Jadi kemarin itu ketemu Musdalifah, wajahnya sumringah lengkap dengan garis matanya yang tajam dan senyumnya yang selalu hangat. Darah arabnya memang tidak kental, tapi dia selalu bilang ketika ditanya kenapa matanya bisa bersinar dan tegas, jawabnya "aku punya darah Arab kakekku". Katanya Musdalifah sedang jatuh cinta dan seperti menemukan kisah cintanya yang lama pernah hilang, lalu aku sempatkan bertemu Musdalifah, tanpa Mustafa. Meski aku tau siapa Mustafa, bagaimana dia selalu diceritakan Musdalifah dulu. Dan Musdalifah wajahnya hanya tersipu - sipu dan selalu dengan sentuhan sederhananya menjawab dengan lugas, tepat, cerdas, dan selalu tulus "Jadi mas, percaya saja, kalau memang sudah saatnya, sudah waktunya, rasanya seperti alam semesta mengatur segalanya sehingga pada ruang dan waktu itu aku bertemu dengan Mustafa dan kami berjanji untuk tumbuh dan menua bersama, meski siapa yang sangka sudah 8 tahun lamanya aku tidak bertemu dengan Mustafa..... So be it"
Tidak lama pertemuannya, hanya 15 menit dari sela kesibukannya dan persiapannya meninggalkan karirnya menahun untuk berpulang meneruskan usaha ayahnya dan tumbuh bersama Mustafa. Aku melayangkan pertanyaan terakhir, "sudah percaya Mustafa? sudah belajar mencintai lagi?" sekali lagi dia tersenyum, nampak banyak sekali kata - kata dipikirannya, yang ingin disampaikannya, namun kesempatan tidak banyak, katanya " Mustafa membuat semuanya mudah dan aku tidak mempersulitnya lagi... "
Selama ini kalau ketemu Samuel Mulia, adalah suasana formal,
dan tidak pernah bisa punya waktu untuk bicara banyak. Meskipun dia idolaku dan
artikelnya selalu aku baca setiap minggu, harapan untuk ketemu Samuel itu bisa
dibilang semu, manalagi ditambah sebagai konsultan merk – merk ternama di
Indonesia, penulis, pengamat lifestyle, dan dibayar karena nyinyir, sudah
membuktikan dia orang dengan kesibukan tingkat tinggi sekelas sosialita yang
tidak bersahabat. Mungkin ya itu tadi, musti punya puluhan juta buat bisa
ngobrol dan konsultasi sama Samuel.
Jadi kalau sore ini dikasih kesempatan alam semesta buat
ngobrol sama Samuel, aku akan menyebuyna obrolan puluhan juta gratis untuk
Stella Amirta. Samuel itu tidak mengajarkan teori, dia itu berbagi
pengalamannya.
BISNIS DAN MANAJEMEN
Bicara bisnis, Samuel setuju dengan rencanaku. Selain kami
sama – sama punya pengalaman buruk akan ayah kami masing – masing, dia juga
mendukung bahwa ketika aku melanjutkan usaha ayahku, maka itu melanjutkan,
bukan membantu. Kalau membantu artinya sosok ayah ada disitu, kita tidak
belajar, tapi berlindung dan tidak maju – maju.
Tidak perlu belajar manajemen seperti cash flow, budget,
pajak, dll. Cukup sebagai pemimpin, kamu harus siap mendelegasikan konsep dan pekerjaan kepada anak buah, percaya dan tidak
mematikan potensi mereka, namun memanfaatkan potensi mereka untuk kemajuan
bersama. Omong – omong nih ya, ngobrol sama Samuel itu tidak seformal yang aku
tulis di blog ini, nuansa gelak tawa nan rusuh seperti kata – kata “coli”, “bangke”,
“tai”, dan kosakata yang belum pernah aku dengar sebelumnya memberi warna
obrolan sore itu, tentunya dengan gaya berceritanya yang penuh semangat dan
kemayu.
