instagram

Pages

Thursday, April 11, 2013

Mustafa dan Nyali


Ini juga jangan bilang – bilang Mustafa, meski ini bisa dibilang tulisan balasan atas apa yang ditulis Mustafa dalam blognya.
Aku bukan penulis, tidak seperti Mustafa yang pandai merangkai kata – kata dalam sebuah tulisan. Terlebih lagi ketika kosakata yang aku miliki lebih sedikit daripada Mustafa.
Kalau kata Mustafa, aku lebih pintar bersilat lidah daripada menulis mengingat profesiku sebaga Humas yang terkenal bullshit ini.
*Namun patut diakui kepiawaianku ini berhasil merebut hati banyak orang mulai dari atasan, owner, juga mertua … J
Cukup mengenai aku, jangan sampai gagal fokus karena kita harus membicarakan Mustafa diam – diam.

Waktu ditanya kenapa aku mau menikahi Mustafa, aku kesulitan menjawab karena alasannya ya karena itu Mustafa, bukan Don Juan, bukan Abul Zakir, atau nama – nama lainnya yang pernah ada dikehidupanku. Toh katanya Cinta itu tanpa syarat dan alasan, jadi aku sudah cukup membual dengan menjawab “Karena itu Mustafa, aku mau menikahinya dan menjawab iya ketika dilamar”. Namun demikian, tidak mudah juga ditanyai teman – teman dekat mengenai Mustafa, mengingat pencitraan Mustafa itu salah kaprah dimata teman – temannya. Ada yang bilang dia itu gombal, penjahat kelamin, playboy, tidak mapan, kekanak – kanakan, dan lain sebagainya yang tetap tidak menyurutkan niatku untuk mau dipinang Mustafa.

Dimataku Mustafa ini orang yang sangat santai, dia yang bisa mengajarkan aku untuk “Keep calm” dan hidup itu tidak perlu ngoyo. Dia juga memberi aku gambaran untuk tidak perlu kuatir betul akan kehidupan, jadi kalau hidup sama Mustafa itu mungkin semacam ‘makan ngga makan asal kumpul’. Ah, tapi tidak juga, coba sodorin Mustafa dengan sepatu salah satu merk yang mahal, celana jeans dengan merk yang mahal, hem dengan merk favoritnya yang juga mahal, dan juga gadget impiannya yang pastinya juga mahal, mungkin dia akan termotivasi untuk menabung dan bekerja lebih giat. Karena menurut Mustafa, penampilan itu utama sepertinya ….

Saking tenangnya, Mustafa ini banyak diam dan jarang bicara. Sejak 2004 kita saling mengenal menjadi selingkuhan, aku juga mengenal Mustafa sebagai sosok antisosial, rebel, pendiam, dan pintar menulis. Dituliskannya kepadaku beberapa coretan kecil dan dipanggilnya aku ini Madu …. *entah dulu mungkin aku korban rayuannya atau seperti bagaimana dia meyakinkan aku memang dari dulu Mustafa sudah tertarik kepadaku uwwyeaahh!. Berpisah dari sejak 2004 karena aku ketahuan berselingkuh dengan Mustafa, maka diputuskannyalah tali silaturahmi kami dan aku tidak pernah lagi menemukan Mustafa sampai pada awal 2012 kemarin. Berubahkah Mustafa? Sampai saat ini aku belum tau dan belum mengenal Mustafa secara menyeluruh, namun ini akan jadi perjalanan yang seru untuk mengenal dirinya. Yang jelas, dia tetap pendiam menurut aku … tidak secerewet aku yang banyak bercerita. Waktu pertama kali bertemu di tahun 2012 pun aku sempat kehabisan bahan pembicaraan karena dia terus saja menatap aku tanpa bicara banyak. *mungkin dia sudah kena pelet penakluk lelakiku ahay!

Jangan terlalu banyak memberi wejangan kepada Mustafa, dia bisa lari tunggang langgang atau ekspresi wajahnya berubah menjadi monster karena dia benci sekali dengan orang yang terlalu banyak memberi nasihat seperti hidup mereka sudah siap mati sempurna. Cukupkanlah Mustafa dengan beberapa cerita pengalaman hidup, pasti dia akan mengerti dan dia juga sudah cukup tau untuk mengambil sikap dalam hidupnya.

