instagram

Pages

Thursday, June 14, 2012

Oh Lord, this guy please!





Inget beberapa waktu lalu aku menulis mengenai sebuah Kedai Kopi di Yogyakarta, lengkap dengan sejarah bahwa itu rumah adalah milik Eyang dulunya lalu sekarang diabadikan menjadi sebuah Kedai kopi yang vintage dan serasa kembali ke jaman colonial setiap kali mengunjungi tempat itu, akhirnya aku bertemu dengan pemiliknya. Aduh, dilemma deh sebaiknya ditulis atau tidak ya namanya, nanti kalau ke-googling … matilah awak ketahuan curhat after session-nya! Hehehhehe… Ceritanya begini, ini karena Mama baru saja menulis buku perdana berjudul “Tangan – tangan” dan beberapa hari sebelumnya, Pakdhe dipanggil oleh yang kuasa *selamat ya mama buat bukunya, sayang kameraku rusak belum bisa pamer - pamer foto via blog ... beliin iphone dong eehhhhh ... . Kemudian mama berkumpul dengan kakak – kakaknya di Kedai Kopi itu dan disitulah mama berkenalan sama owner Kedai kopi tersebut, “ownernya ganteng!” begitu kata mama … sungguh maksimal sekali kan caranya memotivasiku!!

Entah bagaimana ceritanya, si Owner ini ternyata sudah sangat familiar dengan keberadaanku! ( THANK GOD I’M FAMOUS!!!!!!!!!! *hahahahaha) jadi beberapa saat kemudian kami saling follow di dunia kicauan burung yang ramai di sebuah garis lini waktu social media itu. Memutuskan untuk bertemu dengan si Owner bukanlah hal yang mudah, kami sama – sama sibuk (halah! Janjane bukan sama – sama sibuk sih, tapi aku ini tergolong HUMAS yang minderan, jadi ketika diajak ketemu, pusing tujuh keliling). Pada sebuah sore, aku datang menemui si Owner ini di Kopitiam Oey, dan VOILA *ganteng mak!!! You are definitely right!!! … hehehehe … dan yang lebih keren lagi ngga hanya ganteng, smart, tenang, cool, sederhana …. Halah! *you name it* my idol criteria is so far on him! *asem*

Cerita kami seputar ide dan konsep event yang akan kami gelar, dunia bisnis pariwisata dan hotel saat ini, bisnis – bisnisnya dia *haizzzz kemecer nggak sih loe!, dunia export, travelling, food, and then .. and then … and then. Overall, I’ll say … Oh Lord, this kind of guy that can make me sit longer listening to his experience, thoughts, ideas, and found what people called ‘chemistry’ is the one I’ve been dreaming along! Meski ternyata dia sudah beristri dan beranak … okelah! Aku bukan tipe wanita perebut lelaki orang *sikap* jadi doaku simple aja seperti pesan mama pagi ini via skype … “Oh Lord, this kind of guy please!


ps: ditulis dalam keadaan mengantuk dikantor lantaran pulang jam 12:00 dan mendengar anak – anak kos teriak GOAL! Beberapa kali… tapi rasa syukur ini jauh lebih baik mendengar mereka berteriak GOAL! Daripada suara orang bercinta! Damn!

Wednesday, June 13, 2012

Pegawai dan Pengusaha


Sebelum nulis ini, aku tidak menyempatkan diri mencari tahu, sudahkah saya menulis mengenai hal ini. Yang jelas, perdebatan menjadi pegawai dan pengusaha sudah sering sekali keluar masuk telinga, hati, dan pikiran. Aku sekarang bekerja bersama seorang pengusaha sukses dan aku juga secara tidak langsung berada dibawah manajemen yang seumur hidupnya belum pernah menjadi pengusaha. Dalam sebuah meeting, aku melihat ada dua hal yang bisa menjadi gambaran pertimbangan untuk semua yang sedang bingung akan menjadi pegawai atau pengusaha.

PLAY SAFE
Jadi pegawai itu sudah pasti setiap tanggal 28 gajian, dengan jumlah yang pasti tidak kurang tidak lebih. Sehari – harinya mungkin target bisa dipermainkan dan korupsi waktu adalah kebebasan kecil yang bisa dinikmati selain jam istirahat. Keputusannya tidak memiliki resiko teramat besar karena kepemilikannya terhadap perusahaan tidak sebesar pemilik perusahaan. Idealismenya hilang, dikarenakan tak lagi semua ide – ide dan pemikiran bisa diaplikasikan secara gamblang karena ada atasan yang menjadi penentu. Ketika dihadapkan masalah, berkelit dan mencari alasan bisa menjadi strategi terakhir yang bisa dijalankan dan kerugian tidak langsung menampar. Yang jelas, aku aman.

