instagram

Pages

Wednesday, December 11, 2013

Iya atau tidak?

Kemarin akhir pekan kami kedatangan mbah dukun. Aku dan suamiku seperti pasangan suami istri yang sedang kepayahan dan konsultasi kepada dukun. Kusebut mbah dukun karena dia adalah tempat belajar suamiku untuk memahami hidup hanya saja sekarang dia berubah dengan pengetahuan spiritual kejawen nya beserta batu akik dan argon serta ilmu pellet yang membuatku berkhayal dia seperti mbah dukun. Tapi tentu saja dia bukan dukun, karena kami tidak belajar cari pesugihan dari dia, kami hanya ingin berbagi cerita dan sedikit banyak memberi masukan dalam rumah tangga kami untuk memahami satu sama lain.

Aku terinspirasi salah satu kalimatnya, “kalau kamu menuntut kebenaran, kamu harus siap dengan jawabannya…” Betul juga pikiran dia, batinku dalam hati. Aku adalah anak yang dididik dan ditempa untuk sebuah keterbukaan dan diterima atas kebebasan tanggung jawab yang aku pilih. Itu sama aja aku berharap ketika aku tanya “aku cantik nggak?” dan aku berharap jawabannya “iya” tapi ternyata jawabannya “tidak”. Itu artinya aku harus menerima secara terbuka bahwa mungkin aku tidak naturally born beautiful, aku salah pake make up, atau selera orang yang bilang aku tidak cantik itu jelek hahahahaha ….

Satu hal yang mengusik antara aku dan suamiku itu adalah ketika dia menghindari untuk mengatakan sejujurnya agar supaya lawan bicaranya bahagia atas jawabannya. Sedangkan aku lebih suka orang berkata apa adanya menanggapi segala sesuatu meskipun nanti aku sedikit kesulitan untuk menerima jawaban yang tidak sesuai dengan harapanku atau sebagai bonusnya aku akan sangat bersyukur ketika jawabannya sepaham dengan pikiranku. Tapi, aku lebih suka tertantang untuk menanggapi respon yang kejujurannya terkadang tidak sepaham dengan pikiranku daripada selalu memenuhi apa yang aku inginkan padahal tidak sesuai dengan apa isi hatinya. Aku merasa dibohongi.

Akhirnya aku mengajak suamiku untuk menyampaikan isi hatinya. Sampaikanlah kalau masakanku tidak enak, aku sedang tidak menarik, aku menyebalkan, aku salah menilai sesuatu, aku tidak suka ini, aku tidak suka ini, aku suka itu , atau aku suka ini. Nantinya kita akan berkompromi ketika sedang berupaya memahami sebuah respon untuk nantinya kita bisa saling menerima dan memahami.


Satu contohnya adalah semalam ketika aku mencoba resep baru memasak Tagliatelle Alfredo. Tentu saja ini susah dimasak dan aku minta pendapat suamiku. Dia suka ketakutan kalau komentar bahwa masakannya kurang enak. Tapi semalam dia keren banget dan bisa bilang apa adanya kurang manis masakannya. Lalu aku pasti ada momen manyun sesaat (karena merasa aku belum bisa jadi Jamie Oliver hihihi) tapi aku langsung gegap gempita memperbaiki rasa masakan itu atas masukan suamiku. Apa hasilnya, kami makan dengan lahap atas rasa yang pas penuh cinta kasih dengan bumbu saling memahami dan menerima …… *elus elus perut

Friday, December 6, 2013

Sokola Rimba : Adaptasi yok!

Ayo cerdas supaya bisa adaptasi dengan perubahan 

Kira - kira hanya kata - kata terakhir itu yang aku ingat menyentil rasaku ketika menonton film ini. Bertahun - tahun lalu aku dan keluargaku melihat artikel ini di koran Kompas yang menuliskan perjuangan Butet Manurung di pedalaman Jambi untuk mengajar kepada anak - anak rimba itu. Awalnya aku jatuh iba, tentang aksi sosial ini. Seperti manusia pada umumnya rasa salut dan iba memang yang paling pertama muncul ketika melihat kondisi ini, namun selang waktu membaca bukunya aku juga belajar hal lain, bukan hanya iba, salut, atau prihatin tapi juga memahami dari sisi mengolah semangat untuk menerima perubahan dan menyiasatinya dengan kecerdasan.

