instagram

Pages

Monday, September 2, 2013

Benteng Putri Raya


Adalah Putri Raya, demikian ayahnya memberi nama kelak dia akan menjadi yang maha mengerti seisi jagat raya ini. Putri Raya, sebagaimana seorang putri… begitulah kehidupan seorang Putri, klise dengan segala senang dan riangnya. Sehari – harinya dihabiskan bermain – main dengan kesenangannya, bersama sahabatnya, Peri Pine.

Sampai pada suatu hari, kerajaan Putri Raya diserang musuh dan disaat yang sama, sahabat Putri Raya memilih untuk pergi dan meninggalkan Putri Raya. Seperti malam yang tidak ada akhirnya, hanya kesedihan yang dirasakan. Kerajaan tempat Putri Raya bermain, tak lagi menjadi Istana yang indah, taman yang indah pun tak lagi menjadi favorit untuk duduk dan memandang alam semesta. Tidak ada lagi tawa dan senyum di wajah Putri Raya, sungguh menyedihkan mengingat Putri Raya sangatlah ceria dan penuh canda. Kehadirannya selalu memberi kebahagiaan dayang – dayang, pujangga kerajaan, juga rakyat sekitarnya.

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Raja Kum, melihat putrinya demikian, terlebih kerajaannya pun juga terkalahkan musuh. Selain prihatin atas kondisi kerajaan dan rakyatnya, tentu saja kesedihan Putri Raya menjadi perhatian utama Raja Kum. Sudah berhari – hari Putri Raya tidak menyuapkan makanan favoritnya, tidak mau keluar kamar, dan masih tak ada senyum diwajahnya. Raja Kum yang putus asa bertanya kepada Putri Raya, “apa yang bisa aku lakukan untuk menyudahi sedihmu, putriku?” dan tak lama kemudian Putri Raya menyahut lirih “Aku hanya tidak ingin merasa sedih yang sesakit ini, Ayahanda”

Maka dibangunnya lah kerajaan berbenteng tinggi dan tebal oleh Raja Kum, lengkap dengan dayang – dayang dan binatang – binatang kesukaan Putri Raya, tentu saja dihiasi dengan taman yang indah untuk tempat favoritnya, menikmati alam semesta. Dengan demikian, harapnya … Putri Raya tidak akan merasa sakit akan sedihnya lagi.

Pada suatu hari, Pangeran Daman sedang berburu di hutan. Sedikit jauh dari wilayah kekuasaan kerajaannya sampai keasyikannya berburu membuatnya tak sengaja menemukan bangungan mirip dengan istana, dengan benteng yang besar dan tebal, nyaris menutupi isi bangunan itu. Dari luar lamat – lamat Pangeran Daman hanya mendengar senandung gadis – gadis dengan suara merdu, dan gelak canda tawa yang lirih dari dalam bangunan kastil nan megah itu.

Sama sekali tidak ada celah yang memungkinkan Pangeran Daman untuk masuk, dan benteng yang kokoh itu juga tidak memungkinkan untuk ditembus. Maka ditulisnya dalam secarik kertas dan dilemparkannya kedalam benteng tersebut dengan harapan, akan sebuah jawaban.

Putri Raya saat itu yang sedang bercerita, bernyanyi, dan bercanda bersama dayang – dayang, terkejut melihat ada bongkah batu yang ditutup kertas jatuh dari atas. Pelan – pelan Putri Raya membuka kertas itu dan membaca pesan disitu. Penuh rasa takut, merasa terancam, dan kuatir aka nada serangan dari luar, Putri Raya melihat tulisan sapaan dari Pangeran Daman menanyakan siapa gerangan yang ada didalam dan memuji senandung lagu yang dinyanyikan Putri Raya bersama dayang – dayang. Sedikit ragu, Putri Raya mengambil pena dan menuliskan balasan kertas itu, memperkenalkan dirinya, dan mengucapkan terima kasih atas pujian yang diberikan.

Ternyata percakapan unik itu mengawali pertemanan pertama kali Putri Raya dengan Pangeran Daman setelah mengurung diri selama ini. Sampai pada akhirnya Pangeran Daman, meminta Putri Raya untuk membuka benteng kokoh itu dan membiarkan Pangeran Daman untuk masuk. Putri Raya dengan lembut menjelaskan ketakutannya akan dunia diluar, dengan rasa sakit akan sedih, dan bagaimana benteng kokoh ini dibangun untuk menghalau ketakutannya itu oleh Raja Kum, sang Ayah.

Tidak menyerah, demikian Pangeran Daman membalas pernyataan Putri Raya, menceritakan betapa indahnya dunia diluar benteng kokoh itu dan rasa sakit akan sedih itu hanya bagian dari perjalanan yang akan mengindahkan hidup. Dengan itu Pangeran Daman berjanji menunjukkan kesetiaannya kepada Putri Raya, menjanjikannya kebersamaan dengan mencoba sendiri menggempur benteng yang kokoh itu. Tentu saja hal ini menjadi ancaman untuk Putri Raya, meski disisi lain dia merasa bahagia atas kehadiran Pangeran Daman menjadi sahabat yang menyenangkan, namun ketakutannya tak terbendung juga mengkhuatirkan apa yang akan terjadi nanti.

Selama Pangeran Daman berupaya menggempur benteng yang kokoh itu, tak hentinya mereka saling bercerita, saling meyakinkan dan menguatkan, bahwa segalanya akan indah sampai nanti mereka akan bertemu. Putri Raya dengan sabar, mencoba merelakan benteng yang kokoh itu runtuh perlahan dan mempersiapkan hatinya untuk segera bertemu pangeran Daman untuk dapat bersama menikmati tantangan hidup. Dalam hati Putri Raya berpikir, jika memang Pangeran Daman berhasil menggempur benteng itu, maka laiklah ia mendapatkan hati dan kepercayaan Putri Raya.

Pastinya lah ada rasa lelah dan keinginan untuk menyerah dibenak Pangeran Daman, namun niatnya tak mengalahkan dua hal itu. Sampai pada batu terakhir yang membatasi dia dan Putri Raya, akhirnya Pangeran Daman berhasil menembus benteng yang kokoh itu. Keyakinannya terjawab karena Putri Raya pun dengan setia menunggunya selama merobohkan benteng itu. Paras dan senyumnya serta pancaran kebaikannya sudah cukup menghilangkan peluh dan lelah Pangeran Daman.




I hope, one day you'll understand as me trying to understand
for there is no one can replace another anyone
for when there is no hope for tomorrow, I must myself embrace the morning
for the loved once and and the hatred
for the hurt and the cure
for doing not for promises

No comments:

Post a Comment