Adalah Putri Raya, demikian ayahnya memberi nama kelak dia
akan menjadi yang maha mengerti seisi jagat raya ini. Putri Raya, sebagaimana
seorang putri… begitulah kehidupan seorang Putri, klise dengan segala senang
dan riangnya. Sehari – harinya dihabiskan bermain – main dengan kesenangannya,
bersama sahabatnya, Peri Pine.
Sampai pada suatu hari, kerajaan Putri Raya diserang musuh
dan disaat yang sama, sahabat Putri Raya memilih untuk pergi dan meninggalkan
Putri Raya. Seperti malam yang tidak ada akhirnya, hanya kesedihan yang
dirasakan. Kerajaan tempat Putri Raya bermain, tak lagi menjadi Istana yang
indah, taman yang indah pun tak lagi menjadi favorit untuk duduk dan memandang
alam semesta. Tidak ada lagi tawa dan senyum di wajah Putri Raya, sungguh
menyedihkan mengingat Putri Raya sangatlah ceria dan penuh canda. Kehadirannya
selalu memberi kebahagiaan dayang – dayang, pujangga kerajaan, juga rakyat
sekitarnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Raja Kum, melihat
putrinya demikian, terlebih kerajaannya pun juga terkalahkan musuh. Selain
prihatin atas kondisi kerajaan dan rakyatnya, tentu saja kesedihan Putri Raya
menjadi perhatian utama Raja Kum. Sudah berhari – hari Putri Raya tidak
menyuapkan makanan favoritnya, tidak mau keluar kamar, dan masih tak ada senyum
diwajahnya. Raja Kum yang putus asa bertanya kepada Putri Raya, “apa yang bisa
aku lakukan untuk menyudahi sedihmu, putriku?” dan tak lama kemudian Putri Raya
menyahut lirih “Aku hanya tidak ingin merasa sedih yang sesakit ini, Ayahanda”
Maka dibangunnya lah kerajaan berbenteng tinggi dan tebal
oleh Raja Kum, lengkap dengan dayang – dayang dan binatang – binatang kesukaan
Putri Raya, tentu saja dihiasi dengan taman yang indah untuk tempat favoritnya,
menikmati alam semesta. Dengan demikian, harapnya … Putri Raya tidak akan
merasa sakit akan sedihnya lagi.
Pada suatu hari, Pangeran Daman sedang berburu di hutan.
Sedikit jauh dari wilayah kekuasaan kerajaannya sampai keasyikannya berburu
membuatnya tak sengaja menemukan bangungan mirip dengan istana, dengan benteng
yang besar dan tebal, nyaris menutupi isi bangunan itu. Dari luar lamat – lamat
Pangeran Daman hanya mendengar senandung gadis – gadis dengan suara merdu, dan
gelak canda tawa yang lirih dari dalam bangunan kastil nan megah itu.
Sama sekali tidak ada celah yang memungkinkan Pangeran Daman
untuk masuk, dan benteng yang kokoh itu juga tidak memungkinkan untuk ditembus.
Maka ditulisnya dalam secarik kertas dan dilemparkannya kedalam benteng
tersebut dengan harapan, akan sebuah jawaban.
Putri Raya saat itu yang sedang bercerita, bernyanyi, dan
bercanda bersama dayang – dayang, terkejut melihat ada bongkah batu yang
ditutup kertas jatuh dari atas. Pelan – pelan Putri Raya membuka kertas itu dan
membaca pesan disitu. Penuh rasa takut, merasa terancam, dan kuatir aka nada
serangan dari luar, Putri Raya melihat tulisan sapaan dari Pangeran Daman
menanyakan siapa gerangan yang ada didalam dan memuji senandung lagu yang
dinyanyikan Putri Raya bersama dayang – dayang. Sedikit ragu, Putri Raya
mengambil pena dan menuliskan balasan kertas itu, memperkenalkan dirinya, dan
mengucapkan terima kasih atas pujian yang diberikan.
Ternyata percakapan unik itu mengawali pertemanan pertama
kali Putri Raya dengan Pangeran Daman setelah mengurung diri selama ini. Sampai
pada akhirnya Pangeran Daman, meminta Putri Raya untuk membuka benteng kokoh
itu dan membiarkan Pangeran Daman untuk masuk. Putri Raya dengan lembut
menjelaskan ketakutannya akan dunia diluar, dengan rasa sakit akan sedih, dan bagaimana
benteng kokoh ini dibangun untuk menghalau ketakutannya itu oleh Raja Kum, sang
Ayah.
Tidak menyerah, demikian Pangeran Daman membalas pernyataan
Putri Raya, menceritakan betapa indahnya dunia diluar benteng kokoh itu dan
rasa sakit akan sedih itu hanya bagian dari perjalanan yang akan mengindahkan
hidup. Dengan itu Pangeran Daman berjanji menunjukkan kesetiaannya kepada Putri
Raya, menjanjikannya kebersamaan dengan mencoba sendiri menggempur benteng yang
kokoh itu. Tentu saja hal ini menjadi ancaman untuk Putri Raya, meski disisi
lain dia merasa bahagia atas kehadiran Pangeran Daman menjadi sahabat yang
menyenangkan, namun ketakutannya tak terbendung juga mengkhuatirkan apa yang
akan terjadi nanti.
Selama Pangeran Daman berupaya menggempur benteng yang kokoh
itu, tak hentinya mereka saling bercerita, saling meyakinkan dan menguatkan,
bahwa segalanya akan indah sampai nanti mereka akan bertemu. Putri Raya dengan
sabar, mencoba merelakan benteng yang kokoh itu runtuh perlahan dan
mempersiapkan hatinya untuk segera bertemu pangeran Daman untuk dapat bersama
menikmati tantangan hidup. Dalam hati Putri Raya berpikir, jika memang Pangeran
Daman berhasil menggempur benteng itu, maka laiklah ia mendapatkan hati dan
kepercayaan Putri Raya.
Pastinya lah ada rasa lelah dan keinginan untuk menyerah
dibenak Pangeran Daman, namun niatnya tak mengalahkan dua hal itu. Sampai pada
batu terakhir yang membatasi dia dan Putri Raya, akhirnya Pangeran Daman
berhasil menembus benteng yang kokoh itu. Keyakinannya terjawab karena Putri
Raya pun dengan setia menunggunya selama merobohkan benteng itu. Paras dan
senyumnya serta pancaran kebaikannya sudah cukup menghilangkan peluh dan lelah
Pangeran Daman.
I hope, one day you'll understand as me trying to understand
for there is no one can replace another anyone
for when there is no hope for tomorrow, I must myself embrace the morning
for the loved once and and the hatred
for the hurt and the cure
for doing not for promises