Aku tersenyum haru melihat semangat anak - anak rimba ini untuk bisa belajar, beberapa diantara mereka memang punya keinginan besar untuk menjadi cerdas dan pintar tapi juga belum tau kecerdasan itu akan digunakan sebagai apa. Beda dengan Bungo, salah satu anak rimba yang juga semangat belajar dan bersikeras untuk ingin tidak dibodohi atas perubahan jaman yang tidak bisa dihentikan. Kemudian pastinya diikuti dengan harapan mereka nantinya akan bisa beradaptasi dengan perubahan jaman tanpa meninggalkan nilai - nilai budaya dan adat istiadat <------- oh, see that's my words!

Mengingat aku pelupa dan ketika menonton film banyak detil yang sudah tidak menempel di jaring - jaring otakku, hal lain yang aku suka dari film ini adalah filosofi pohon madu. Jadi pohon madu adalah pohon tinggi tanpa ranting yang paling susah dicapai rombongan rimba, begitu mereka menyebut koloni rimba dengan rombongan. Diperlukannya keyakinan pada Tuhan alam semesta, hati yang bersih, dan pikiran yang fokus ketika mencapai puncaknya untuk nantinya mendapatkan sumber madu untuk kehidupan penduduk rimba. Karena puncaknya yang tinggi, dalam perjalanan si pemanjat sering diganggu halusinasi dan digambarkan bahwa halusinasi itu kadang dalam bentuk yang baik dan buruk. Ada yang diganggu setan pohon madu atau binatang yang menyeramkan sebagai simbol keburukan atau sensasi keindahan secara visual sebagai gambaran keindahan. Intinya tetap sama, apapun halusinasi itu bisa yang indah atau yang buruk jika kita tidak bijak menghadapinya, keduanya akan membuat kita jatuh.

Aku teringat seseorang yang mengajarkan aku akan fase kehidupan yang setiap levelnya memberi banyak ujian. Mungkin level - level inilah pijakan - pijakan untuk memanjat pohon madu kehidupan. Kadang dalam hidup kita merasa yang buruk adalah ujian dan mengingatkan kita akan sang pencipta untuk berserah dan memberi kemampuan untuk melewati cobaan. Setelahnya kita lupa, ketika kita sedang diberi kebaikan dalam hidup, kita anggap itu sebagai bonus setelah melewati cobaan, padahal itu cobaan lain dalam bentuk yang lebih manis untuk menguji kita, ingatkah kita untuk berterima kasih pada Tuhan alam semesta.





Monday, December 2, 2013

Monster University : It's OK to be OK

Sebagai bukan penyuka film kartun, aku hanya akan menontonnya ketika suamiku mengajak untuk menikmati makhluk makhluk tidak realis bergambar warna - warni. Awalnya selalu enggan, sejak aku menonton Up dan akhirnya jadi terharu, kemudian nonton WallE yang lalu jadi terinspirasi, akhirnya nonton Monster Inc. dan diikuti Monster University. Betul juga kalau kartun - kartun ini kadang menarik untuk mengendurkan otot - otot yang tegang disertai pelajaran moral yang membuat manggut - manggut lalu berpikir.

Kisah Monster Inc dan Monster University ini membawa aku kembali ke masa lalu. Sejak kecil kita diperkenalkan dengan kompetisi kejuaraan, demikian juga aku. Mulai dari juara lomba lukis, mewarnai, gerak dan lagu, sampai makan krupuk, juga lari karung, dan berbagai macam lainnya. Secara obyektif aku ini anak yang minderan dan terlalu sensitif sehingga kompetisi - kompetisi itu juga mempengaruhi caraku untuk berpikir memahami ambisi untuk menang. Dulu rasanya terluka sampai menusuk hati waktu sepupu - sepupu selalu juara 1, 2, dan 3 … lalu aku mentok di 10 besar jadi selalu saja tidak bisa mengambil senyum bangga Eyang Kakung dan Putri. Walaupun tetap diberi salam tempel, rasanya kurang puas menjadi juara.

Beranjak dewasa atau menua menurutku, karena dewasa tampak terlalu berat, aku menjadi anak yang selalu bekerja keras dan dicambuk ambisi untuk mencapai sesuatu. Aku bukan anak yang bisa dengan mudahnya bilang "it's ok! to be ok!' Kemudian Mike Wazowski salah satu tokoh utama di Monster University mengajakku belajar untuk berjuang dan menerima. Tentu saja aku bukan orang yang mudah menerima toh aku tumbuh untuk selalu menjadi mandiri, juara, dan kompetitif.

