I might have thousands reasons to fall in Evil's enjoyment, but surely I choose the pathetic wise decision of an Angel
- Stella Amirta -
Kadang aku suka bingung sama hidup, karena menurutku tidak ada ilmu pasti dalam kehidupan. Bagiku semuanya penuh dengan ketidak pastian. Seperti disuguhi makanan dalam box tertutup di sebuah arisan, makanannya sama, tapi ekspresi orang beda – beda menikmatinya. Ada yang merasa itu enak, tidak enak, kurang matang, dan aneka persepsi mereka. Lalu, menjadikan semuanya tidak pasti sebenarnya makanan itu penilaiannya apa?
Kemudian dalam hidup kadang kita juga disuguhi pilihan yang sulit. Pilihan yang memiliki resiko dan persepsi yang berbeda, pilihan yang terkesan jahat namun untuk kebaikan, terkesan baik atau menyusahkan, dan berbagai macam kemungkinan lainnya. Intinya hanya satu, keyakinan dan siap menerima resikonya. Misalkan nih, satu kisah temen yang suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Si sahabat dan suami itu punya harapan bahwa si istri akan menerima hubungan mereka untuk poligami dengan alasan poligami itu legal dan poligami itu sama mudahnya dengan membagi cinta kepada 2 istri dengan 2 anak – anak mereka. *after I heard this story I screamed s**t on it! Ya, itu dia, persepsi orang beda – beda, intelektualitas juga berpengaruh, latar belakang, dan berbagai factor yang mempengaruhi sebuah pemikiran. Anyway, my friend refused to agree polygamy and she asked divorce right away. Cuman, pikiran nakal nih ya … kalo poligami semudah itu pemahamannya, berarti dalam suatu keluarga bisa terdiri dari 5 ayah dan 5 ibu dan lalu, lalu, lalu, pembicaraan ini tidak akan pernah usai.
Untuk aku, ketika aku dihadapkan pilihan yang sulit, sebenarnya suara hatiku membantu aku untuk memutuskan. Kadang pilihan yang enak itu belum tentu baik dan pilihan yang baik itu belum tentu enak. Tinggal bertanya pada hati nurani aja kalo kasusnya begini. Coba sekarang, raise this question for me “ Stella, maukah kamu jadi simpanan suami orang? “ aku akan segera menjawab, “meski si suami orang ini adalah orang yang aku cintai dengan segala kelebihannya dan kekurangannya, namun ketika dia tidak memperjuangkan cinta aku dan dia untuk lebih memilih menikahi orang lain apapun alasannya, maka aku akan memberikan ciuman terindah sebagai ucapan perpisahan, sedikit patah hati karena kehilangan dia, namun aku bahagia karena aku tidak menyakiti siapapun terlebih istrinya. “ Rasa - rasanya, moralku masih berbicara, hatiku juga masih bisa diajak berlogika, dan menurut tingkat intelektualitasku, aku tidak mau harga diriku diinjak - injak hanya sebagai simpanan saja. Meski aku yakin, berat rasanya meninggalkan orang yang sebenernya kita cintai, tapi karna suatu kondisi dan situasi, rasanya berpisah adalah yang terbaik ..... *do I sound like I experience this situation?!?