I must say this awesomness movies bring me to the criterion classic contemporary list for they really steal my heart. My husband introduced me to Moonrise Kingdom and we both (or maybe just me feeling overwhelmed), I found this movie is greatly depicted in distinctive way of setting. The touch of vintage and classic setting, nice color pallet, and swinging naration are completed with many moral lessons I learn from.
A simple story of two young lover whose family life is not really interest them leads to their journey of getting to know and adventorous escapade to unite their true feelings toward each other. How its story wrapped in distinctive setting in classical and historical way that amazed me. It won't stop me saying "oooohhhh sweetie" until a simply laugh at the end of the story.
Overall! hey hey hey I call our (my husband and I) house as Moonrise Kingdom!
I recall all my memories working at the hotel, the concierge, the lobby boy, the restaurant, and the secret behind every numbered doors. Probably this story revealing one of that door, the adventour of Zero Moustava and his senior Mr. Gustave. This movie teaches me about loyalty, friendship, and the right of being right.
The cold setting of old furnished and some classic decoration, this movie brings the nuance of historical germany setting. Completed with the scenes I found and some costumes I like. This movie really pleased my weekend :) Oh ya! My husband and I really like how they exposed antlers!!! yey yey yey our favorite! And one more thing …. so many laugh and smile will be with you during the story!
As I'm in love with these kind of movies, I started to browse and find out more about them. It is found that Wes Anderson made these movies *hail*! So our next must watch movies is the epic one-stop-motion movie of Fantastic Mr. Fox. Oh my God!!!!!!!
SPLENDID!
More than just laugh and laugh, I was thrilled to further indulging myself into this movie. Mr. Fox and his family let me learn about being ourself and be good at it.
Oh I love it .. I love it … I love it ….
Wednesday, July 2, 2014
Dear Citizen,
Setelah belajar dan mencoba memahami gegap gempitanya negara ini mengusung dua calon presiden yang bersikeras menjadi yang terbaik, saya ingin mencoba menulis dari sisi kaca mata yang lain. Seusai panasnya suasana surat menyurat untuk calon presiden A dan presiden B, serta merta surat balasan untuk si penulis surat dan ditutup 4 x 4 = 16, sempat tidak sempat harap dibalas, lalu kemudian saya tersenyum betapa selow (baca: ngga ada kerjaan) nya orang - orang ini. Karena saya tidak selow dan mumpung ada 30 menit waktu istirahat supaya saya ndak dituduh magabu (makan gaji buta) maka saya sempatkan menulis.
Protesmu keras! komentarku pada beberapa orang frontal yang membabi buta menuntut ini itu. Seperti ibu - ibu yang saya temui di warung ijo tempat langganan beli nasi sayur berujar "ya saya tetep milih pak itu to! jelas baik buat presiden!!! cinta rakyat" *sembari menyenggol tempe goreng yang terjatuh di tanah dan tidak diambil, hanya memberi senyum, dan merugikan si pemilik warung ijo* Mbok ya kalau nuntut sesuatu tu balikkan tuntutan itu ke diri sendiri. Ini yang mendasari saya menulis untuk warga negara ini, bukan buat calon - calon presiden itu.
Dalam satu hari saja, sudah berapa warga yang kelakuannya brutal minta ampun saya temui? minimal 10 lah … Dari mulai ketika saya ada di lampu lalu lintas, warnanya sudah kuning, saya memutuskan berhenti, tapi dimaki karena lamban dan didahului meski warna lampunya merah. Berapa banyak yang melanggar lalu lintas hari ini? korupsi waktu? berapa banyak dari kita yang memilih untuk melakukan hal lain daripada menyelesaikan pekerjaan kantor? doing social media for instance? Buang sampah sembarangan? seperti seseorang yang saya temui di jalan, mobil mewah, tapi kelakuan barbar! Membuang semua sampah di mobilnya ditengah jalan raya Yogyakarta - Solo? Itu baru sedikit yang saya gambarkan disini, tapi sudah cukup membawa ke inti pemikiran saya.
Saya sebagai warga negara, juga sudah patah hati sama negara ini. Namanya patah hati kan sembuhnya lama, jadi sampai sekarang juga belum sembuh. Dulu sempat semangat ikut pemilu, wah capresnya seru programnya, tapi akhirnya sama saja. Itu juga sama dengan cerita lima tahunan pemilu lainnya. Rasanya kayak dirayu habis - habisan, lalu ditinggal selingkuh. Tentunya rasa percaya pada negara ini juga kandas entah kemana, mengembalikannya saja tidak semudah menghitung anggaran THR (hehehe, saya lagi sibuk ngitung THR nih). Pada akhirnya saya nyanyi lagunya The Corrs "don't say you love me, unless forever…" jadinya nunggu bukti aja, daripada kemakan janji - janji palsu. Kemudian ya mau ngga mau jadi warga negara disini, wong saya lahirnya disini padahal ngga pernah minta, wong saya nyari pria asing yang mau nikahin saya supaya dapet warga negara lain juga ngga dapat.