Mike Wazowski selalu bermimpi menjadi monster yang profesinya sebagai tukang menakut - nakuti anak kecil. Dimana dalam dunia monster ini adalah profesi jagoan dan menjadi kunci utama kehidupan Monster. Jadi tugas si monster yang menakut - nakuti ini adalah mendapatkan energi dari teriakan anak kecil yang ketakutan dan nantinya energi itu yang jadi sumber kehidupan di dunia monster. Tentunya syarat menjadi monster jagoan ini yang paling utama adalah punya bentuk yang menakutkan dan suara mengaum yang mengerikan. Takdir berkata lain karena Mike Wazowski terlahir menjadi monster yang imut. Jadi sebagaimanapun cerdasnya dia mengenyam pendidikan di Monster University dengan nilai A+ dia tidak punya bakat dan talenta untuk bisa jadi mendapatkan profesi monster jagoan yang tugasnya menakut - nakuti.

Tentu saja dia tidak terima dengan kenyataan ini dan membuktikan dengan berbagai cara untuk mencapai tujuannya itu. Di akhir cerita akhirnya profesi Mike ini adalah mendampingi sahabatnya yang juga monster yaitu Sullie. Nah, si Sullie ini emang terlahir berbakat menakuti, cuman karena kurang cerdas dia membutuhkan kecerdasan Mike untuk membantu Sullie menjadi monster penakut sejati yang mana profesi ini sebetulnya diidamkan oleh si Mike. Mereka menjadi tim yang bersinergi dan sukses mencapai target untuk menakut - nakuti anak kecil dengan nilai tertinggi.

Percayalah menerima kekalahan memang bukan hal yang mudah. Menerima bahwa tujuan yang ingin diraih itu tidak tercapai mencabik - cabik emosi dan menumbuhkan keputusasaan. Tapi tidak ada tantangan jika semuanya dimenangkan karena memang selayaknya kalah dan menang bersanding dalam sebuah kompetisi. Aku yakin Mike juga membutuhkan waktu yang lama untuk menerima bahwa dia tidak akan bisa menjadi apa yang dia inginkan tapi bisa mengaplikasikan sisi positif kelebihan dari dirinya untuk menjadi berguna tidak hanya untuk orang lain, juga dirinya sendiri. Jadi, jangan takut kalah dan jangan takut gagal, mungkin kita hanya belum bisa melihat sisi lain dari diri kita yang lebih baik dari kegagalan yang sedang kita alami. Anggap saja kita juara harapan, jadi masih ada harapan kan?



oh iya, soundtrack yang menarik sambil baca blog ini rasanya Agnes Monica "Things will get better". Ini single dia yang katanya merupakan perjuangan go international  yang konon katanya gagal itu. Tapi cuba aja liat muka Agnezmo yang tetep songong dan chin up dan ngga putus asa itu, mungkin dia memahami dia sebagai Juara Harapan, bukan kalah.






Saturday, November 9, 2013

Like Crazy : the dead sparks and hearts

never allow anything to destroy 
the feelings we share for each other
- like crazy, 2011 -


Kesalahan besar menonton film ini secara tidak sengaja adalah dalam keadaan sedang datang bulan dan sebelumnya banyak merenungkan masalah - masalah tentang hubungan cinta dua orang. Berakhir dengan emosi yang entah kenapa hampir saja merusak perasaanku hari itu. Lalu sebenarnya apa pengaruh film Amerika romantis ringan yang dirilis tahun 2011 ini bisa sebegitunya membuat aku yang notabene waras ini menjadi seketika terbawa dengan emosi yang aku sendiri tidak bisa pahami. Mungkin karena film ini membahas sesuatu yang menyentil pikiran skeptis aku akan cinta.

Jatuh cinta, klise dan terlalu pop tapi tidak mudah dimengerti. Ini kisah cinta Anna dan Jacob semasa kuliah yang penuh dengan perasaan yang terlalu semarak dan gila. Anna berasal dari London dan sedang mengikuti pertukaran pelajar di Los Angeles yang kemudian saling jatuh cinta kepada Jacob. Dalam film ini kisah cinta mereka digambarkan terlalu menggebu dan tampak terlalu indah sampai akhirnya Anna dideportasi ke London karena melanggar visa pelajarnya. Berpisah dua benua bukan hal yang mudah, selain jet lag waktu pasti ada saja yang menjadi tantangan mereka berdua untuk mempertahankan perasaan mereka. Berkunjung ke London menjadi cara satu - satunya Jacob untuk menemui Anna dan selama berpisah mereka juga memiliki sensasinya sendiri - sendiri untuk dekat dengan orang lain *sigh. 


