instagram

Pages

Showing posts with label reading. Show all posts
Showing posts with label reading. Show all posts

Monday, February 23, 2015

Paman Ngemal  Bibi Ngemil

Seperti layaknya fase hidup, ada suatu momen dimana kita mulai pindah dari tempat bujang kita kemudian menyatu bersama pasangan dalam bahtera rumah tangga baru *halah … Nah, berawal dari ide ini dan bagaimana bahagianya saya menemukan pasangan hidup yang mendukung hobi traveling, eating, sharing, and cooking kami kemudian mulai mendokumentasi perjalanan kami dari cerita - cerita tersebut. Karena suka bilang, "ayo ngemil!" tanpa kenal waktu dan selalu punya stok camilan di keranjang piknik kami, maka jadilah dia Paman Ngemal dan aku Bibi Ngemil ….. lalu kami sebut seluruh dokumentasi perjalanan dan hobi kami NgemalNgemil.

Senang rasanya ketika mulai memberi referensi perjalanan, makanan, resep masakan, sharing hidup, dan beberapa tulisan inspiratif lainnya, kami mendapat tanggapan positif dari teman - teman semua. Mulai dari yang kemudian mencurahkan isi hatinya, mencoba resep masakan, mendapatkan ide kencan dengan kecengan baru nya, mencoba kuliner ini itu, dan mulai memberi semangat kami untuk terus berbagi. Harapan kami, Paman Ngemal dan Bibi Ngemil, adalah … kami ingin wadah www.ngemalngemil.wordpress.com ini menjadi tujuan teman - teman semua untuk memberi referensi rasa, cinta, dan rock n roll :)

Let's move to our new house




Friday, January 17, 2014

Samuel Mulia : Mari Menyaring

Nemu artikel Samuel Mulia, Parodi Kompas Minggu (lupa tanggal berapa) ….

