Mustafa berusaha meyakinkan bahwa aku bisa membuka laptopnya tanpa harus kuatir akan hal itu. Dia sudah menghapus masa lalunya dan berjanji akan menghapus sisanya yang mungkin masih ada. Akhirnya terpaksa aku tetap membuka laptop itu dengan perasaan mual, takut, dan jantung berdebar. Lebay memang, tapi bagaimana lagi, ada trauma di masa lalu yang menyulitkan aku untuk meyakini semua baik - baik saja.
Ini baru satu kisah dari beberapa cuplikan lainnya yang membuatku berpikir bahwa aku punya masalah dengan kepercayaan. Masih ada kejadian - kejadian lain dimana aku harus diam dan meyakinkan pikiran skeptisku untuk membuang segala praduga tak bersalah itu. Selebihnya, itu semua dukungan Mustafa untuk selalu meyakinkan bahwa dia bisa dipercaya dan apa yang dilakukannya tulus, lengkap dengan caranya menenangkan aku bahwa kita hidup di saat ini, bukan kemarin...
| Zulu lagi baca blog! |

No comments:
Post a Comment