Melihat keadaan ini orang tua Anna mengusulkan mereka menikah untuk mempermudah visa Anna tidak dicabut malahan bisa mendapatkan Green Card dan bisa bersatu lagi dengan Jacob. Seperti yang aku yakini juga bahwa pernikahan itu harus didasari dengan alasan yang kuat antara 2 pihak bukan atas pengaruh faktor lain. Demikian juga perasaan Jacob saat diminta menikah, meski hatinya tidak sepenuhnya yakin karena dia juga menjalin hubungan dengan wanita lain tapi dia juga mencintai Anna. Tapi akhirnya merekapun menikah dengan iming - iming 6 bulan kemudian Anna mendapatkan visanya lagi dan mereka bisa bersatu, meski nasib berkata lain. Visa itu juga belum lolos. Hubungan yang memudar, jarak yang memisahkan, waktu yang tidak sinkron, kehadiran pihak ketiga, rasanya itu alasan tepat kenapa rasa akhirnya memudar. 


Sampai akhirnya suatu ketika visa itu lolos. Anna mencoba kembali kepada Jacob dan pindah ke Los Angeles meninggalkan cinta paruh waktunya demikian juga Jacob. Namun, sepertinya mereka gagal untuk tidak membiarkan apapun merusak perasaan mereka satu sama lain. Ketika apa yang sudah tidak seharusnya … meski diperjuangkan dengan segala apapun tetap pada konklusi memang sudah tidak seharusnya. 


Film ini ditutup dengan soundtrack yang apik karena aku si penyuka suara aneh penyanyi indie Stars yang memberikan lirik menampar dalam lagunya Dead Hearts. 



Tell me everything that happened,
Tell me everything you saw.
They had lights inside their eyes...
They had lights inside their eyes...
Did you see the closing window,
Did you hear the slamming door?
They moved forward and my heart died...
They moved forward and my heart died...
Please, please tell me what they looked like,
Did they seem afraid of you?

They were kids that I once knew...
They were kids that I once knew...
I can say it, but you won't you believe me.
You say you do, but you don't deceive me.
It's hard to know they're out there,
It's hard to know that you still care.
I can say it, but you won't you believe me.
You say you do, but you don't deceive me.
Dead hearts are everywhere!
Dead hearts are everywhere!

Did you touch them, did you hold them?
Did they follow you to town?
They make me feel I'm falling down...
They make me feel I'm falling down...
Was there one you saw too clearly,
Did they seem too real to you?
They were kids that I once knew...
They were kids that I once knew...
I can say it, but you won't you believe me.
You say you do, but you don't deceive me.

It's hard to know they're out there,
It's hard to know that you still care.
I can say it, but you won't you believe me.
You say you do, but you don't deceive me.
Dead hearts are everywhere!
Dead hearts are everywhere!
I can say it, but you won't you believe me.
You say you do, but you don't deceive me.

It's hard to know they're out there,
It's hard to know that you still care.
I can say it, but you won't you believe me.
You say you do, but you don't deceive me.
Dead hearts are everywhere!
Dead hearts are everywhere!
They were kids that I once knew...
They were kids that I once knew...
Now they're all dead hearts to you...
Now they're all dead hearts to you...
They were kids that I once knew...
They were kids that I once knew...
Now they're all dead hearts to you...

Mungkin dulu aku pernah marah pada semesta dan empunya kehidupan. Kenapa juga aku harus bertemu dengan seseorang yang bukan untuk aku dan harus meninggalkan sakit. Apakah aku terlalu memaksa waktu itu? Sia - siakah waktuku untuk bertemu mereka yang pernah mengisi hatiku waktu itu? Atau aku yang tidak bisa mengubah waktu yang kuanggap sia - sia itu sebagai proses hidup dan pembelajaran? Kalau diisi sejuta tanya mungkin tulisan ini tidak akan pernah berakhir. Yang jelas, aku harus meyakini apa yang aku jalani sekarang adalah yang memang harus terjadi sekarang apapun hasilnya nanti. 


Baru pagi ini aku menemukan jawabannya. Setelah yang aku lalui dalam hidupku ternyata semesta dan empunya kehidupan memberi kebaikan dan menghadirkan sosok yang dengan hati terbuka aku berani mencintai lagi. Kami juga sudah mengucap sumpah untuk tidak membiarkan apapun merusak perasaan kami satu sama lain. Jadi mari kita coba sedikit untuk tidak terlalu tamak dalam hubungan ini dan menyaring hal - hal yang dapat merusak perasaan kami.