instagram

Pages

Friday, June 21, 2013

Menua Bersama Mustafa!

Jadi sejak hari Sabtu, 8 Juni 2013 kemarin itu akhirnya Musdalifah punya temen hidup, namanya Mustafa. Gegap gempita pernikahan mereka itu dilalui dengan proses yang panjang, rumit, tapi lancar berkat penyelenggaraan alam semesta dan illahi *hidih ... ya tapi toh nyatanya lancar, jadi Musdalifah sering sekali komat - kamit mengucap rasa syukur mulai dari tenggat waktu yang mepet untuk surat ijin kevikepan untuk keperluan pemberkatan yang akhirnya dilancarkan, baju resepsi yang baru datang 3 hari sebelum hari H namun hasilnya memuaskan, bahkan sampai celana dalam impor Musdalifah yang terpaksa dilempar ke loteng untuk menghentikan hujan (kalau untuk ini Musdalifah sangat bersyukur karena menurut mitos hanya celana dalam perawan yang bisa menghentikan hujan, namun demikian halnya hujan tetap berhenti ... *uuwyeeahhhh) <-- jadi pencitraan Musdalifah yang bersih itu yang dia syukuri ... termasuk wangi melati yang semerbak karena konon katanya kalau tidak wangi, tidak perawan.





Menjalani kehidupan sebagai teman hidup Mustafa, Musdalifah jauh dari sosok istri yang selama ini digambarkan dalam kisah - kisah legenda atau sinetron. Pagi hari, biasanya Musdalifah menyiapkan kopi dan rokok, karena memang begitu ritualnya selama ini, lalu kemudian membangunkan Mustafa sambil bercanda sebentar... biasanya kebablasan karena pada dasarnya mereka berdua makhluk yang enggan beranjak terlalu cepat dari tempat tidur. Sarapan? mmmmm tergantung kondisi, kalau ada ya ada kalau nggak ya nggak ada. Makan siang Mustafa pun seadanya, pernah sekali Musdalifa memasak tapi kemudian enggan dan hanya menjejalkan apel kedalam tas Mustafa. Untuk urusan cincin kawin, mereka masih suka lupa mengenakan, namun berusaha mengingatnya sebelum berangkat kerja. Sore harinya, tetap dengan tawa yang renyah dan selalu bercanda, Musdalifah dan adiknya menyambut Mustafa pulang ke rumah. Terkadang mereka makan bersama, kadang tidak, atau bisa langsung ke kamar untuk menonton TV dan menyambut kantuk.

Look at Mustafa's Limited Edition Reebok
ala ala Justin Bieber Shoes ... :)


Mustafa pun juga jauh dari sosok bapak - bapak atau suami kebanyakan. Gayanya simpel seperti anak muda dengan sepatunya yang aneh - aneh. Kaos dan jeans adalah seragam wajibnya setiap hari. Kekanak - kanakan juga menguatkan karakter Mustafa. Hanya saja, kalau mengenal Mustafa lebih jauh, dia orang yang diam dan tegas, ringan tangan kalau dimintai bantuan, caranya bicara selalu tenang dan apa adanya, tidak pernah menuntut, hangat dan penuh cinta. Jadi dibalik gayanya yang seperti Justin Bieber, Musdalifah tetap selalu bisa berkompromi bersama Mustafa.

Jadi, ketika Musdalifah dan Mustafa menerbangkan 'lantern of hope' pada acara resepsi pernikahan mereka, berikut doa Musdalifah ... " Terima kasih Alam Semesta dan Tuhan yang aku puji dengan caraku, sekarang aku punya sahabat seumur hidup terbaik melebihi harapanku selama ini "

Lantern of Hope - Saturday, June 8, 2013







Monday, May 20, 2013

So be it



So be it ring :)
Jadi kemarin itu ketemu Musdalifah, wajahnya sumringah lengkap dengan garis matanya yang tajam dan senyumnya yang selalu hangat. Darah arabnya memang tidak kental, tapi dia selalu bilang ketika ditanya kenapa matanya bisa bersinar dan tegas, jawabnya "aku punya darah Arab kakekku". Katanya Musdalifah sedang jatuh cinta dan seperti menemukan kisah cintanya yang lama pernah hilang, lalu aku sempatkan bertemu Musdalifah, tanpa Mustafa. Meski aku tau siapa Mustafa, bagaimana dia selalu diceritakan Musdalifah dulu. Dan Musdalifah wajahnya hanya tersipu - sipu dan selalu dengan sentuhan sederhananya menjawab dengan lugas, tepat, cerdas, dan selalu tulus "Jadi mas, percaya saja, kalau memang sudah saatnya, sudah waktunya, rasanya seperti alam semesta mengatur segalanya sehingga pada ruang dan waktu itu aku bertemu dengan Mustafa dan kami berjanji untuk tumbuh dan menua bersama, meski siapa yang sangka sudah 8 tahun lamanya aku tidak bertemu dengan Mustafa..... So be it"

Tidak lama pertemuannya, hanya 15 menit dari sela kesibukannya dan persiapannya meninggalkan karirnya menahun untuk berpulang meneruskan usaha ayahnya dan tumbuh bersama Mustafa. Aku melayangkan pertanyaan terakhir, "sudah percaya Mustafa? sudah belajar mencintai lagi?" sekali lagi dia tersenyum, nampak banyak sekali kata - kata dipikirannya, yang ingin disampaikannya, namun kesempatan tidak banyak, katanya " Mustafa membuat semuanya mudah dan aku tidak mempersulitnya lagi... "







Dear you, 

Thank you for writing this simple talk.

