instagram

Pages

Wednesday, November 6, 2013

Lovelace : the ordeal survivor

 Let me stated once again, I am not as my husband who can review movies perfectly in technical details and his wonderful perspective. I watch movies for my own enjoyment and for as much as moral lesson I can obtain or apply them in life. So, here is my thoughts about stunning movie I have watched last time with my husband, Lovelace.

This movie is based on true story of Linda Lovelace (starring Amanda Seyfried) also featuring her mom Dorothy (starring Sharon Stone). I call this movie as a survival of darker story in 1970 which porn movies and internet was not yet famous or exploded. Behind this one-hit-wonder porn star Linda Lovelace starring hits porn movie Deep Throat, were suffered from her charismatic hustler husband Chuck she loved once who forced her to be porn star and slut. Escaping a strict religious family, she got the paradigm of sacred catholic marital vow to be devoted and loyal with her marriage and husband. Somehow, this harrowing tale of the pursuit of happiness and the will to survive amid years of horrified abuse turned her to be a spokesperson for sexual freedom, pornographic, and abusive marriage.

Overall, this is tragic yet triumphant life that amazed me and inspired me that no matter how hard I try to be happy no matter the situation is, but I must be critical and smart in facing it.





Monday, November 4, 2013

hijau + stress + kebahagiaan

Waktu SMA dulu, selalunya merayu ibu untuk membelikan alat tulis harus merk Barunson yang kala itu harganya Rp. 5000,-  satu buku. Padahal kalau merk Kiky aja Rp. 5000 itu sudah dapat 10 buku. Rasanya bingung cari strategi apa supaya ibuku merelakan anaknya meningkatkan harga diri dengan brand buku Barunson yang konon gambarnya selalu lucu dan lembar satu dan yang lainnya itu gambarnya beda. Kertasnyapun halus dan kadang ada yang wangi. Pokoknya harus Barunson! Lalu aku pergi ke toko buku itu dan mulai mencari - cari pilihan meski proposal dana belum disetujui. Ada satu buku tulis Barunson yang ketika kubuka ada halaman full warna hijau dengan keterangan "starring at green space reduce stress" …. akhirnya aku beli buku itu dengan seluruh uang saku dan rela pulang jalan kaki. Kutunjukkan pada ibu betapa bergunanya buku Barunson karena bisa menghilangkan stress. BERHASIL!

Sepenggal memori itu yang membawaku berjalan sejenak mencari cara untuk menyembuhkan stress dari kondisi yang ada. Kebetulan aku tinggal di desa ini, dimana tidak mungkin ketika stress aku lari ke coffee shop atau minggat ke rumah teman…. jauhhhhh sekali! Memanfaatkan apa yang ada … begini caraku menghilangkan stress dan tentunya dengan nuansa hijau …







Happiness is a journey not a destination
- anonymous-

Otakmu, Otakku, Otak Kita .. Ayo makan Otak Otak

Ada hal yang baru dan lagi heboh dilakukan khalayak beberapa hari terakhir ini, TES OTAK. Menarik? ya ini bisa dibilang menarik karena kami satu keluarga juga tertarik untuk melakukan test ini.
Kami merujuk pada satu website yang menawarkan test ini : http://sommer-sommer.com/braintest/ .
Jadi ini si Sommer's Brother pemilik agency terbesar yang mengawali usahanya hanya berdua kakak beradik tanpa staff dan tanpa modal, memiliki keyakinan akan kinerja otak yang mampu menjadi tumpuan kesuksesan. Katanya begini :

“Bridging the gap between strategy 
  and creativity is key to successful 
  brand communications.”



  A philosophy both Sommer brothers believe in – 
  Leonard and Gordon.


Syukurlah ketika melewati test itu, hasil milikku adalah begini :




Menurut penjelasannya :

OTAK KIRI
logika, peraturan, strategi, kecerdasan

OTAK KANAN
intuisi, perasaan, kreatifitas, perasaan

Lengkapnya bisa dibaca sendiri di pembahasan web tersebut tapi yang aku syukuri adalah hasil dari test otak itu entah validitasnya berapa persen tapi itu seimbang. 