DON’T FUCK THE BRAND
Nah, kalau udah punya brand dan konsep, tugasnya ya
menanamkan itu layaknya seperti brainwash. Sebagai contoh, Samuel menceritakan
sebuah brand susu pria yang kita kenal dengan iklan – iklannya pria bertelanjang
dada dengan celana jeans. “Kamu liat itu stella, mentang – mentang ownernya
HOMO, dia menanamkan konsep itu bukan susu lelaki tapi malah susu HOMO.
Bayangin aja, lelaki mana yang ngga eneg mau minum susu kalau disodorin pria
telanjang dada dan keliatan jembutnya. Belum lagi acaranya di TV malah cowok –
cowok gelayutan ditonton pria homo… “ Jadi kalau punya brand, bikin itu sebagai
tokoh yang komplit karakternya, baru kita bisa memasyarakatkan brand itu dengan baik.
KEYAKINAN
Cukup absurd juga ya bicara sama Samuel itu, yang kami
bicarain itu ngga cuman bisnis tapi ada juga religi, kalau nggak ya cerita
pengalaman.
Kalau bicara ini, cocok banget sama Samuel. Dia tidak
percaya agama J
tapi dia berdoa sesuka hatinya dan semaunya dia sendiri. Seperti sore ini dia
bilang “sebenernya gue biasa berdoa Koronka, diatas sajadah berbulu gue secara
gw banci dan nungging. Tapi buku koronka gw ilang”. Seperti aku, kami percaya
bahwa aku mau ngga mau lahir di dunia ini walaupun ngga pernah minta, dan
jadinya orang jawa, trus punya orang tua seperti itu, dan diberi kehidupan itu
karena sudah diatur nasib dan tidak ada sesuatu hal yang bernama kebetulan,
semuanya sudah teratur. Tidak peduli orang mendukung atau tidak pemikiran ini
atau percaya tidak akan cara berpikir ini, tapi nikmatilah kepercayaan kamu.
Yang penting itu kita percaya bahwa kita tidak berkuasa, tapi ada kuasa lain diatas kita. Jadi kalau kata Samuel, "kalo lo ga terima gw banci, gimana gw yang dikasih banci, nah pegimane lagi yang punya kehidupan nyiptain gw banci, berarti lo ngehina salah satu karya ciptaanNya."
Selain itu, sebaiknya aku sisakan ceritanya untuk Mama,
Papa, Tito, dan Mustafa saja, karena terlalu vulgar untuk ditulis disini. Tidak
semua orang bisa menerima pemikiran yang beda, padahal katanya perbedaan itu
yang membuat hidup Indah. Berangkat dari situ, aku memutuskan untuk menyudahi
tulisan singkat ini. Yang jelas, mendapatkan obrolan seharga puluhan juta itu
hadiah terindah sebelum menikmati hari – hari terakhir di karirku sebagai
Public Relations dan Marketing Communications dan menyongsong pernikahanku yang
sudah tinggal menghitung hari. *cuman sekarang rada ketar ketir karena Samuel
punya inspirasi buat nulis artikel parodinya atas pertemuan sore ini …. Mau nulis
apa ya dia?
Selama kami kursus perkawinan, Mustafa rajin menulis dan
menceritakan pengalamannya selama kursus perkawinan sesuai dengan apa yang
diajarkan setiap harinya. Entah kenapa kali ini ketika mempelajari ‘pengenalan
reproduksi’ Mustafa nampaknya enggan menulis. Jadi mari kucoba saja untuk
menulisnya, ala Musdalifah.
Jadi hari itu aku dan Mustafa mulai berpikir cabul karena
sore itu akan bicara mengenai pengenalan organ reproduksi. Imajinasiku juga
sudah mulai melayang karena seharusnya ini akan menjadi pembicaraan seru bak
mengulas satu kitab Kama Sutra dan melihat perspektif alat kelamin dan
perkawinan menjadi sisi yang sangat menegangkan nan menarik. Aku juga
membayangkan mengenai bagaimana kita nanti akan diberi saran menjaga hubungan
intim suami istri dengan baik, supaya mencapai kepuasan bersama bak menyaksikan
Dr. Boyke yang menyenangkan dalam sebuah talkshow interaktif penuh makna
*halah.