Cheers, 
Musdalifah

Tuesday, May 7, 2013

Obrolan Puluhan Juta


Selama ini kalau ketemu Samuel Mulia, adalah suasana formal, dan tidak pernah bisa punya waktu untuk bicara banyak. Meskipun dia idolaku dan artikelnya selalu aku baca setiap minggu, harapan untuk ketemu Samuel itu bisa dibilang semu, manalagi ditambah sebagai konsultan merk – merk ternama di Indonesia, penulis, pengamat lifestyle, dan dibayar karena nyinyir, sudah membuktikan dia orang dengan kesibukan tingkat tinggi sekelas sosialita yang tidak bersahabat. Mungkin ya itu tadi, musti punya puluhan juta buat bisa ngobrol dan konsultasi sama Samuel.

Jadi kalau sore ini dikasih kesempatan alam semesta buat ngobrol sama Samuel, aku akan menyebuyna obrolan puluhan juta gratis untuk Stella Amirta. Samuel itu tidak mengajarkan teori, dia itu berbagi pengalamannya.

BISNIS DAN MANAJEMEN
Bicara bisnis, Samuel setuju dengan rencanaku. Selain kami sama – sama punya pengalaman buruk akan ayah kami masing – masing, dia juga mendukung bahwa ketika aku melanjutkan usaha ayahku, maka itu melanjutkan, bukan membantu. Kalau membantu artinya sosok ayah ada disitu, kita tidak belajar, tapi berlindung dan tidak maju – maju.

Tidak perlu belajar manajemen seperti cash flow, budget, pajak, dll. Cukup sebagai pemimpin, kamu harus siap mendelegasikan konsep dan pekerjaan kepada anak  buah, percaya dan tidak mematikan potensi mereka, namun memanfaatkan potensi mereka untuk kemajuan bersama. Omong – omong nih ya, ngobrol sama Samuel itu tidak seformal yang aku tulis di blog ini, nuansa gelak tawa nan rusuh seperti kata – kata “coli”, “bangke”, “tai”, dan kosakata yang belum pernah aku dengar sebelumnya memberi warna obrolan sore itu, tentunya dengan gaya berceritanya yang penuh semangat dan kemayu.

DON’T FUCK THE BRAND
Nah, kalau udah punya brand dan konsep, tugasnya ya menanamkan itu layaknya seperti brainwash. Sebagai contoh, Samuel menceritakan sebuah brand susu pria yang kita kenal dengan iklan – iklannya pria bertelanjang dada dengan celana jeans. “Kamu liat itu stella, mentang – mentang ownernya HOMO, dia menanamkan konsep itu bukan susu lelaki tapi malah susu HOMO. Bayangin aja, lelaki mana yang ngga eneg mau minum susu kalau disodorin pria telanjang dada dan keliatan jembutnya. Belum lagi acaranya di TV malah cowok – cowok gelayutan ditonton pria homo… “ Jadi kalau punya brand, bikin itu sebagai tokoh yang komplit karakternya, baru kita bisa memasyarakatkan brand  itu dengan baik.

KEYAKINAN
Cukup absurd juga ya bicara sama Samuel itu, yang kami bicarain itu ngga cuman bisnis tapi ada juga religi, kalau nggak ya cerita pengalaman.
Kalau bicara ini, cocok banget sama Samuel. Dia tidak percaya agama J tapi dia berdoa sesuka hatinya dan semaunya dia sendiri. Seperti sore ini dia bilang “sebenernya gue biasa berdoa Koronka, diatas sajadah berbulu gue secara gw banci dan nungging. Tapi buku koronka gw ilang”. Seperti aku, kami percaya bahwa aku mau ngga mau lahir di dunia ini walaupun ngga pernah minta, dan jadinya orang jawa, trus punya orang tua seperti itu, dan diberi kehidupan itu karena sudah diatur nasib dan tidak ada sesuatu hal yang bernama kebetulan, semuanya sudah teratur. Tidak peduli orang mendukung atau tidak pemikiran ini atau percaya tidak akan cara berpikir ini, tapi nikmatilah kepercayaan kamu.

Yang penting itu kita percaya bahwa kita tidak berkuasa, tapi ada kuasa lain diatas kita. Jadi kalau kata Samuel, "kalo lo ga terima gw banci, gimana gw yang dikasih banci, nah pegimane lagi yang punya kehidupan nyiptain gw banci, berarti lo ngehina salah satu karya ciptaanNya." 

