instagram

Pages

Thursday, July 17, 2014

ayahku (bukan) idolaku

Kalau melihat di sosial media beberapa teman menampilkan berbagai bentuk kasih sayang dan bagaimana mereka mengidolakan ayah mereka, aku hanya punya perasaan dingin untuk melalui laman itu dan mengganti pada laman lainnya. Sementara setiap aku melihat sebuah citra keluarga suamiku yang hangat dan bagaimana suamiku mencium hangat ayahnya setiap bertemu dan meninggalkan pesan manis berbau perhatian, aku hanya teringat betapa aku tidak pernah ingin mencium dan memeluk ayahku. Aku cemburu bagaimana aku tidak punya hubungan relasi demikian dengan ayahku, dia bukan idolaku.

Sebagai sosok pahlawan, aku hampir tidak punya kenangan manis bagaimana dia menyelamatkan aku dari sebuah masalah. Hanya satu mungkin yang aku ingat ketika masa SMP dimana aku harus dijatuhi hukuman karena merokok di sekolah. Dia mewajarkan kegiatan merokokku dan membuat hukumanku sedikit lebih ringan daripada yang lain. Entah itu bentuk kepahlawanan atau menjerumuskan, yang jelas saat itu aku merasa diselamatkan. Menjelang SMA sampai saat ini, hubungan kami memburuk dan aku sudah tidak melihatnya sebagai pahlawan lagi, dia cukup bertitel ayah dimana aku memanggilnya "Pa" Ingatanku kembali pada masa titik balik hidupku, dimana aku sangat terpuruk kala itu dan ayahku tidak tercatat kehadirannya, bahkan dia takut untuk sekedar memberi dorongan, semangat, atau bahkan mengunjungiku. Kami tidak bertegur sapa sampai hampir satu tahun. Aku kehilangan pahlawanku.





Sebagai penyayang pun, aku hanya ingat beberapa kali dia memanjakan aku dengan mengabulkan segala inginku membeli barang. Apa yang aku minta diberinya. Sampai suatu hari aku menemukan dia sebenarnya belum mampu memberikan semua inginku sesuai kapasitasnya. Akupun terpuruk dan enggan menerima pemberiannya lagi. Bahkan tidak berani berharap. Baiknya hal ini membuatku berani memperjuangkan apa yang aku inginkan sendiri.

Ketika aku beranjak dewasa, aku mulai memahami cara lain mengidolakan Ayahku. Membalik semua kenangan buruk menjadi pelajaran dan tempaan yang kuat untuk menjadi diriku saat ini. Aku ingat bagaimana Ayahku sangat disiplin memaksa aku bisa belajar untuk mengemudi mobil kala aku masih SMP kelas 1. Betul! belum umurnya aku belajar mengemudi tapi itulah Ayahku, mengajarkan aku kuat sejak dini. Larangan bermain muncul setiap jam 5 sore, Mbak Yem (asisten rumah tangga kami kala itu) lekas mencari pelosok perumahan dengan muka galaknya mengajak aku pulang karena dicari Ayah untuk belajar mengemudi. Sebal bukan kepalang disamping latihan tiap hari, kehilangan jam bermain, dan ketegangan selama latihan betul - betul pengalaman yang tidak mudah aku lupakan. Mendetilnya Ayah mengajarkan jauh lebih sempurna dibanding kursus mengemudi yang ada di kota ini. Aku baru merasakan efeknya ketika aku menyadari aku pengemudi yang handal dan tidak hanya bisa mengemudi, akupun memahami sedikit banyak mengenai otomotif.

Dari situ setiap aku menoleh kebelakang, ketidak hadiran Ayahku disaat buruk dengan berbagai kekecewaan yang dia berikan kepadaku, memberi aku kesempatan untuk belajar mandiri dan kuat. Aku tau bagaimana harus bekerja keras, wawasan aku meluas karena rasa ingin tahuku ditekan untuk segera menyelamatkan diri dari satu masalah, dan sifat mandiri melekat kuat pada diriku karena keyakinanku untuk bisa mendapatkan yang aku inginkan harus berawal dari diriku sendiri. Dalam hal memilih pasangan hidup pun, aku menjadikan sosok Ayah menjadi tala ukurku untuk bisa menentukan. Tentu saja disaring dari sikap buruk dan baiknya, lengkap dengan keyakinan tidak ada yang bisa sesempurna sesuai harapan.

Caraku mencintai Ayahku, mungkin sedikit berbeda dari yang sewajarnya. Like sometimes I want to say " you were trapped being a father by having me and so was I trapped having you as a father. So we are now even. " dengan demikian kami sekarang sejajar menjadi komisaris rekan kerja, lengkap dengan Ibu dan Adikku, menjalankan sebuah bisnis keluarga yang sudah dirintis belasan tahun. Kami sangat profesional dalam bekerja dan sesekali hangat sebagai keluarga. Aku tekankan sekali lagi SESEKALI!

Selamat ulang tahun Poppyta! apapun gayamu yang tak pernah aku pahami seumur hidupku, terima kasih sudah memberi aku ruang waktu untuk menerima bahwa aku memang harus ada di dunia ini dan memiliki hak sepenuhnya untuk mempertahankan diriku sesulit apapun perkara yang aku harus hadapi setiap hari.

3 comments:

  1. You are trapped for being his daughter and he is trapped for being your father. So, don't mind about being trapped.

    You go, girl!

    ReplyDelete
  2. I guess I'm getting better in super trap!

    ReplyDelete
  3. Aku cukup paham rasanya mbak. Aku sendiri juga merasa bersalah karena tidak sedekat yang "seharusnya" dengan ortu. Seolah butuh jarak dan ruang yang cukup luas dengan keluarga sendiri. I love them dearly but not intensely. Jadi, yah, aku paham kata "sesekali" itu mbak. Kadang rasanya takut suatu saat menyesal, tp kalau dipaksakan juga tidak bisa. Nice thought since you're blatantly honest.

    ReplyDelete