Memang betul bagi aku dan menurut aku, jadi bolehlah kalau
ada yang ngga setuju, kehidupan sex rumah tangga itu penting. Bercinta itu
harusnya menjadi sarana rekreasi pelepas penat suami istri dan jadi aktifitas
favorit yang menyenangkan. Jadi waktu sebelum aku memutuskan mau menikah dengan
Mustafa, aku selalu sigap menjawab ketika ditanya salah satu harapan
pernikahanku adalah calon suamiku harus bisa bikin aku nafsu dan good in bed. Rasanya berat juga ya kalau
aku harus bercinta dengan orang yang sama seumur hidup (baca: setelah menikah)
kalau orang itu sama sekali ngga bikin nafsu dan bahkan enggan untuk bercinta, what a lame my life will be. Mungkin ini
dikarenakan aku, Musdalifah, memiliki darah Arab yang menurut penelitan
memiliki kadar libido yang diatas rata – rata dan pastinya hot in bed *trust me!Tapi
nggak juga, aku yakin beberapa wanita modern, mandiri, dan berwawasan luas
seperti aku, berpendapat demikian *chin up.
Oke, lanjut pada perjalanan kursus perkawinan hari ini,
Mustafa dan Musdalifah sudah saling mengirimkan pesan “horeee, nanti sore kita
akan lihat gambar saru!” *sungguh cabul sekali kan mereka ini. Namun ternyata,
pasangan Mustafa dan aku ini memang tidak mujur ya kalau berhadapan dengan
sebuah kelembagaan yang kaku dan agama. Sore itu kami dihadapkan oleh dua orang
ibu – ibu arisan (salah satunya berprofesi sebagai bidan) yang bicara titit (baca:
alat kelamin) aja pake sungkan – sungkan karena saru, ditambah lagi lamat –
lamat bicaranya layaknya ini semua tabu, menjelaskan bagian – bagian alat
kelaminpun juga sering mencontek, dan mereka seperti malah melihat dari
perspektif yang mengerikan seperti penyakit kelamin, ibu – ibu dengan tato yang
kemungkinan HIV *singak!, dan proses kelahiran yang menyakitkan. Bahkan salah
satu ibu itu bicara demikian, “sakitnya itu walaupun si ibu itu cantik kayak
apa, pasti mukanya akan semakin jelek ketika kesakitan mau melahirkan” *sembari
memandang wajahku yang membuatku berpikir aku ini cantik dan lemah dihadapannya
*halah …. J
Ah, kandas sudah deh harapan melihat kitab Kama Sutra,
nampaknya Mustafa dan aku perlu bereksplorasi sendiri, toh kami cabul dan kami
yakin pasti kami akan seru sekali nanti kehidupan pernikahannya jadi kami tidak
peduli meski pengetahuan yang kami serap sedikit sekali. Di penghujung acara,
calon – calon mempelai putri ini diberikan susu sample pendukung masa – masa menjelang
kehamilan *yippie … . Ya sudah lah bu, aku yakin kalian pasti ndak tau apa itu
big “O” jadi mungkin tidak ada yang menarik bagi ibu – ibu arisan selo ini
untuk berbagi mengenai indahnya kehidupan intim suami istri *sigh.
Ini juga jangan bilang – bilang Mustafa, meski ini bisa
dibilang tulisan balasan atas apa yang ditulis Mustafa dalam blognya.
Aku bukan penulis, tidak seperti Mustafa yang pandai
merangkai kata – kata dalam sebuah tulisan. Terlebih lagi ketika kosakata yang
aku miliki lebih sedikit daripada Mustafa.
Kalau kata Mustafa, aku lebih pintar bersilat lidah daripada
menulis mengingat profesiku sebaga Humas yang terkenal bullshit ini.
*Namun patut diakui kepiawaianku ini berhasil merebut hati
banyak orang mulai dari atasan, owner, juga mertua … J
Cukup mengenai aku, jangan sampai gagal fokus karena kita
harus membicarakan Mustafa diam – diam.
