 2014 as I learn about managing my encouragement and acceptance. *isep ganja*











Friday, January 3, 2014

Monster in Law

Sewaktu bekerja dulu di salah satu hotel jaringan internasional bintang lima, aku adalah pegawai termuda di kantor eksekutif. Sebagian besar teman makan siangku ada yang hamil, sudah menikah, sudah beranak pinak, sudah selingkuh, sudah cerai, dan sudah tidak mau menikah lagi. Agak susah menelan setiap makan siangku ketika berkumpul dengan mereka dan bicara hal - hal pernikahan yang mana di benakku sempurna seperti dongeng anak kecil dan dihancurkanlah imajinasi itu oleh cerita mereka. Aku seperti dihadapkan pada Santa Claus itu tidak nyata dan dipaksa memahami. Sialan! menjadi dewasa itu memang jebakan.

Pembicaraan mengenai mertua tentunya merupakan topik hangat selain sex, anak, dan perselingkuhan. Semua teman makan siangku setuju bahwa mertua itu adalah monster berbalut sosok yang harus dihormati dan dituruti. Waktu itu sih aku hanya berbagi senyum karena aku tidak pernah berhubungan dengan orang tua pacar - pacarku jadi tidak tau rasanya menghadapi calon mertua. Lalu kemudian lebih pada menyangkal, masa ada sih mertua yang sampai segitunya memperlakukan menantu. Wah berarti kisah - kisah sinetron kacangan itu benar adanya. Pikirku waktu itu.

Ketika menikah, akupun juga lupa memperhitungan kebijakan keputusanku menikah untuk menghadapi mertua. Kupikir mertua adalah sebatas alih alih ketemu 6 bulan sekali dengan pencitraanku bagai praktisi hubungan masyarakat selama ini yang mampu mendamaikan setiap situasi menghadapi mereka. Gampang! suaraku hatiku begitu. Kalau tau situasi yang aku hadapi sekarang, pastinya 6 bulan lalu aku bilang sama suamiku "Sayang, kita lebih baik kumpul kebo aja!" hahahahaha

Ternyata keluhan mengenai mertua itu sama saja, hanya tingkat keparahannya berbeda - beda. Syukurlah mertuaku itu nilainya 6 dari 10 poin. Tingkat menjengkelkan, intervensi, intimidasi, dan pengaruh konvensionalnya itu masih dalam batas wajar menurut survey famili 100. Tapi….. ini rasanya nilainya 10 dari 10 poin untuk aku yang belum pernah menghadapi mertua dan memiliki latar belakang yang tidak seperti pada umumnya.

Yang membuat aku tertekan, depresi, dan muak dengan kehadiran mertua adalah sebatas karena aku dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga demokrat. Ayah dan Ibu membesarkan aku dengan cara yang gampang, bebas dan bertanggung jawab. My parents was not taking my fierceness personally and never judging them as rebellion against them! mereka menerima aku sebagai anak mereka yang memang beginilah dan ini bukan tentang mereka, ini tentang anaknya.

Ternyata menghadapi mertuaku ini, aku harus berupaya merumuskan beberapa tips ampuh :

BERSYUKUR
Akkkk sialan juga yaaaa ini jawaban klise atas semua masalah diatas segala emosi dan murka aku! Ya sudah, aku berusaha bersyukur karena kalau 29 tahun lalu mereka tidak bercinta maka suamiku itu tidak hadir dimuka bumi ini. Peduli setan cara mereka mendidik anaknya tapi ada sikap - sikap suamiku yang pastinya bikin aku jatuh cinta.

JARAK
Aku tidak mau terlalu dekat dan tidak mau terlalu jauh. Aku tidak mau terlibat dalam urusan pribadi mereka untuk memudahkan aku menjauhkan urusan pribadi aku dan rumah tangga kami dari tangan mereka. Lebih penting lagi, sedikit bicara banyak tersenyum dan tenggak alkohol sebelum ketemu mereka. Ini memudahkan stabilitas emosi dan tekanan jiwa. Sedikit bicara juga membantu aksi menjaga jarak dan sulit didekati. Dengan demikian, hubungan akan terjaga harmonis dipermukaan dan penuh angkara dibelakang. Peduli setan sama yang dibelakang. hahahahaha