Beberapa tahun lalu aku diajari untuk menyeimbangkan antara perasaan dan logika. Rasanya juga sulit sekali untuk mengajak otakku diam sejenak ketika rasa dan logika bergejolak lalu menstabilkannya dan kemudian itu menjadi kebiasaan. Berhasil? mungkin tes otak itu menunjukkan aku berhasil tapi pada kehidupan sehari - hari aku masih kesulitan atau masih punya perang yang harus aku damaikan atau aku seimbangkan. Tetap tidak ada yang sempurna yakan yakan?!?! heheehe. 

Apa sih keuntungannya kalau otak kita seimbang? ini menurut pemahaman aku. Kita ambil saja contoh ketika aku ada di bisnis furniture milik papa yang katanya (entah papa rela atau tidak) suatu saat nanti diwariskan ke anak - anaknya. Dalam sebuah bisnis harus ada keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan. Nah, setelah di test otak … si papa ini otak kiri jauh lebih tinggi dari otak kanan. No wonder ya 27 tahun perusahaan ini berdiri biaya yang dikeluarkan seimbang dengan pemasukannya :) artinya kalau kata cina ini bisnis panas, kurang untung.

Ketika kita bisa membuat satu produk, mengupayakan kualitas, dengan kecerdasan, dan strategi …. itu tidak cukup. Kita juga harus memahami pasar dengan perasaan, intuisi, dan memberi masukan inovasi atas produk tersebut serta terus mengasah kreatifitas dalam mengembangkan produk. Maka, keseimbangan itu akan mengarah pada suatu harapan kesuksesan.

Tapi ya sekali lagi entahlah validitas test otak ini bagaimana … mungkin kalau aku tau Donald Trump itu equally use his brain, baru aku percaya :)

Wednesday, October 23, 2013

Stop Labeling!


Aku baru saja ditegur karena memberi label atas suatu kejadian. Iya, aku memberi label orang – orang yang mengunduh aplikasi blackberry di ios atau android itu ngga asik, aneh, labil, dan ngga bisa move on. Astadjim, aku nyinyir. Lalu aku lirik juga top favorit download di apple store dan blackberry menjadi 10 besar jumlah pengunduhnya. Hmmmm … baiklah ternyata mainstream *eh kok labelin lagi… Padahal ya, belum lama juga ada quotes  yang aku sampaikan di social media Path bunyinya begini :

Nah, bisa membayangkan kan bagaimana malunya? Selain malu aku mati - matian introspeksi diri. Perut rasanya mual, kepala nyut nyutan, dan rasanya nafsu makan hilang. Cukup drastis kan efek malu ini ... mungkin juga kalau dalam setahun kedepan aku langsing, pasti karena sering malu. Mau introspeksi diri itu rasanya juga tidak mudah karena emosi dan kesadaran diri itu perang sodara didalam otak. Akhirnya aku putuskan untuk diam sejenak. 

Kemudian siang ini ada video yang mengusik hati dan mendukung aku untuk menulis ini :

Dalam video ini kita diberi gambaran bahwa kita tidak bangga terhadap diri kita sendiri karena terlalu banyaknya label yang diberikan oleh kehidupan kita cantik itu putih, pintar itu pakai kacamata, dengerin lagu dangdut itu norak, beli sandal crocs itu alay, keren itu langsing, iphone itu eksklusif, dan lain sebagainya. Padahal masih ada penilaian obyektif yang bisa membangun dan membuat kita tidak rendah diri. Lalu, kenapa aku tidak menjadi 1 orang saja yang mendukung pemikiran obyektif itu untuk mengajak orang lain menjadi bangga akan apa yang dimiliki dan diyakini. 

Jadi, mulai dua hari yang lalu aku mundur sejenak dari sosial media. Berusaha memahami diriku, belajar untuk diam dan tidak nyinyir memberi label tapi lebih menerima orang lain apa adanya. Tidak hanya supaya orang lain itu tidak rendah diri, aku pun juga perlu belajar untuk bangga akan apa yang aku miliki. 

Jadi ya berat juga lho ya tantangan ini padahal kan aku suka banget ngatain orang norak, alay, kimcil, wagu, nggak asik, mainstream, kampungan, nggak smart, balungan gajah, bitch, dan label label kasar, sinis, serta jahat lainnya. Entahlah nanti bakal bertahan sampai kapan tapi aku mengakui kalau sikapku ini tidak baik dan dengan senang hati mencoba memperbaikinya.