Selain itu, sebaiknya aku sisakan ceritanya untuk Mama, Papa, Tito, dan Mustafa saja, karena terlalu vulgar untuk ditulis disini. Tidak semua orang bisa menerima pemikiran yang beda, padahal katanya perbedaan itu yang membuat hidup Indah. Berangkat dari situ, aku memutuskan untuk menyudahi tulisan singkat ini. Yang jelas, mendapatkan obrolan seharga puluhan juta itu hadiah terindah sebelum menikmati hari – hari terakhir di karirku sebagai Public Relations dan Marketing Communications dan menyongsong pernikahanku yang sudah tinggal menghitung hari. *cuman sekarang rada ketar ketir karena Samuel punya inspirasi buat nulis artikel parodinya atas pertemuan sore ini …. Mau nulis apa ya dia? 

Saturday, April 13, 2013

Ibu - ibu Bicara Titit


Selama kami kursus perkawinan, Mustafa rajin menulis dan menceritakan pengalamannya selama kursus perkawinan sesuai dengan apa yang diajarkan setiap harinya. Entah kenapa kali ini ketika mempelajari ‘pengenalan reproduksi’ Mustafa nampaknya enggan menulis. Jadi mari kucoba saja untuk menulisnya, ala Musdalifah.


Jadi hari itu aku dan Mustafa mulai berpikir cabul karena sore itu akan bicara mengenai pengenalan organ reproduksi. Imajinasiku juga sudah mulai melayang karena seharusnya ini akan menjadi pembicaraan seru bak mengulas satu kitab Kama Sutra dan melihat perspektif alat kelamin dan perkawinan menjadi sisi yang sangat menegangkan nan menarik. Aku juga membayangkan mengenai bagaimana kita nanti akan diberi saran menjaga hubungan intim suami istri dengan baik, supaya mencapai kepuasan bersama bak menyaksikan Dr. Boyke yang menyenangkan dalam sebuah talkshow interaktif penuh makna *halah.

Memang betul bagi aku dan menurut aku, jadi bolehlah kalau ada yang ngga setuju, kehidupan sex rumah tangga itu penting. Bercinta itu harusnya menjadi sarana rekreasi pelepas penat suami istri dan jadi aktifitas favorit yang menyenangkan. Jadi waktu sebelum aku memutuskan mau menikah dengan Mustafa, aku selalu sigap menjawab ketika ditanya salah satu harapan pernikahanku adalah calon suamiku harus bisa bikin aku nafsu dan good in bed. Rasanya berat juga ya kalau aku harus bercinta dengan orang yang sama seumur hidup (baca: setelah menikah) kalau orang itu sama sekali ngga bikin nafsu dan bahkan enggan untuk bercinta, what a lame my life will be. Mungkin ini dikarenakan aku, Musdalifah, memiliki darah Arab yang menurut penelitan memiliki kadar libido yang diatas rata – rata dan pastinya hot in bed *trust me! Tapi nggak juga, aku yakin beberapa wanita modern, mandiri, dan berwawasan luas seperti aku, berpendapat demikian *chin up.

Oke, lanjut pada perjalanan kursus perkawinan hari ini, Mustafa dan Musdalifah sudah saling mengirimkan pesan “horeee, nanti sore kita akan lihat gambar saru!” *sungguh cabul sekali kan mereka ini. Namun ternyata, pasangan Mustafa dan aku ini memang tidak mujur ya kalau berhadapan dengan sebuah kelembagaan yang kaku dan agama. Sore itu kami dihadapkan oleh dua orang ibu – ibu arisan (salah satunya berprofesi sebagai bidan) yang bicara titit (baca: alat kelamin) aja pake sungkan – sungkan karena saru, ditambah lagi lamat – lamat bicaranya layaknya ini semua tabu, menjelaskan bagian – bagian alat kelaminpun juga sering mencontek, dan mereka seperti malah melihat dari perspektif yang mengerikan seperti penyakit kelamin, ibu – ibu dengan tato yang kemungkinan HIV *singak!, dan proses kelahiran yang menyakitkan. Bahkan salah satu ibu itu bicara demikian, “sakitnya itu walaupun si ibu itu cantik kayak apa, pasti mukanya akan semakin jelek ketika kesakitan mau melahirkan” *sembari memandang wajahku yang membuatku berpikir aku ini cantik dan lemah dihadapannya *halah …. J

Ah, kandas sudah deh harapan melihat kitab Kama Sutra, nampaknya Mustafa dan aku perlu bereksplorasi sendiri, toh kami cabul dan kami yakin pasti kami akan seru sekali nanti kehidupan pernikahannya jadi kami tidak peduli meski pengetahuan yang kami serap sedikit sekali. Di penghujung acara, calon – calon mempelai putri ini diberikan susu sample pendukung masa – masa menjelang kehamilan *yippie … . Ya sudah lah bu, aku yakin kalian pasti ndak tau apa itu big “O” jadi mungkin tidak ada yang menarik bagi ibu – ibu arisan selo ini untuk berbagi mengenai indahnya kehidupan intim suami istri *sigh.