***


Sekitar satu bulan yang lalu saya bersama rekan sejawat mengurus surat-surat untuk sebuah keperluan. Kami mendapat waktu janji temu dengan pihak pengurus surat-surat itu pada Senin pukul 11 siang. Saat saya sudah menyiapkan diri dan siap berangkat, teman sejawat saya memberitahu secara mendadak, kalau giliran saya adalah hari Kamis, bukan hari Senin.
Kalau soal masalah menjadi jengkel, sudah tak perlu digubris. Hidup kan cuma habis jengkel terbitlah tidak jengkel, setelah tidak jengkel terbitlah jengkel.
Cuek saja
Keesokan harinya saya bertemu dengan teman sejawat itu. Saya bertanya bagaimana pertemuannya. ”Resek, Mas. Ditanyain segala macam. Yang inilah, yang itulah. Pokoknya gengges (kata lain dari mengganggu).” Ucapannya itu masuk ke dalam pikiran saya. Dan kebetulan saya ini orang yang kalau sudah mendengar yang negatif, langsung stres. Kepikiran sampai hari Kamis. Apa gerangan yang akan terjadi dengan saya nanti? Dan sebalnya saya sendirian saja. Coba hari Senin, kan bisa berdua. Jauh lebih enak bersama-sama menghadapi orang yang gengges plus resek.
Maka tibalah hari Kamis. Singkat cerita, saya tak mengalami apa yang dialami teman sejawat saya. Ia berhadapan selama kurang dari lima belas menit, saya hanya kurang dari lima menit. Tak ada yang resek, tak ada yang gengges. Sepulang dari urusan itu, saya mulai berpikir. Selama ini saya mendengarkan orang lebih banyak ketimbang menyaring apa yang saya dengar. Kejadian di atas menunjukkan orang bisa saja ke tempat yang sama, berhadapan dengan permasalahan yang sama, tetapi menelurkan hasil yang berbeda. Maka dari itu, masukan itu kadang perlu disaring.
Di Twitter saya membaca banyak bahan pembicaraan. Dari yang berbau politik sampai urusan film. Sejujurnya saya ingin turut berkomentar, tetapi nurani saya memeringati agar sebaiknya tidak dilakukan karena apa yang saya tulis bisa jadi masukan yang baik, tetapi bisa jadi dipergunakan orang lain untuk mengadu domba.
Belum memikirkan yang salah mengartikan apa yang terkandung dalam komentar yang akan saya buat, dan meneruskan yang salah dimengerti itu kepada orang lain. Maka bencana akan pasti terjadi. Dan sejujurnya, dengan sejuta alasan, beberapa manusia senang kalau bencana itu terjadi. Apalagi tak semua orang suka dengan saya dan tak semua orang mau menjadi malaikat. Salah. Semua mau menjadi malaikat. Yang satu mau jadi malaikat pencabut nyawa, yang lain mau menjadi malaikat surgawi.
Egois, dan pengecut pula
Jadi menyaring bukan saja dilakukan ketika mendengar masukan dari orang lain, tetapi ketika saya mengeluarkan pandangan-pandangan ke ruang publik. Maka menyaring memerlukan kepekaan nurani yang dalam, dan tidak di bawah pengaruh emosi sesaat. Seperti begitu banyak hoax yang dikirimkan ke BBM Anda dan saya yang kadang membuat deg-degan, misalnya. Itu hanya sebuah contoh bagaimana yang eksternal itu bisa saja menggoyangkan iman, tetapi masalah utamanya saya dan Anda harus melatih dengan rajin untuk belajar menyaring.
Dua hari sebelum tenggat waktu mengirimkan tulisan ini, saya menengok orang sakit. Istrinya berdoa minta kepada Tuhan supaya suaminya boleh sembuh. Gara-gara percakapan dengan istrinya itu, di perjalanan pulang saya jadi mengevaluasi doa-doa yang saya panjatkan kepada Yang Mahaesa itu. Benarkah saya ini sudah menyaring dengan benar apa yang saya ajukan di dalam doa?
Mengapa konten dari doa saya cuma begitu-begitu saja? Kalau tak minta kaya, minta kondang, sehat, enteng jodoh, panjang umur, punya anak. Konten doa saya sangat mencitrakan doa seorang pengecut dan manusia yang mau menang sendiri?
Kalau misalkan pasangan saya sakit keras dan sekarat, apakah doa saya akan berakhir minta sembuh? Mengapa saya minta sembuh? Karena saya tak mau kehilangan. Padahal saya tahu manusia itu kalau enggak sekarang, sekian hari, menit, bulan, tahun kemudian, yaa...pasti game over.
Doa saya adalah doa seorang pengecut. Kontennya hanya melulu menyenangkan saya, tetapi tak berani menyenangkan Sang Pemilik. Nurani saya nyamber. ”Minta melulu. Dari kecil, remaja, dewasa, tua, mintaaaa...melulu. Kapan mau memberi, Bung!” Nanti kan saya bernyanyi nyaring seperti ini. ”Yaaa...saya kan boleh dong minta sama Tuhan. Namanya juga manusia.”
Kalau pasangan saya meninggal, terus kenapa? Apakah saya akan bertanya kepada diri sendiri, untuk apalagi saya hidup, lah wong pasangan saya sudah tidak ada? Tidakkah saya bisa sebentar saja berpikir bahwa saya sudah diberi kesempatan hidup bersama sekian belas atau puluh tahun, yaa...cukup adil bukan kalau sekarang tak bisa bersama lagi? Kan saya dan Anda tahu, tak ada pesta yang tak pernah usai, bukan?
Saya ini cuma berani memiliki, tapi takut kehilangan. Sama seperti kalimat yang selalu saya ucapkan, kalau saya ini ingin masuk surga tapi tak mau mati. Maka menyaring permintaan dalam doa itu penting, tak hanya untuk mengurangi doa-doa egois, tetapi juga menghindari kemungkinan menjadi pengecut.

Monday, January 13, 2014

Ya Sudahlah yaaaaaa …..

Jantungku berdegup kencang dan sedikit sakit. Nafasku tersengal seperti tidak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutku. Badanku bergetar dan tanganku mengepal serasa ingin menghantam. Wajahku panas persis seperti karakter komik yang memerah karena amarah. Mataku buram tertutup air mata yang juga ingin memecahkan suasana dan mendukung gemparnya…

amarah

Akhirnya kepalaku sakit, perutku mulas konstipasi, nafasku sesak seperti Asthma, dan akhirnya kencingku berdarah. Ya, aku sedang marah sampai sampai pada akhirnya ini berpengaruh pada tubuhku. Ya tepat! Aku terlampau marah sampai tubuhku tak lagi bisa menerima dan melampiaskannya  pada efek - efek samping sakit yang tidak biasa bin ajaib ini.





Seminggu kemarin aku diajak belajar sama alam semesta. Aku diajak belajar mengolah semangat, amarah, dan menerima. Sebenernya ajaran ini sudah berulang kali diajarkan, tapi mungkin aku kelewat bengal atau goblok, tetep aja gagal paham. Tapi aku mau agak congkak sedikit, karena kupikir seminggu kemarin sudah kulalui dengan penuh gejolak tapi pada akhirnya aku paham dan bisa menerima. 

