instagram

Pages

Monday, January 13, 2014

Ya Sudahlah yaaaaaa …..

Jantungku berdegup kencang dan sedikit sakit. Nafasku tersengal seperti tidak ada satupun kata yang bisa keluar dari mulutku. Badanku bergetar dan tanganku mengepal serasa ingin menghantam. Wajahku panas persis seperti karakter komik yang memerah karena amarah. Mataku buram tertutup air mata yang juga ingin memecahkan suasana dan mendukung gemparnya…

amarah

Akhirnya kepalaku sakit, perutku mulas konstipasi, nafasku sesak seperti Asthma, dan akhirnya kencingku berdarah. Ya, aku sedang marah sampai sampai pada akhirnya ini berpengaruh pada tubuhku. Ya tepat! Aku terlampau marah sampai tubuhku tak lagi bisa menerima dan melampiaskannya  pada efek - efek samping sakit yang tidak biasa bin ajaib ini.





Seminggu kemarin aku diajak belajar sama alam semesta. Aku diajak belajar mengolah semangat, amarah, dan menerima. Sebenernya ajaran ini sudah berulang kali diajarkan, tapi mungkin aku kelewat bengal atau goblok, tetep aja gagal paham. Tapi aku mau agak congkak sedikit, karena kupikir seminggu kemarin sudah kulalui dengan penuh gejolak tapi pada akhirnya aku paham dan bisa menerima. 

REMUK

Hoooo ya remuk pastinya, ketika seseorang punya harapan sesuatu dan harapan itu sirna. Seperti patah hati yang belum bikin mati tapi ya lumayan remuk. Rasa tidak terima, kecewa, gemes, marah, bingung, dan frustasi akan jadi perpaduan bumbu yang pas dalam segala bentuk amarah. Njuk aku kudu piye aku bingung! Gimana sih caranya menanggulangi rasa ini ketika kenyataan tidak sesuai dengan realita? *akukudupiye

Pilihan 1

Tentunya banyak orang yang mengusulkan untuk berdoa! minta pada Tuhamu maka kau akan diberi HALLLEEELUYAHHHH! helah! kayak Tuhan itu pembantu …. "Tuhan! bikinin minum" … "Tuhan! minta duit!" ….. tapi ya tidak ada salahnya minta pada Tuhan, siapa tau kuatnya sinergi antara doa dan semangat bisa berbentuk pada keajaiban, karena seluruh kekuatan terbesar ada padaNya … aku percaya itu! Asaaaaaaalllll ya tetep musti bisa rela, ketika Tuhan yang dipuja berbagai cara dan dipanggil dengan berbagai nama ini dengan seenak jidatnya melakukan manuver lain - lain memberikan sesuatu yang tidak kita inginkan tapi yang kita butuhkan. Ya sudahhhhlaaahh ya terima aja!

Pilihan 2

Sadar diri aja kalau hidup itu naik turun dan bentuk semangat itu seperti merelakan apapun yang terjadi dalam hidup ini. Dengan demikian, apapun harapannya kita sudah sadar jawabannya bisa iya dan tidak, tinggal diterima aja, karena ini pasti yang terbaik. Ya sudaaahhh laaahhh yaaa terima aja!

Pada intinya, semua orang punya caranya sendiri untuk bersemangat dan menjadikan faktor lain untuk menambah semangat dalam mencapai sesuatu atau berharap akan sesuatu. Mereka hanya sering lupa atau tidak terima atas apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan keinginan mereka. Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi proses remuknya itu? yaaaaa… kalau aku sih sedang belajar menghadapi, menerima, memahami, dan kencing berdarah …. sampai akhirnya … yaaaaa sudahhhlaaahh yaaaaa terima aja!


I do really thank the coincidence of universe for bringing me to watch RUSH the movie as I learn about encouragement and acceptance and to Samuel Mulia for writing "Ya sudahlah ya" article on Kompas, Sunday, 12 January 2014 as I learn about managing my encouragement and acceptance. *isep ganja*











Rush : Someone's Driven by Something

 Ketika disodoring dua pilihan film oleh suamiku antara film perjuangan hidup dan kisah nyata biopic akan sebuah kompetisi, sudah pasti RUSH yang membuat aku ingin tonton untuk menghabiskan akhir pekan. Ya! film yang menggambarkan kompetisi untuk memperjuangkan sesuatu. Untuk kali ini bukan hanya untuk sebuah kejuaraan tapi juga akan pemahaman. Bahwa ada sesuatu hal yang menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu…. Epic!