PLAY RISK
Sebagai pengusaha, yang mendasar adalah bagaimana usaha yang dimiliki untung dan menutup biaya operasional. Pendapatannya bisa beragam, fluktuatif tergantung bagaimana kinerjanya. Segala ide dan upaya serta keputusannya bisa diaplikasikan dan resiko utama ditanggung oleh si pengusaha. Pegawainya, cukup menjalankan pemerintah dan memberi saran sekenanya. Kepuasan adalah mutlak hukumnya karena, I own, I lead, I manage with determination.

Dalam meeting ini, aku memperhatikan Bapak (pengusaha) bisa dengan sigap membuat keputusan, mengolah saran, dan bertanggung jawab atas segala keputusan dan Ibu (pegawai) dapat berkelit akan sebuah pertimbangan dan memberikan saran semampunya namun gaji bulanan tetap masuk pada rekeningnya. Berapa pendapatan si Ibu vs. si Bapak? Tidak perlu mengecheck rekeningnya kan? Bagaimana kepuasan kerja mereka, coba lihat pencapaiannya selama ini, karena itu relatif. Lalu yang jadi pertanyaan, kemana langkahku akan melaju?

Tuesday, May 22, 2012

Selamat Pagi Mustafa


Dari sebuah bincang – bincang dini hari pada sebuah kios roti bakar di bilangan Blok M Jakarta, seorang teman menyarankan aku untuk menemukan kembali Mustafa. Mudahnya di era komunikasi serba sigap dan kecepatan akses untuk memudahkan mencari, kamipun akhirnya menemukan Mustafa. Meski dalam kehidupan nyata, kami tidak punya kemampuan untuk mencari dan menemukan dari sejak tahun 2004. Mustafa, hari ini aku menemukanmu dan menyapa “woooooiiiiiii….” Sungguh bukan sapaan yang menarik dalam sebuah jawaban akan pencarian.

“oh my gosh *thrilled*” jawab Mustafa beberapa menit kemudian setelah kutemukan di arena twitterland.
“*amazed*” sambutanku sekenanya karena bingung harus menjawab apa.
“where have you been” dia seperti sudah tersadar bahwa kami sama – sama menghilang.
“Nowhere but here :D long time no see *blushing*”
“yeah … long time so, hows the world?”
“world’s still unfair sometimes … How’s life?”
“well, sometimes life is a bitch, actually….”

Sekian kami berbincan dan pada suatu pagi aku terhanyut pada tulisan – tulisan Mustafa, dia adalah seorang penulis. Pada sebuah waktu di tahun 2004 Mustafa pernah berujar, “bekerjalah, raihlah karirmu. Aku ingin dirumah, membaca dan menulis, lalu menyambutmu pulang… “ Dalam hati aku mencerna maksudnya Bagaimana mungkin lelaki ini memilih lari dari standar kehidupan normal yang kami jalani di kebudayaan timur ini. Aku dulu tidak mengerti dan sekarang pun tidak, hanya mencoba memahami, jiwa Mustafa memang berkutat pada indahnya paduan linguistik yang dia kuasai dan membaurkannya pada kisah sehari – hari yang apik.

Mustafa, aku suka tulisanmu dan terima kasih sudah mau aku temukan kembali. Meski tahunan ini, secanggih apapun teknologi tidak mempertemukan kita dalam suatu momentum ruang dan waktu akan sebuah kebetulan.

I can even still remember the song you gave me, Mustafa :D



Wednesday, May 16, 2012

Jujur

Kaca ini jujur sekali ...  batinku dalam hati ketika melihat wujudku dalam pantulan kaca. Kondisi aku sedang sakit, flu berat dan asma kambuh. Kantung mataku terlihat hitam seperti panda, rambutku acak - acakan, sepertinya aku sedikit menggendut, dan bibirku pucat.... sumpah aku jelek!

Aku berujar pada temanku, "aku lagi jelek ... I don't feel like doing anything" ... sambil tertawa dia menjawab "kalau tau lagi jelek dan ngga sehat, itu obatnya dihabisin, mulai besok rajin olahraga, itu rambut dirapihin, bukan malah tarik selimut lagi!"

Kejujuran itu memang sakit apa lagi ketika itu menyangkut fakta yang diluar harapan. Tapi yang penting itu ketika menghadapi sebuah kejujuran yang pahit, siapkah kamu untuk mencari solusi dari sebuah kejujuran?


ps: untuk papa, aku hanya minta papa untuk jujur.