REMUK

Hoooo ya remuk pastinya, ketika seseorang punya harapan sesuatu dan harapan itu sirna. Seperti patah hati yang belum bikin mati tapi ya lumayan remuk. Rasa tidak terima, kecewa, gemes, marah, bingung, dan frustasi akan jadi perpaduan bumbu yang pas dalam segala bentuk amarah. Njuk aku kudu piye aku bingung! Gimana sih caranya menanggulangi rasa ini ketika kenyataan tidak sesuai dengan realita? *akukudupiye

Pilihan 1

Tentunya banyak orang yang mengusulkan untuk berdoa! minta pada Tuhamu maka kau akan diberi HALLLEEELUYAHHHH! helah! kayak Tuhan itu pembantu …. "Tuhan! bikinin minum" … "Tuhan! minta duit!" ….. tapi ya tidak ada salahnya minta pada Tuhan, siapa tau kuatnya sinergi antara doa dan semangat bisa berbentuk pada keajaiban, karena seluruh kekuatan terbesar ada padaNya … aku percaya itu! Asaaaaaaalllll ya tetep musti bisa rela, ketika Tuhan yang dipuja berbagai cara dan dipanggil dengan berbagai nama ini dengan seenak jidatnya melakukan manuver lain - lain memberikan sesuatu yang tidak kita inginkan tapi yang kita butuhkan. Ya sudahhhhlaaahh ya terima aja!

Pilihan 2

Sadar diri aja kalau hidup itu naik turun dan bentuk semangat itu seperti merelakan apapun yang terjadi dalam hidup ini. Dengan demikian, apapun harapannya kita sudah sadar jawabannya bisa iya dan tidak, tinggal diterima aja, karena ini pasti yang terbaik. Ya sudaaahhh laaahhh yaaa terima aja!

Pada intinya, semua orang punya caranya sendiri untuk bersemangat dan menjadikan faktor lain untuk menambah semangat dalam mencapai sesuatu atau berharap akan sesuatu. Mereka hanya sering lupa atau tidak terima atas apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan keinginan mereka. Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi proses remuknya itu? yaaaaa… kalau aku sih sedang belajar menghadapi, menerima, memahami, dan kencing berdarah …. sampai akhirnya … yaaaaa sudahhhlaaahh yaaaaa terima aja!


I do really thank the coincidence of universe for bringing me to watch RUSH the movie as I learn about encouragement and acceptance and to Samuel Mulia for writing "Ya sudahlah ya" article on Kompas, Sunday, 12 January 2014 as I learn about managing my encouragement and acceptance. *isep ganja*











Monday, September 2, 2013

Benteng Putri Raya


Adalah Putri Raya, demikian ayahnya memberi nama kelak dia akan menjadi yang maha mengerti seisi jagat raya ini. Putri Raya, sebagaimana seorang putri… begitulah kehidupan seorang Putri, klise dengan segala senang dan riangnya. Sehari – harinya dihabiskan bermain – main dengan kesenangannya, bersama sahabatnya, Peri Pine.

Sampai pada suatu hari, kerajaan Putri Raya diserang musuh dan disaat yang sama, sahabat Putri Raya memilih untuk pergi dan meninggalkan Putri Raya. Seperti malam yang tidak ada akhirnya, hanya kesedihan yang dirasakan. Kerajaan tempat Putri Raya bermain, tak lagi menjadi Istana yang indah, taman yang indah pun tak lagi menjadi favorit untuk duduk dan memandang alam semesta. Tidak ada lagi tawa dan senyum di wajah Putri Raya, sungguh menyedihkan mengingat Putri Raya sangatlah ceria dan penuh canda. Kehadirannya selalu memberi kebahagiaan dayang – dayang, pujangga kerajaan, juga rakyat sekitarnya.

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Raja Kum, melihat putrinya demikian, terlebih kerajaannya pun juga terkalahkan musuh. Selain prihatin atas kondisi kerajaan dan rakyatnya, tentu saja kesedihan Putri Raya menjadi perhatian utama Raja Kum. Sudah berhari – hari Putri Raya tidak menyuapkan makanan favoritnya, tidak mau keluar kamar, dan masih tak ada senyum diwajahnya. Raja Kum yang putus asa bertanya kepada Putri Raya, “apa yang bisa aku lakukan untuk menyudahi sedihmu, putriku?” dan tak lama kemudian Putri Raya menyahut lirih “Aku hanya tidak ingin merasa sedih yang sesakit ini, Ayahanda”

Maka dibangunnya lah kerajaan berbenteng tinggi dan tebal oleh Raja Kum, lengkap dengan dayang – dayang dan binatang – binatang kesukaan Putri Raya, tentu saja dihiasi dengan taman yang indah untuk tempat favoritnya, menikmati alam semesta. Dengan demikian, harapnya … Putri Raya tidak akan merasa sakit akan sedihnya lagi.