KEPUTUSAN
Nah, ini yang paling penting. Mertua tu kan ya alih alih ingin yang terbaik untuk anaknya. Menasihati dan sedikit memaksa untuk menuruti kehendak mereka. Tapiiiiiiii, yang terpenting adalah aku dan suamiku menerima masukan mereka dan mengambil keputusannya. Biasanya pergulatan suami istri itu terjadi ketika suami atau istri nya memihak orang tua mereka bukan pasangannya. Syukurlah suami aku punya cara yang seru untuk menghadapi orang tuanya yang mana mertua aku. Kita selalu nampak "ya iyalah" didepan mereka namun segala keputusan diambil atas mufakat aku dan suamiku saja. Tentunya disini aku juga harus obyektif ya! bukan karena aku sengit lalu semua nasihat mereka itu kuanggap dementor. Aku tetap bijaksana menyaring segala masukan yang diterima.

Contohnya begini :
Mertua : Kalian itu jangan merokok, itu tidak sehat.
Kami : ya ya yaya

Dibelakang mertua : kami sepakat untuk tetap merokok dan membersihkan puntung rokok sebelum mereka datang.

-----

Mertua : Kalian harus memanfaatkan waktu untuk bekerja sebaik mungkin untuk meningkatkan perekonomian rumah tangga.
Kami : ya ya ya ya

Dibelakang mertua : kami sepakat kalau mertua minta ketemu tapi kita tidak mau ketemu, kami beralasan bekerja untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

----

Mertua : ini ada es teler dan rendang enak
Kami : ya ya ya ya

Dibelakang mertua : kami harus obyektif, ini rendang dan es teler emang enak! hahahahaaha ya udah dimakan ajaaaa sihhhhhhh :)




Thursday, January 2, 2014

Hey you! Hey Universe!

Once you make a decision, the universe conspires to make it happen
- Ralph Waldo Emerson - 

Sebagai makhluk yang susah membuat keputusan dan selalu ketakutan akan sebuah resiko, aku hanya bisa punya satu keyakinan bahwa alam semesta akan membantu. Membantu disini tidak hanya mengabulkan keinginanku tapi juga membantu akan sebuah pemahaman bahwa sesuatu harus terjadi meski tanpa sebuah jawaban yang pasti. Bisa mati gila kalau aku terus memikirkan berapa keputusan  dan resiko yang sudah aku ambil di tahun 2013, mulai dari menikah, pindah bekerja bersama keluarga, meninggalkan karir, dan tidak hidup sendiri. Yang aku yakini ya setiap tanggal 1 Januari setiap tahunnya adalah momentum dimana aku bisa menoleh kebelakang dan bilang "oh I've been through much as best as I could" dan bersamaan dengan bersemangat "hello, new year … bring it on!" 

Aku bilang sama diriku sendiri kemarin "ah persetan sama resolusi! dari dulu pingin kurus juga ngga tercapai, dulu ngga pingin kawin eee ternyata sekarang punya suami, dulu bilang pingin sendiri ternyata sekarang malah berkumpul dengan keluarga, dan lainnya yang berkontradiksi dengan resolusiku" Jadi tahun ini aku bebas resolusi! Kupikir tahun yang baru hanya perlu dijalani apa adanya dan menerima segala sesuatu sebagai sesuatu yang terbaik atas usaha semaksimal mungkin yang kita lakukan. Jadi bukan berarti tanpa semangat aku menjalani 2014 tapi lebih kepada, aku ingin terus belajar memahami, berusaha, dan menerima.

Kemudian sepenggal kalimat diatas mengajak aku berpikir bahwa selama ini aku hanya "pingin" dan bukan "memutuskan". Karena kalau aku jadi alam semesta aku akan menjawab "lha kamu pingin kurus tapi makan terus, kamu ngga pengen kawin lha kok memutuskan mau menikah, kamu pengen sendiri lha kenapa pulang kerumah buat ikut berkecimpung dalam bisnis keluarga" lalu kemudian aku tertunduk malu karena tidak paham akan makna "ingin'' dan "keputusan". Jadi untuk menyambut 2014 ini aku mau memahami resiko dari sebuah keputusan dan keyakinan atas sikap yang diambil. Karena membuat keputusan dan menjalaninya adalah sinergi sebuah perilaku untuk sebuah pencapaian. Kalau tidak mendapatkan pencapaian itu barulah efek memahami dan menerima dengan ikhlas sebagai bentuk kedewasaan *elap iler

Untuk tahun 2013 dan sebelumnya, terima kasih untuk setiap naik turunnya kehidupanku. Kesempatan untuk belajar jatuh, belajar merangkak berdiri, dan mensyukuri setiap lebih kurangnya. Untuk harapan yang berusaha aku rengkuh dan yang berusaha pergi. Kepada hati yang dipaksa mati lalu mulai memberi rasa. Kepada setiap pertemuan untuk sebuah perpisahan. Karena nanti suatu saat aku hanya ingin bisa memutuskan untuk bisa meyakini ini semua adalah yang indah dari sebuah proses yang tidak mudah.