Nah, ketika kita menuntut orang lain untuk memberi bukti bukan janji, coba sekarang menghadap ke cermin dan tanya ke lubuk hati yang paling dalam sambil lihat pantulan muka kita di kaca, "sudahkah saya menepati janji?" Banyak sekali kok yang bisa kita lakukan sebelum menuntut pemerintah kita menjadi lebih, yuk mari kita jadi cerdas dan cermat sedikit dimanapun kita berada, mulailah dari hal kecil. Coba pikirkan lagi, kalau kita ini menyerukan bahwa kita negara beragama ( ya cuman agama satu itu tok til yang disebut - sebut), tapi coba lihat, kenapa negara lain yang sudah tidak taat beragama tapi bisa lebih tertib hukum dan lebih beradab kelakuannya dan terlebih lagi, negara mereka lebih maju…
Protesmu keras! komentarku pada beberapa orang frontal yang membabi buta menuntut ini itu. Seperti ibu - ibu yang saya temui di warung ijo tempat langganan beli nasi sayur berujar "ya saya tetep milih pak itu to! jelas baik buat presiden!!! cinta rakyat" *sembari menyenggol tempe goreng yang terjatuh di tanah dan tidak diambil, hanya memberi senyum, dan merugikan si pemilik warung ijo* Mbok ya kalau nuntut sesuatu tu balikkan tuntutan itu ke diri sendiri. Ini yang mendasari saya menulis untuk warga negara ini, bukan buat calon - calon presiden itu.
Dalam satu hari saja, sudah berapa warga yang kelakuannya brutal minta ampun saya temui? minimal 10 lah … Dari mulai ketika saya ada di lampu lalu lintas, warnanya sudah kuning, saya memutuskan berhenti, tapi dimaki karena lamban dan didahului meski warna lampunya merah. Berapa banyak yang melanggar lalu lintas hari ini? korupsi waktu? berapa banyak dari kita yang memilih untuk melakukan hal lain daripada menyelesaikan pekerjaan kantor? doing social media for instance? Buang sampah sembarangan? seperti seseorang yang saya temui di jalan, mobil mewah, tapi kelakuan barbar! Membuang semua sampah di mobilnya ditengah jalan raya Yogyakarta - Solo? Itu baru sedikit yang saya gambarkan disini, tapi sudah cukup membawa ke inti pemikiran saya.
Saya sebagai warga negara, juga sudah patah hati sama negara ini. Namanya patah hati kan sembuhnya lama, jadi sampai sekarang juga belum sembuh. Dulu sempat semangat ikut pemilu, wah capresnya seru programnya, tapi akhirnya sama saja. Itu juga sama dengan cerita lima tahunan pemilu lainnya. Rasanya kayak dirayu habis - habisan, lalu ditinggal selingkuh. Tentunya rasa percaya pada negara ini juga kandas entah kemana, mengembalikannya saja tidak semudah menghitung anggaran THR (hehehe, saya lagi sibuk ngitung THR nih). Pada akhirnya saya nyanyi lagunya The Corrs "don't say you love me, unless forever…" jadinya nunggu bukti aja, daripada kemakan janji - janji palsu. Kemudian ya mau ngga mau jadi warga negara disini, wong saya lahirnya disini padahal ngga pernah minta, wong saya nyari pria asing yang mau nikahin saya supaya dapet warga negara lain juga ngga dapat.