Pada suatu hari, Pangeran Daman sedang berburu di hutan. Sedikit jauh dari wilayah kekuasaan kerajaannya sampai keasyikannya berburu membuatnya tak sengaja menemukan bangungan mirip dengan istana, dengan benteng yang besar dan tebal, nyaris menutupi isi bangunan itu. Dari luar lamat – lamat Pangeran Daman hanya mendengar senandung gadis – gadis dengan suara merdu, dan gelak canda tawa yang lirih dari dalam bangunan kastil nan megah itu.

Sama sekali tidak ada celah yang memungkinkan Pangeran Daman untuk masuk, dan benteng yang kokoh itu juga tidak memungkinkan untuk ditembus. Maka ditulisnya dalam secarik kertas dan dilemparkannya kedalam benteng tersebut dengan harapan, akan sebuah jawaban.

Putri Raya saat itu yang sedang bercerita, bernyanyi, dan bercanda bersama dayang – dayang, terkejut melihat ada bongkah batu yang ditutup kertas jatuh dari atas. Pelan – pelan Putri Raya membuka kertas itu dan membaca pesan disitu. Penuh rasa takut, merasa terancam, dan kuatir aka nada serangan dari luar, Putri Raya melihat tulisan sapaan dari Pangeran Daman menanyakan siapa gerangan yang ada didalam dan memuji senandung lagu yang dinyanyikan Putri Raya bersama dayang – dayang. Sedikit ragu, Putri Raya mengambil pena dan menuliskan balasan kertas itu, memperkenalkan dirinya, dan mengucapkan terima kasih atas pujian yang diberikan.

Ternyata percakapan unik itu mengawali pertemanan pertama kali Putri Raya dengan Pangeran Daman setelah mengurung diri selama ini. Sampai pada akhirnya Pangeran Daman, meminta Putri Raya untuk membuka benteng kokoh itu dan membiarkan Pangeran Daman untuk masuk. Putri Raya dengan lembut menjelaskan ketakutannya akan dunia diluar, dengan rasa sakit akan sedih, dan bagaimana benteng kokoh ini dibangun untuk menghalau ketakutannya itu oleh Raja Kum, sang Ayah.

Tidak menyerah, demikian Pangeran Daman membalas pernyataan Putri Raya, menceritakan betapa indahnya dunia diluar benteng kokoh itu dan rasa sakit akan sedih itu hanya bagian dari perjalanan yang akan mengindahkan hidup. Dengan itu Pangeran Daman berjanji menunjukkan kesetiaannya kepada Putri Raya, menjanjikannya kebersamaan dengan mencoba sendiri menggempur benteng yang kokoh itu. Tentu saja hal ini menjadi ancaman untuk Putri Raya, meski disisi lain dia merasa bahagia atas kehadiran Pangeran Daman menjadi sahabat yang menyenangkan, namun ketakutannya tak terbendung juga mengkhuatirkan apa yang akan terjadi nanti.

Selama Pangeran Daman berupaya menggempur benteng yang kokoh itu, tak hentinya mereka saling bercerita, saling meyakinkan dan menguatkan, bahwa segalanya akan indah sampai nanti mereka akan bertemu. Putri Raya dengan sabar, mencoba merelakan benteng yang kokoh itu runtuh perlahan dan mempersiapkan hatinya untuk segera bertemu pangeran Daman untuk dapat bersama menikmati tantangan hidup. Dalam hati Putri Raya berpikir, jika memang Pangeran Daman berhasil menggempur benteng itu, maka laiklah ia mendapatkan hati dan kepercayaan Putri Raya.

Pastinya lah ada rasa lelah dan keinginan untuk menyerah dibenak Pangeran Daman, namun niatnya tak mengalahkan dua hal itu. Sampai pada batu terakhir yang membatasi dia dan Putri Raya, akhirnya Pangeran Daman berhasil menembus benteng yang kokoh itu. Keyakinannya terjawab karena Putri Raya pun dengan setia menunggunya selama merobohkan benteng itu. Paras dan senyumnya serta pancaran kebaikannya sudah cukup menghilangkan peluh dan lelah Pangeran Daman.




I hope, one day you'll understand as me trying to understand
for there is no one can replace another anyone
for when there is no hope for tomorrow, I must myself embrace the morning
for the loved once and and the hatred
for the hurt and the cure
for doing not for promises

Friday, July 26, 2013

Mood of The Day : Dream Catcher

Somebody! please buy me a dream catcher ..... 

I chose my mood of welcoming August in a dream catcher; a symbol of protection from any harm originated from the Indians. I feel so insecure right now ......