Usut punya usut mengenai Playboy, ternyata Mustafa tidaklah playboy, hanya pencitraannya saja yang salah. Jumlah mantan kekasihnya, tidak sebanyak mantan kekasihku. Kenakalannya belum seberapa dengan kenakalanku. Jadi bisa dibilang, pencitraan Mustafa ini salah dimata beberapa orang, mungkin karena dia ini tidak piawai menjadi Humas, tidak seperti aku. Mustafa ini selain apa adanya, orangnya all out dia terkenal baik hati dan tidak perhitungan. Jadi sebenernya dia ini gampang dikadalin *eh … J Oleh karena itu, tidak perlu diragukan, banyak wanita – wanita yang jatuh hati kepadanya karena memang baik hatinya.

Untuk masalah nyali, sebetulnya ini masih jadi pertanyaanku sejak bertemu dengan Mustafa. Aku masih tidak habis pikir dan mungkin kami ini juga masih tidak habis pikir dengan keputusan kami untuk menikah. Mengingat kami sama – sama tidak percaya pernikahan dan agama, cukup mencengangkan juga sampai kami akhirnya bisa melewati proses perkenalan antara calon besan, proses lamaran, dan sampai saat ini kami menjalani penyelesaian keperluan surat nikah mulai dari sipil dan gereja, juga hendaknya kami mengikuti katekisasi serta kursus perkawinan yang kadang – kadang juga mengganggu pola berpikir kami yang terlalu absurd. Namun inilah Mustafa, dibalik sikap kekanak – kanakan dan manjanya sebagai anak bungsu, namun dia betul – betul punya nyali untuk mengajak aku menikah dan sebagai seorang calon mempelai dia sangat menyenangkan diajak bekerja sama. Seperti pada pagi ini, merapihkan dokumen, merangkum pengeluaran, menyelesaikan desain undangan, membuat buku pemberkatan, memilih lagu – lagu yang akan dinyanyikan, dan kesana kemari mendampingi aku menyelesaikan semua – semua procedural yang melelahkan tetapi merupakan tantangan yang menarik. Jadi Mustafa, lebih baik aku saja yang santai – santai disini dan memastikan semuanya beres sembari menikmati kopi dan sebatang dua batang racikan tembakau.



Nyali - Naif
Kekasih,Telah bulat hatiUntuk ucapkan sebuah janjiBila engkau mau menanti
Bagaimana caranya akuMengungkapkan maksud hatikuAndai engkau mau mengerti
Tuhan...Beri aku nyaliUntuk mengucapkan janjiSehidup sematiAku tak ingin lagiMembuatnya menunggu untuk sesuatu yang tak pasti

Saturday, February 9, 2013

Marriage


Love will not keep your marriage together, strong commitment will
- experienced everlasting parents - 

Tuesday, January 15, 2013

Les Miserables | Extreme Unhappiness





Barusan buka google untuk mencari tau apa sih arti dari Miserable itu, bagaimana kamus menjabarkan sebuah rasa Miserable  yang pasti diambil dari kata Misery itu. Ternyata artinya itu bisa dibilang Extreme Unhappiness.
Kalau bicara soal rasa, setiap orang punya batas kebahagiaan dan tidak bahagianya sendiri – sendiri. Itulah kenapa sebagai orang yang suka sekari mencari jawaban, aku paling kesulitan menanyakan soal rasa, karena jawabannya tidak ada yang pasti. Lebih mending nanya isi tabunganku, pasti dengan cepat aku jawab “Rp. 0 ,- saudara – saudara terkasih!”