Sunday, December 22, 2013

Untuk Wanita yang Tidak Bisa dan Tidak Ingin Menjadi Ibu


Ini hari Ibu! Begitu aku diingatkan sosial media yang sudah menampilkan puluhan cara terindah untuk menyampaikan terima kasihnya pada ibu. Lalu sejenak aku berpikir, bagaimana dengan wanita yang tidak memilih atau gagal menjadi ibu? Tidak pantaskah dia diucapkan terima kasih atau disebut eksistensinya di hari Ibu? Tapi rasanya kacamata sosial sudah meminta hari ini disahkan untuk menjadi hari Ibu... Khusus IBU! Titik!

Sinis sih nggak ... Ya dikitlah sinis dikit mengenai pandangan orang yang menganggap wanita tidak sempurna kalau tidak jadi ibu atau rasanya tidak jadi wanita kalau tidak melahirkan. Rasanya terlalu panjang kalau aku bahas mulai dari anggapan aku mengenai kehadiran anak dan elaborasinya akan keberadaan ibu. Nanti malah jadinya kehadiran anak itu hanya sebagi pemenuh pandangan sosial. Yang jelas aku hanya kebetulan ada di kehidupan dimana menjadi ibu adalah sebuah pilihan atau takdir, bukan kewajiban. Jadi aku tidak cocok dengan pandangan, "menikah itu untuk punya anak." Atau "kamu tidak jadi wanita sempurna kalau tidak punya anak."

Lalu aku mengajak beberapa temanku yang masih single, mereka yang tidak ingin dan tidak bisa menjadi ibu. Banyak faktornya, seperti contohnya aku. Aku belum siap menjadi ibu dengan berbagai alasan dan keyakinan yang aku imani *halah* tapi aku punya niat dan tujuan lain. Di dunia ini, aku masih lihat banyak anak yang tidak diharapkan orang tuanya, dibuang orang tuanya, atau alam semesta mencobai anak - anak ini menjadi yatim piatu. Aku kebetulan tidak peduli dengan hujaman pertanyaan ketika aku sudah menikah ditanya "kapan punya momongan" biasanya aku akan menjawab sekenanya atau membahas lebih dalam ketika aku tau lawan bicaraku bisa memahami pemikiranku.

Jangan berkecil hati kalau belum punya momongan, atau tidak mau punya momongan, atau bahkan belum nemu bapaknya *eh... Kalian tetaplah seorang Ibu, ya selain karena kalo di toko dipanggilnya udah "ibu" yaaaaa bukan "kak" lagi :)
Ada banyak hal kok yang bisa kita lakukan untuk ibu - ibu yang gagal jadi ibu. Gagal disini banyak macamnya, yang anaknya dititipkan di panti asuhan, atau maut menjemput sebelum ada kesempatan membesarkan anaknya, atau ya cuman gegayaan punya anak tapi ga tau caranya mendidik .... Sebagai wanita single atau belum punya momongan kan bisa dimulai dengan melakukan banyak hal, aksi sosial untuk anak - anak yang ingin dibantu atau banyak baca informasi soal ibu dan anak, jadi kita bisa memberi banyak referensi untuk ibu ibu yang udah terlalu sibuk ganti popok, sedangkan kita masih keluyuran di mall :)

Jadi, ibuku ... Yang sudah membuat aku dengan cinta dan nafsu sebagai bumbunya.... Terima kasih ya sudah selalu menerima pemikiranku yang ajaib :)

Wednesday, December 11, 2013

Iya atau tidak?

Kemarin akhir pekan kami kedatangan mbah dukun. Aku dan suamiku seperti pasangan suami istri yang sedang kepayahan dan konsultasi kepada dukun. Kusebut mbah dukun karena dia adalah tempat belajar suamiku untuk memahami hidup hanya saja sekarang dia berubah dengan pengetahuan spiritual kejawen nya beserta batu akik dan argon serta ilmu pellet yang membuatku berkhayal dia seperti mbah dukun. Tapi tentu saja dia bukan dukun, karena kami tidak belajar cari pesugihan dari dia, kami hanya ingin berbagi cerita dan sedikit banyak memberi masukan dalam rumah tangga kami untuk memahami satu sama lain.