Nah, ketika kita menuntut orang lain untuk memberi bukti bukan janji, coba sekarang menghadap ke cermin dan tanya ke lubuk hati yang paling dalam sambil lihat pantulan muka kita di kaca, "sudahkah saya menepati janji?" Banyak sekali kok yang bisa kita lakukan sebelum menuntut pemerintah kita menjadi lebih, yuk mari kita jadi cerdas dan cermat sedikit dimanapun kita berada, mulailah dari hal kecil. Coba pikirkan lagi, kalau kita ini menyerukan bahwa kita negara beragama ( ya cuman agama satu itu tok til yang disebut - sebut), tapi coba lihat, kenapa negara lain yang sudah tidak taat beragama tapi bisa lebih tertib hukum dan lebih beradab kelakuannya dan terlebih lagi, negara mereka lebih maju…
Monday, June 16, 2014
Asli vs. KW Super
MERTUA
Kalau mertua saya itu merupakan pasangan yang punya topeng 1,000. Harus dijamin semua orang tau bahwa keluarganya bahagia dan harmonis. Suasana rumah yang dingin dan bicara hambar dipermukaan adalah kebiasaan mereka. Menghindari konflik dan memendam perasaan adalah bentuk rumah tangga idaman ala pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Senyum manis yang dibuat pakai sakarin memberi rasa lezat dan meninggalkan lekak ditenggorokan. Coba bayangkan ketika kamu ingin marah tapi berusaha untuk senyum, rasakan ada rongga di hidung dan tenggorokan yang terasa lekak sakit yang tertahan. Itu maksudku :)
ORANG TUAKU
Berangkat dari pasangan rebel tahun 80an, mama dan papa terlalu terbuka akan segala kelakuannya baik dan buruknya. Kami tumbuh berasaskan kejujuran meski kadang mengetahui yang jujur itu sakit. Semua orang tau keluarga kami out of the box. Beberapa temanku suka main kerumah karena memiliki sosok mama papa baru yang bisa menerima perbedaan … beberapa orang tua memandang nyinyir karena mama papa terlalu rebel dan tidak normal didepan kehidupan sosial. Kami seperti bilang "oh Sh*t" kepada satu sama lain dengan senyum merekah penuh cinta yang membuat kami tau bahwa kami bisa marah, sedih, senang, baik - baik, berkonflik, atau emosional tapi kami tetap apa adanya.
AKU
Mencoba punya rumah tangga sesuai imajinasi aku disadur dari yang baik - baik perpaduan mertua dan orang tuaku.
Tingkat kegagalan : medium!
Solusi : F**k it!
Moral Lesson : Tidak ada kebohongan dari apa yang kita ucapkan hanya perbedaan persepsi yang memiliki dampak lain dalam menerima suatu pernyataan.
SOUNDTRACK
Selamat ulang tahun perkawinan 1 tahun untuk aku dan suamiku, terserah ucap jujur atau kepalsuan dan lamismu serta pengaruh orang tuamu karena aku bicara apa adanya, sadis, dan abnormal serta pengaruh orang tuaku yang membawa kita pada ranjang yang sama dan membuang waktu bersama sampai nantinya kita berpisah …. semoga sampai mati. Let's get wasted!
pf . June 8, 2014
Kalau mertua saya itu merupakan pasangan yang punya topeng 1,000. Harus dijamin semua orang tau bahwa keluarganya bahagia dan harmonis. Suasana rumah yang dingin dan bicara hambar dipermukaan adalah kebiasaan mereka. Menghindari konflik dan memendam perasaan adalah bentuk rumah tangga idaman ala pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Senyum manis yang dibuat pakai sakarin memberi rasa lezat dan meninggalkan lekak ditenggorokan. Coba bayangkan ketika kamu ingin marah tapi berusaha untuk senyum, rasakan ada rongga di hidung dan tenggorokan yang terasa lekak sakit yang tertahan. Itu maksudku :)
ORANG TUAKU
Berangkat dari pasangan rebel tahun 80an, mama dan papa terlalu terbuka akan segala kelakuannya baik dan buruknya. Kami tumbuh berasaskan kejujuran meski kadang mengetahui yang jujur itu sakit. Semua orang tau keluarga kami out of the box. Beberapa temanku suka main kerumah karena memiliki sosok mama papa baru yang bisa menerima perbedaan … beberapa orang tua memandang nyinyir karena mama papa terlalu rebel dan tidak normal didepan kehidupan sosial. Kami seperti bilang "oh Sh*t" kepada satu sama lain dengan senyum merekah penuh cinta yang membuat kami tau bahwa kami bisa marah, sedih, senang, baik - baik, berkonflik, atau emosional tapi kami tetap apa adanya.
AKU
Mencoba punya rumah tangga sesuai imajinasi aku disadur dari yang baik - baik perpaduan mertua dan orang tuaku.
Tingkat kegagalan : medium!
Solusi : F**k it!
Moral Lesson : Tidak ada kebohongan dari apa yang kita ucapkan hanya perbedaan persepsi yang memiliki dampak lain dalam menerima suatu pernyataan.
SOUNDTRACK
Selamat ulang tahun perkawinan 1 tahun untuk aku dan suamiku, terserah ucap jujur atau kepalsuan dan lamismu serta pengaruh orang tuamu karena aku bicara apa adanya, sadis, dan abnormal serta pengaruh orang tuaku yang membawa kita pada ranjang yang sama dan membuang waktu bersama sampai nantinya kita berpisah …. semoga sampai mati. Let's get wasted!
pf . June 8, 2014
Thursday, June 12, 2014
Quote of the day : to love not to own
“I will never be yours, and you will never be mine;
nevertheless, I can honestly say: I love you.”
- Paul Coelho -
Subscribe to:
Posts (Atom)