Waktu berencana untuk menonton Les Miserables, sebuah film musical yang diangkat dari novel Victor Hugo, aku juga bertanya – tanya “Miserable nya bakal separah apa sih?” bersusah payah aku mengingat cerita novel yang aku baca jaman kuliah dan aku tidak menyerapi ceritanya namun hanya sekedar membaca dari sudut pandang dosen demi mendapatkan nilai A *jebule aku kehilangan esensi cerita itu sendiri* . Ternyata oh ternyata, film yang apik ini menguras air mataku juga dan bagaimana sebuah rasa ‘extreme unhappiness’ itu digambarkan sempurna melebihi kisah hidupku dan meski masih kurang nelangsa dari kisah penyaliban Yesus *hadah*betul betul membuat mewek!

Jadi inget dulu jaman kuliah dan membaca novel ini lalu si pak dosen bertanya “apa pelajaran moral dari novel ini?” tetap saja aku berusaha menjawab dari persepsinya dan aku tidak memaknai novel ini. Hanya kali ini aku yang sudah dewasa *baca DEWASA bukan MENUA* mulai bisa mengambil sisi moral yang bisa memberiku gambaran tentang kehidupan. Kisah ini mengajakku mengunjungi 3 fase kehidupan dalam hidupku, dari aku yang belum merasakan kehidupan yang menyedihkan, lalu aku yang pernah melalui masa menyedihkan itu, kemudian bangkit dari rasa sedih itu. Sekarang aku bisa cukup mudah mengatakan pada diriku sendiri I’m not into that miserable for I have faith and belong to His fate!

Eh ini schene si Fantine ‘Anne Hathaway’ waktu meratapi nasibnya dan lagu ini sangat – sangat tepat dipilih untuk menggambarkan kehidupannya yang sangat – sangat miserable. My favorite scene ever! 


I dreamed a dream in times gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving

Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung no wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they tear your hope apart
As they turn your dream to shame

And still I dreamed he'll come to me
That we would live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather

I had a dream my life would be
So diff'rent from this hell I'm living
So diff'rent now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed





PS: tulisan ini sebenarnya untuk Ibu, yang tadi pagi menghubungi dan menanyakan soal ‘rasaku’. “Bu, tidak perlu engkau kuatir akan segalapun yang tidak pasti. Biarkan mereka bicara seenaknya dan menilai sesuka hatinya, tapi ini tetap hidup yang harus dijalani kita sendiri. Apapun rasa yang aku alami saat ini biarlah ini jadi bahagia atau dukaku dan mungkin jika hidup harus membunuh mimpiku sekali lagi, biarlah aku berkata kepada empunya kehidupan, ‘Oh, shit man! That hurts’” *hehehehehe “

Monday, January 7, 2013

Oh Shyut! Happy Anniversary!

Mommyta : Aku pengen cerai dari Papa | Me : Ya sudah, cerai saja asal kalian bahagia
- April, 2010 -

Bu, ingatkah dirimu hari itu. Ketika semesta sedang tidak berpihak pada kita dalam sisi yang baik namun sebetulnya jika dirimu mau melihat lebih dalam lagi, semesta sungguh sangat mencintai kita karena membantu kita untuk mengingat kembali dari sebuah kelupaan. Lupa akan sebuah makna, yang mereka sebut kehidupan.

Sebenarnya aku lupa Bu, kalau tahun baru kemarin itu perayaan 28 tahun perkawinanmu. Mungkin karena aku terbaring sakit dan aku jadi semacam lupa *mulai cari alasan*. Dari perkawinanmu aku banyak belajar bu, sungguh...

Entah apa yang aku pelajari, namun bukan seperti statement yang pernah kita perbincangkan di suatu perjalanan pagi diatas. Aku tidak belajar untuk meninggalkan, aku tidak belajar untuk berlari dari masalah, aku belajar akan sebuah kesetiaan, aku belajar untuk mencintai, dan aku belajar untuk sebuah komitmen, kemudian nantinya aku belajar terus sampai suatu saat nanti aku hanya akan tersenyum mengingat suatu hari aku melihat wajahmu dan Bapak, wajah sebuah ketulusan.

Selamat hari jadi perkawinan ya!
28 tahun bukan sebentar tapi bukan juga sudah usai dan seperti yang diingatkan semesta padaku hari ini, bu... bahagia itu  bukan tujuan, melainkan perjalanan itu sendiri.