instagram

Pages

Wednesday, April 30, 2014

Pilah Pilih

Sehabis pemilu dan Kartini yang ngga ada hubungannya sama sekali babarblas  (baca : not at all), aku merangkum kejadian - kejadian akhir - akhir ini yang bisa jadi semangat buat bangun tidur. Ngga tau kenapa bangun tidur sekarang makin hari makin berat. <--- ah ini sih alibi kemalasan aja sebenernya.

Beberapa waktu lalu temanku bilang kalau hidupnya itu tidak ada pilihan dimana dia harus menghadapi suaminya yang suka melarang dan hidup sama mertuanya yang hobinya mengkomparasi dia dengan mantan - mantan pacar suaminya. Well, for me life is full of choices! jadi kalau kamu sekarang hidup dengan suami dan mertua yang bikin kamu ngga bahagia dengan bilang ngga ada pilihan, itu hanya menambah beban hidup saja. Kenapa ngga memberi semangat pada diri sendiri .. ya ini suami yang kupilih, jadi walaupun suka ngelarang, tapi dia ganteng jadi aku suka. Nah, aku milih mertua ini .. kalau aku ga mau ama mertua ini ya kemarenan pacaran ama si bambang, atau joko aja … tapi mertuaku ini masih mending, paling nggak dia kaya raya walaupun suka minta ditoyor kalau ngomong. Alhasil, cara kita menjalani hidup jadi lebih mudah.

Seperti ketika pemilu kemarin, bingung juga pilihannya banyak banget. Jadi rasanya aku ngga ada pilihan buat memilih yang terbaik. Tapi aku memilih untuk mencoblos saja semuanya. Resiko aku adalah aku tidak punya suara, tapi aku tidak sakit hati kalau anggota DPR nya berkhianat, dan untungnya dengan aku mencoblos semuanya, kertas suara aku tidak disalah gunakan. Jadi aku adalah warga negara yang bebas memilih dan menerima semua resiko dan keuntungannya dengan lapang dada! *uwyeah!

Jadi, satu - satunya hal yang menurut aku ngga ada pilihan adalah aku terlahir di dunia ini … the rest is our choices .. even when you are under pressure, it's your choice to be under … I prefer on top!




Thursday, April 10, 2014

single (busy) ladies rules

Be soft. Do not let the world make you hard. Do not let pain make you hate. Do not let the bitterness steal your sweetness. Take pride that even though the rest of the world may disagree, you still believe it to be a beautiful place.
Kurt Vonnegut
Pagi ini salah satu sahabatku menuliskan harapannya untuk segera menemukan pasangan hidup untuk bisa berbagi dalam segala naik turun kanan bawahnya kehidupan. Aku sengaja memberi semangat bahwa dia pasti bisa dan aku ingin berbagi harapan itu. Bukan, aku bukan ahli dalam hal ini dan tulisan ini tidak menjamin 100% seluruh wanita yang saat ini masih sendiri lalu segera mendapatkan pasangan. Hanya sekedar 28 tahun aku hidup ini punya beberapa pengalaman yang mungkin bisa menjadi inspirasi atau sekedar harapan bahwa teman hidup itu pilihan dan takdir itu cerita lain.

Aku juga pernah menjadi wanita yang mandiri dan super sibuk. Aku tidak punya kekasih yang resmi dan waktuku itu 12 jam untuk bekerja, 8 jam untuk tidur, 2 jam pagi hari untuk siap - siap, dan 2 jam sepulang kerja untuk waktu luang yang kadang aku pakai untuk mengurung diri di kamar kos atau sekali waktu bercengkerama dengan teman dekat. 12 jam dalam kesibukan itu juga bukan waktu yang longgar, telepon, email, dan percakapan  chatting itu benar - benar penuh untuk dibalas dalam lingkup pekerjaan. Aku seperti tidak punya waktu untuk sekedar menjawab "hai good morning!" atau "have you had your lunch? dinner? sleep well?" Bukan .. bukan maksud sombong untuk menjawab, tapi bahkan membuka laman sosial media untuk sekedar bla … bla.. bla … dalam kehidupan sosial saja rasanya tidak sempat.

Resiko yang aku dapatkan adalah ketika semakin banyak aku bertemu orang baru apalagi pria dengan berbagai karakter, pencapaian, kecerdasan, dan lain lain juga mempengaruhi standardisasi keinginanku dalam memilih pasangan hidup. Disisi lain, semakin dalam aku berkecimpung dalam kesibukan dan kehidupanku, beberapa pria yang mencoba mendekati pun memilih untuk mundur dengan alasan, pesan tak berbalas, kehidupan aku yang susah disejajarkan, dianggap sombong, dianggap tidak punya waktu, dan berbagai alasan lainnya. Hal ini juga membuat aku terjebak dalam hubungan tanpa status karena bertemunya dengan orang - orang yang kebetulan kerja bersama lalu punya kesempatan berinteraksi lebih banyak tapi statusnya suami orang *lhah!