Aku terinspirasi salah satu kalimatnya, “kalau kamu menuntut kebenaran, kamu harus siap dengan jawabannya…” Betul juga pikiran dia, batinku dalam hati. Aku adalah anak yang dididik dan ditempa untuk sebuah keterbukaan dan diterima atas kebebasan tanggung jawab yang aku pilih. Itu sama aja aku berharap ketika aku tanya “aku cantik nggak?” dan aku berharap jawabannya “iya” tapi ternyata jawabannya “tidak”. Itu artinya aku harus menerima secara terbuka bahwa mungkin aku tidak naturally born beautiful, aku salah pake make up, atau selera orang yang bilang aku tidak cantik itu jelek hahahahaha ….

Satu hal yang mengusik antara aku dan suamiku itu adalah ketika dia menghindari untuk mengatakan sejujurnya agar supaya lawan bicaranya bahagia atas jawabannya. Sedangkan aku lebih suka orang berkata apa adanya menanggapi segala sesuatu meskipun nanti aku sedikit kesulitan untuk menerima jawaban yang tidak sesuai dengan harapanku atau sebagai bonusnya aku akan sangat bersyukur ketika jawabannya sepaham dengan pikiranku. Tapi, aku lebih suka tertantang untuk menanggapi respon yang kejujurannya terkadang tidak sepaham dengan pikiranku daripada selalu memenuhi apa yang aku inginkan padahal tidak sesuai dengan apa isi hatinya. Aku merasa dibohongi.

Akhirnya aku mengajak suamiku untuk menyampaikan isi hatinya. Sampaikanlah kalau masakanku tidak enak, aku sedang tidak menarik, aku menyebalkan, aku salah menilai sesuatu, aku tidak suka ini, aku tidak suka ini, aku suka itu , atau aku suka ini. Nantinya kita akan berkompromi ketika sedang berupaya memahami sebuah respon untuk nantinya kita bisa saling menerima dan memahami.


Satu contohnya adalah semalam ketika aku mencoba resep baru memasak Tagliatelle Alfredo. Tentu saja ini susah dimasak dan aku minta pendapat suamiku. Dia suka ketakutan kalau komentar bahwa masakannya kurang enak. Tapi semalam dia keren banget dan bisa bilang apa adanya kurang manis masakannya. Lalu aku pasti ada momen manyun sesaat (karena merasa aku belum bisa jadi Jamie Oliver hihihi) tapi aku langsung gegap gempita memperbaiki rasa masakan itu atas masukan suamiku. Apa hasilnya, kami makan dengan lahap atas rasa yang pas penuh cinta kasih dengan bumbu saling memahami dan menerima …… *elus elus perut

Monday, November 4, 2013

Otakmu, Otakku, Otak Kita .. Ayo makan Otak Otak

Ada hal yang baru dan lagi heboh dilakukan khalayak beberapa hari terakhir ini, TES OTAK. Menarik? ya ini bisa dibilang menarik karena kami satu keluarga juga tertarik untuk melakukan test ini.
Kami merujuk pada satu website yang menawarkan test ini : http://sommer-sommer.com/braintest/ .
Jadi ini si Sommer's Brother pemilik agency terbesar yang mengawali usahanya hanya berdua kakak beradik tanpa staff dan tanpa modal, memiliki keyakinan akan kinerja otak yang mampu menjadi tumpuan kesuksesan. Katanya begini :

“Bridging the gap between strategy 
  and creativity is key to successful 
  brand communications.”



  A philosophy both Sommer brothers believe in – 
  Leonard and Gordon.


Syukurlah ketika melewati test itu, hasil milikku adalah begini :




Menurut penjelasannya :

OTAK KIRI
logika, peraturan, strategi, kecerdasan

OTAK KANAN
intuisi, perasaan, kreatifitas, perasaan

Lengkapnya bisa dibaca sendiri di pembahasan web tersebut tapi yang aku syukuri adalah hasil dari test otak itu entah validitasnya berapa persen tapi itu seimbang. 

