Kemarin akhir pekan kami kedatangan mbah dukun. Aku dan
suamiku seperti pasangan suami istri yang sedang kepayahan dan konsultasi
kepada dukun. Kusebut mbah dukun karena dia adalah tempat belajar suamiku untuk
memahami hidup hanya saja sekarang dia berubah dengan pengetahuan spiritual kejawen nya beserta batu akik dan argon
serta ilmu pellet yang membuatku berkhayal dia seperti mbah dukun. Tapi tentu
saja dia bukan dukun, karena kami tidak belajar cari pesugihan dari dia, kami
hanya ingin berbagi cerita dan sedikit banyak memberi masukan dalam rumah
tangga kami untuk memahami satu sama lain.
Aku terinspirasi salah satu kalimatnya, “kalau kamu menuntut
kebenaran, kamu harus siap dengan jawabannya…” Betul juga pikiran dia, batinku
dalam hati. Aku adalah anak yang dididik dan ditempa untuk sebuah keterbukaan
dan diterima atas kebebasan tanggung jawab yang aku pilih. Itu sama aja aku
berharap ketika aku tanya “aku cantik nggak?” dan aku berharap jawabannya “iya”
tapi ternyata jawabannya “tidak”. Itu artinya aku harus menerima secara terbuka
bahwa mungkin aku tidak naturally born
beautiful, aku salah pake make up, atau selera orang yang bilang aku tidak
cantik itu jelek hahahahaha ….
Satu hal yang mengusik antara aku dan suamiku itu adalah
ketika dia menghindari untuk mengatakan sejujurnya agar supaya lawan bicaranya
bahagia atas jawabannya. Sedangkan aku lebih suka orang berkata apa adanya
menanggapi segala sesuatu meskipun nanti aku sedikit kesulitan untuk menerima
jawaban yang tidak sesuai dengan harapanku atau sebagai bonusnya aku akan
sangat bersyukur ketika jawabannya sepaham dengan pikiranku. Tapi, aku lebih
suka tertantang untuk menanggapi respon yang kejujurannya terkadang tidak
sepaham dengan pikiranku daripada selalu memenuhi apa yang aku inginkan padahal
tidak sesuai dengan apa isi hatinya. Aku merasa dibohongi.
Akhirnya aku mengajak suamiku untuk menyampaikan isi
hatinya. Sampaikanlah kalau masakanku tidak enak, aku sedang tidak menarik, aku
menyebalkan, aku salah menilai sesuatu, aku tidak suka ini, aku tidak suka ini,
aku suka itu , atau aku suka ini. Nantinya kita akan berkompromi ketika sedang
berupaya memahami sebuah respon untuk nantinya kita bisa saling menerima dan
memahami.
Satu contohnya adalah semalam ketika aku mencoba resep baru
memasak Tagliatelle Alfredo. Tentu saja ini susah dimasak dan aku minta
pendapat suamiku. Dia suka ketakutan kalau komentar bahwa masakannya kurang
enak. Tapi semalam dia keren banget dan bisa bilang apa adanya kurang manis
masakannya. Lalu aku pasti ada momen manyun
sesaat (karena merasa aku belum bisa jadi Jamie Oliver hihihi) tapi aku
langsung gegap gempita memperbaiki rasa masakan itu atas masukan suamiku. Apa
hasilnya, kami makan dengan lahap atas rasa yang pas penuh cinta kasih dengan
bumbu saling memahami dan menerima …… *elus elus perut

No comments:
Post a Comment