Oh jelas kehadiran Chris Hemsworth bukan alasan aku menonton ini, tapi Niki Lauda dan James Hunt lengkap dengan drama rival mereka. Tentunya nuansa vintage  dan vivid colour menambah film ini menjadi salah satu favorit untuk menggambarkan kisah nyata tahun tujuh puluhan antara dua juara dunia itu. Kemudian semangat seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai motivasi atas pencapaiannya. Bahwa terkadang bahkan musuh/rival kita menjadi motivasi kita untuk mencapai sesuatu yang ingin kita raih. Tapi tetep ya … apapun yang kita ingin raih dan ingin kita dapatkan, belum tentu sesuai dengan jalan yang sudah ditentukan oleh Tuhan Alam Semesta.

Friday, January 3, 2014

Monster in Law

Sewaktu bekerja dulu di salah satu hotel jaringan internasional bintang lima, aku adalah pegawai termuda di kantor eksekutif. Sebagian besar teman makan siangku ada yang hamil, sudah menikah, sudah beranak pinak, sudah selingkuh, sudah cerai, dan sudah tidak mau menikah lagi. Agak susah menelan setiap makan siangku ketika berkumpul dengan mereka dan bicara hal - hal pernikahan yang mana di benakku sempurna seperti dongeng anak kecil dan dihancurkanlah imajinasi itu oleh cerita mereka. Aku seperti dihadapkan pada Santa Claus itu tidak nyata dan dipaksa memahami. Sialan! menjadi dewasa itu memang jebakan.

Pembicaraan mengenai mertua tentunya merupakan topik hangat selain sex, anak, dan perselingkuhan. Semua teman makan siangku setuju bahwa mertua itu adalah monster berbalut sosok yang harus dihormati dan dituruti. Waktu itu sih aku hanya berbagi senyum karena aku tidak pernah berhubungan dengan orang tua pacar - pacarku jadi tidak tau rasanya menghadapi calon mertua. Lalu kemudian lebih pada menyangkal, masa ada sih mertua yang sampai segitunya memperlakukan menantu. Wah berarti kisah - kisah sinetron kacangan itu benar adanya. Pikirku waktu itu.

Ketika menikah, akupun juga lupa memperhitungan kebijakan keputusanku menikah untuk menghadapi mertua. Kupikir mertua adalah sebatas alih alih ketemu 6 bulan sekali dengan pencitraanku bagai praktisi hubungan masyarakat selama ini yang mampu mendamaikan setiap situasi menghadapi mereka. Gampang! suaraku hatiku begitu. Kalau tau situasi yang aku hadapi sekarang, pastinya 6 bulan lalu aku bilang sama suamiku "Sayang, kita lebih baik kumpul kebo aja!" hahahahaha

Ternyata keluhan mengenai mertua itu sama saja, hanya tingkat keparahannya berbeda - beda. Syukurlah mertuaku itu nilainya 6 dari 10 poin. Tingkat menjengkelkan, intervensi, intimidasi, dan pengaruh konvensionalnya itu masih dalam batas wajar menurut survey famili 100. Tapi….. ini rasanya nilainya 10 dari 10 poin untuk aku yang belum pernah menghadapi mertua dan memiliki latar belakang yang tidak seperti pada umumnya.

Yang membuat aku tertekan, depresi, dan muak dengan kehadiran mertua adalah sebatas karena aku dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga demokrat. Ayah dan Ibu membesarkan aku dengan cara yang gampang, bebas dan bertanggung jawab. My parents was not taking my fierceness personally and never judging them as rebellion against them! mereka menerima aku sebagai anak mereka yang memang beginilah dan ini bukan tentang mereka, ini tentang anaknya.

Ternyata menghadapi mertuaku ini, aku harus berupaya merumuskan beberapa tips ampuh :

BERSYUKUR
Akkkk sialan juga yaaaa ini jawaban klise atas semua masalah diatas segala emosi dan murka aku! Ya sudah, aku berusaha bersyukur karena kalau 29 tahun lalu mereka tidak bercinta maka suamiku itu tidak hadir dimuka bumi ini. Peduli setan cara mereka mendidik anaknya tapi ada sikap - sikap suamiku yang pastinya bikin aku jatuh cinta.

JARAK
Aku tidak mau terlalu dekat dan tidak mau terlalu jauh. Aku tidak mau terlibat dalam urusan pribadi mereka untuk memudahkan aku menjauhkan urusan pribadi aku dan rumah tangga kami dari tangan mereka. Lebih penting lagi, sedikit bicara banyak tersenyum dan tenggak alkohol sebelum ketemu mereka. Ini memudahkan stabilitas emosi dan tekanan jiwa. Sedikit bicara juga membantu aksi menjaga jarak dan sulit didekati. Dengan demikian, hubungan akan terjaga harmonis dipermukaan dan penuh angkara dibelakang. Peduli setan sama yang dibelakang. hahahahaha

KEPUTUSAN
Nah, ini yang paling penting. Mertua tu kan ya alih alih ingin yang terbaik untuk anaknya. Menasihati dan sedikit memaksa untuk menuruti kehendak mereka. Tapiiiiiiii, yang terpenting adalah aku dan suamiku menerima masukan mereka dan mengambil keputusannya. Biasanya pergulatan suami istri itu terjadi ketika suami atau istri nya memihak orang tua mereka bukan pasangannya. Syukurlah suami aku punya cara yang seru untuk menghadapi orang tuanya yang mana mertua aku. Kita selalu nampak "ya iyalah" didepan mereka namun segala keputusan diambil atas mufakat aku dan suamiku saja. Tentunya disini aku juga harus obyektif ya! bukan karena aku sengit lalu semua nasihat mereka itu kuanggap dementor. Aku tetap bijaksana menyaring segala masukan yang diterima.