Ada juga kendala lain, pernikahan menjadi bukan suatu prioritas lagi dalam hidupku karena gambaran pernikahan yang tidak abadi menjadi bayangan yang menakutkan dan susah dijalani. Rasanya aku lebih mudah bekerja keras tapi hasilnya jelas dapet uang lalu bangun rumah, daripada membangun rumah tangga yang caranya pun aku ngga tau tapi resikonya patah hati berkepanjangan… What the damn hell!   Jadi jujur saja aku menikmati sekali kehidupan melajangku tanpa kejelasan akan hati tapi rekeningnya pasti jelas terisi tiap bulan, heheheh.

Sampai pada suatu waktu aku merasa bahwa kehidupan ini dingin, tidak ada warnanya. Aku bisa saja membubuhi kegiatan hura - hura sebagai warna kehidupanku, tapi rasanya ada yang kurang. Lalu aku mencoba beberapa langkah dengan harapan menemukan teman hidup dan resiko melajang selamanya.

1. Terbuka
Aku membuka luas pertemananku tanpa pilih - pilih. Mulai dari pria yang bau, wangi, cakep, kurang cakep fatal, pintar, kurang pintar, sama sekali tidak pintar, bisa ngobrol, pendiem, garing, lucu, lucu berlebihan, norak, keren, dll sebagainya aku berusaha untuk ramah. Menyediakan beberapa menit atau membagi waktu untuk bertemu mereka juga bukan hal yang mudah, tapi menurutku aku tertantang untuk survey. Tentu saja tidak ada yang memenuhi kriteria pria ganteng, gagah, perut kotak - kotak, mapan, sukses, pinter bahasa Inggris, lucu cerdas, warisan banyak, suka nonton film, suka makan enak, suka travelling, dan ribuan syarat lainnya.

2. Menerima
Aku menyadari kalau aku tidak sempurna, selulit dimana - mana, berat badan diatas rata - rata, kecantikan pas pasan, kecerdasan bergantung sama mbah google, lambat, suka molor, nggak rapih, ngga punya tabungan, dan sebagainya. Jadi apa salahnya menerima sosok yang tidak sempurna tapi paling tidak ada kemauan untuk bisa dan mampu beradaptasi. Artinya gini, bukan berarti trus ngawur cari pria asal mau jadi suami tapi kamu liat mukanya aja ngga pengen buat cium atau peluk bahkan making love. Tetep paling tidak ada batas penerimaan yang kita mampu untuk membayangkan berbagi dengan orang itu seumur hidupmu. I agree that we cannot decide to whom we shall fall in love with, but I agree in process. 

3. Komitmen
Be good and you will be treated good, the rest leave it to universe. Itu yang aku pegang ketika aku siap untuk berkomitmen, meski mudah diucapkan tapi ya rasanya kayak jumpalitan menjalaninya. Yang jelas, aku tidak suka istilah pernikahan dan patriarki, jadi aku menganggap pasangan hidupku sebagai teman hidup bukan suami. Itu rasanya lebih ringan dan mempermudah menjalaninya. Godaan di luar juga pastinya banyak ada yang lebih ganteng, lebih baik, lebih lucu, lebih sexy, tapi selebihnya itu aku sudah punya keputusan dan aku juga ngga mau hal - yang lebih - lebih itu membuat pasangan hidupku lari ke pelukan kimcil lain <-- kata kimcil dipilih untuk menggambarkan wanita penggoda lain. Pada akhirnya, ya sudah lah ya kalau sampe tetep ditinggal juga tinggal ngomel dikit sama alam semesta lalu move on as life is just a walk to march on. 

4. Melepaskan
I live to let go! yang paling kuat diajarkan pengalaman kepadaku adalah seni untuk melepaskan harapan dan tetap hidup untuk terus berharap. <---- sebenernya ini malesin banget ya. Buat apa berharap kalau akhirnya terus melepaskan dan tetap punya harapan…. what a waste! Tapi hidup itu semua misteri dan itu tantangannya buat aku menarik. Kemudian proses melepaskan ketika alam semesta tidak menghendaki harapan kita dipenuhi, selalu saja ada alasan dan alasan lain untuk terus bersyukur. Oiya, 10 tahun yang lalu aku melepaskan seseorang dan kami saling mencintai pada masanya. Sekarang orang itu ada di kehidupan aku menjadi suamiku.

Jadi rasanya itu saja sih yang aku dapatkan dari pengalaman hidup dan benar saja sampai saat ini aku juga masih belajar untuk terus belajar hidup mumpung belum dipanggil ama si empunya hidup. Dibilang susahnya setengah mati ya bisa tapi dibilang tantangan juga rasanya bisa meringankan bebannya. Jadi, coba diresapi quotes di atas dan mari kita mencoba mengerti.