Beberapa tahun lalu aku diajari untuk menyeimbangkan antara perasaan dan logika. Rasanya juga sulit sekali untuk mengajak otakku diam sejenak ketika rasa dan logika bergejolak lalu menstabilkannya dan kemudian itu menjadi kebiasaan. Berhasil? mungkin tes otak itu menunjukkan aku berhasil tapi pada kehidupan sehari - hari aku masih kesulitan atau masih punya perang yang harus aku damaikan atau aku seimbangkan. Tetap tidak ada yang sempurna yakan yakan?!?! heheehe. 

Apa sih keuntungannya kalau otak kita seimbang? ini menurut pemahaman aku. Kita ambil saja contoh ketika aku ada di bisnis furniture milik papa yang katanya (entah papa rela atau tidak) suatu saat nanti diwariskan ke anak - anaknya. Dalam sebuah bisnis harus ada keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan. Nah, setelah di test otak … si papa ini otak kiri jauh lebih tinggi dari otak kanan. No wonder ya 27 tahun perusahaan ini berdiri biaya yang dikeluarkan seimbang dengan pemasukannya :) artinya kalau kata cina ini bisnis panas, kurang untung.

Ketika kita bisa membuat satu produk, mengupayakan kualitas, dengan kecerdasan, dan strategi …. itu tidak cukup. Kita juga harus memahami pasar dengan perasaan, intuisi, dan memberi masukan inovasi atas produk tersebut serta terus mengasah kreatifitas dalam mengembangkan produk. Maka, keseimbangan itu akan mengarah pada suatu harapan kesuksesan.

Tapi ya sekali lagi entahlah validitas test otak ini bagaimana … mungkin kalau aku tau Donald Trump itu equally use his brain, baru aku percaya :)

Wednesday, October 23, 2013

Stop Labeling!


Aku baru saja ditegur karena memberi label atas suatu kejadian. Iya, aku memberi label orang – orang yang mengunduh aplikasi blackberry di ios atau android itu ngga asik, aneh, labil, dan ngga bisa move on. Astadjim, aku nyinyir. Lalu aku lirik juga top favorit download di apple store dan blackberry menjadi 10 besar jumlah pengunduhnya. Hmmmm … baiklah ternyata mainstream *eh kok labelin lagi… Padahal ya, belum lama juga ada quotes  yang aku sampaikan di social media Path bunyinya begini :

Nah, bisa membayangkan kan bagaimana malunya? Selain malu aku mati - matian introspeksi diri. Perut rasanya mual, kepala nyut nyutan, dan rasanya nafsu makan hilang. Cukup drastis kan efek malu ini ... mungkin juga kalau dalam setahun kedepan aku langsing, pasti karena sering malu. Mau introspeksi diri itu rasanya juga tidak mudah karena emosi dan kesadaran diri itu perang sodara didalam otak. Akhirnya aku putuskan untuk diam sejenak. 

Kemudian siang ini ada video yang mengusik hati dan mendukung aku untuk menulis ini :

Dalam video ini kita diberi gambaran bahwa kita tidak bangga terhadap diri kita sendiri karena terlalu banyaknya label yang diberikan oleh kehidupan kita cantik itu putih, pintar itu pakai kacamata, dengerin lagu dangdut itu norak, beli sandal crocs itu alay, keren itu langsing, iphone itu eksklusif, dan lain sebagainya. Padahal masih ada penilaian obyektif yang bisa membangun dan membuat kita tidak rendah diri. Lalu, kenapa aku tidak menjadi 1 orang saja yang mendukung pemikiran obyektif itu untuk mengajak orang lain menjadi bangga akan apa yang dimiliki dan diyakini. 

Jadi, mulai dua hari yang lalu aku mundur sejenak dari sosial media. Berusaha memahami diriku, belajar untuk diam dan tidak nyinyir memberi label tapi lebih menerima orang lain apa adanya. Tidak hanya supaya orang lain itu tidak rendah diri, aku pun juga perlu belajar untuk bangga akan apa yang aku miliki. 

Jadi ya berat juga lho ya tantangan ini padahal kan aku suka banget ngatain orang norak, alay, kimcil, wagu, nggak asik, mainstream, kampungan, nggak smart, balungan gajah, bitch, dan label label kasar, sinis, serta jahat lainnya. Entahlah nanti bakal bertahan sampai kapan tapi aku mengakui kalau sikapku ini tidak baik dan dengan senang hati mencoba memperbaikinya.