Contohnya begini :
Mertua : Kalian itu jangan merokok, itu tidak sehat.
Kami : ya ya yaya

Dibelakang mertua : kami sepakat untuk tetap merokok dan membersihkan puntung rokok sebelum mereka datang.

-----

Mertua : Kalian harus memanfaatkan waktu untuk bekerja sebaik mungkin untuk meningkatkan perekonomian rumah tangga.
Kami : ya ya ya ya

Dibelakang mertua : kami sepakat kalau mertua minta ketemu tapi kita tidak mau ketemu, kami beralasan bekerja untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

----

Mertua : ini ada es teler dan rendang enak
Kami : ya ya ya ya

Dibelakang mertua : kami harus obyektif, ini rendang dan es teler emang enak! hahahahaaha ya udah dimakan ajaaaa sihhhhhhh :)




Thursday, January 2, 2014

Hey you! Hey Universe!

Once you make a decision, the universe conspires to make it happen
- Ralph Waldo Emerson - 

Sebagai makhluk yang susah membuat keputusan dan selalu ketakutan akan sebuah resiko, aku hanya bisa punya satu keyakinan bahwa alam semesta akan membantu. Membantu disini tidak hanya mengabulkan keinginanku tapi juga membantu akan sebuah pemahaman bahwa sesuatu harus terjadi meski tanpa sebuah jawaban yang pasti. Bisa mati gila kalau aku terus memikirkan berapa keputusan  dan resiko yang sudah aku ambil di tahun 2013, mulai dari menikah, pindah bekerja bersama keluarga, meninggalkan karir, dan tidak hidup sendiri. Yang aku yakini ya setiap tanggal 1 Januari setiap tahunnya adalah momentum dimana aku bisa menoleh kebelakang dan bilang "oh I've been through much as best as I could" dan bersamaan dengan bersemangat "hello, new year … bring it on!" 

Aku bilang sama diriku sendiri kemarin "ah persetan sama resolusi! dari dulu pingin kurus juga ngga tercapai, dulu ngga pingin kawin eee ternyata sekarang punya suami, dulu bilang pingin sendiri ternyata sekarang malah berkumpul dengan keluarga, dan lainnya yang berkontradiksi dengan resolusiku" Jadi tahun ini aku bebas resolusi! Kupikir tahun yang baru hanya perlu dijalani apa adanya dan menerima segala sesuatu sebagai sesuatu yang terbaik atas usaha semaksimal mungkin yang kita lakukan. Jadi bukan berarti tanpa semangat aku menjalani 2014 tapi lebih kepada, aku ingin terus belajar memahami, berusaha, dan menerima.

Kemudian sepenggal kalimat diatas mengajak aku berpikir bahwa selama ini aku hanya "pingin" dan bukan "memutuskan". Karena kalau aku jadi alam semesta aku akan menjawab "lha kamu pingin kurus tapi makan terus, kamu ngga pengen kawin lha kok memutuskan mau menikah, kamu pengen sendiri lha kenapa pulang kerumah buat ikut berkecimpung dalam bisnis keluarga" lalu kemudian aku tertunduk malu karena tidak paham akan makna "ingin'' dan "keputusan". Jadi untuk menyambut 2014 ini aku mau memahami resiko dari sebuah keputusan dan keyakinan atas sikap yang diambil. Karena membuat keputusan dan menjalaninya adalah sinergi sebuah perilaku untuk sebuah pencapaian. Kalau tidak mendapatkan pencapaian itu barulah efek memahami dan menerima dengan ikhlas sebagai bentuk kedewasaan *elap iler

Untuk tahun 2013 dan sebelumnya, terima kasih untuk setiap naik turunnya kehidupanku. Kesempatan untuk belajar jatuh, belajar merangkak berdiri, dan mensyukuri setiap lebih kurangnya. Untuk harapan yang berusaha aku rengkuh dan yang berusaha pergi. Kepada hati yang dipaksa mati lalu mulai memberi rasa. Kepada setiap pertemuan untuk sebuah perpisahan. Karena nanti suatu saat aku hanya ingin bisa memutuskan untuk bisa meyakini ini semua adalah yang indah dari sebuah proses yang tidak mudah.