Waktu ditanya kenapa aku mau menikahi Mustafa, aku kesulitan
menjawab karena alasannya ya karena itu Mustafa, bukan Don Juan, bukan Abul
Zakir, atau nama – nama lainnya yang pernah ada dikehidupanku. Toh katanya
Cinta itu tanpa syarat dan alasan, jadi aku sudah cukup membual dengan menjawab
“Karena itu Mustafa, aku mau menikahinya dan menjawab iya ketika dilamar”.
Namun demikian, tidak mudah juga ditanyai teman – teman dekat mengenai Mustafa,
mengingat pencitraan Mustafa itu salah kaprah dimata teman – temannya. Ada yang
bilang dia itu gombal, penjahat kelamin, playboy, tidak mapan, kekanak –
kanakan, dan lain sebagainya yang tetap tidak menyurutkan niatku untuk mau
dipinang Mustafa.
Dimataku Mustafa ini orang yang sangat santai, dia yang bisa
mengajarkan aku untuk “Keep calm” dan
hidup itu tidak perlu ngoyo. Dia juga
memberi aku gambaran untuk tidak perlu kuatir betul akan kehidupan, jadi kalau
hidup sama Mustafa itu mungkin semacam ‘makan ngga makan asal kumpul’. Ah, tapi
tidak juga, coba sodorin Mustafa dengan sepatu salah satu merk yang mahal,
celana jeans dengan merk yang mahal, hem dengan merk favoritnya yang juga
mahal, dan juga gadget impiannya yang pastinya juga mahal, mungkin dia akan
termotivasi untuk menabung dan bekerja lebih giat. Karena menurut Mustafa,
penampilan itu utama sepertinya ….
Saking tenangnya, Mustafa ini banyak diam dan jarang bicara.
Sejak 2004 kita saling mengenal menjadi selingkuhan, aku juga mengenal Mustafa
sebagai sosok antisosial, rebel, pendiam, dan pintar menulis. Dituliskannya
kepadaku beberapa coretan kecil dan dipanggilnya aku ini Madu …. *entah dulu
mungkin aku korban rayuannya atau seperti bagaimana dia meyakinkan aku memang
dari dulu Mustafa sudah tertarik kepadaku uwwyeaahh!. Berpisah dari sejak 2004
karena aku ketahuan berselingkuh dengan Mustafa, maka diputuskannyalah tali
silaturahmi kami dan aku tidak pernah lagi menemukan Mustafa sampai pada awal
2012 kemarin. Berubahkah Mustafa? Sampai saat ini aku belum tau dan belum
mengenal Mustafa secara menyeluruh, namun ini akan jadi perjalanan yang seru
untuk mengenal dirinya. Yang jelas, dia tetap pendiam menurut aku … tidak
secerewet aku yang banyak bercerita. Waktu pertama kali bertemu di tahun 2012
pun aku sempat kehabisan bahan pembicaraan karena dia terus saja menatap aku
tanpa bicara banyak. *mungkin dia sudah kena pelet penakluk lelakiku ahay!
Jangan terlalu banyak memberi wejangan kepada Mustafa, dia
bisa lari tunggang langgang atau ekspresi wajahnya berubah menjadi monster
karena dia benci sekali dengan orang yang terlalu banyak memberi nasihat
seperti hidup mereka sudah siap mati sempurna. Cukupkanlah Mustafa dengan
beberapa cerita pengalaman hidup, pasti dia akan mengerti dan dia juga sudah
cukup tau untuk mengambil sikap dalam hidupnya.
Usut punya usut mengenai Playboy, ternyata Mustafa tidaklah
playboy, hanya pencitraannya saja yang salah. Jumlah mantan kekasihnya, tidak
sebanyak mantan kekasihku. Kenakalannya belum seberapa dengan kenakalanku. Jadi
bisa dibilang, pencitraan Mustafa ini salah dimata beberapa orang, mungkin
karena dia ini tidak piawai menjadi Humas, tidak seperti aku. Mustafa ini
selain apa adanya, orangnya all out dia
terkenal baik hati dan tidak perhitungan. Jadi sebenernya dia ini gampang
dikadalin *eh … J
Oleh karena itu, tidak perlu diragukan, banyak wanita – wanita yang jatuh hati
kepadanya karena memang baik hatinya.
Untuk masalah nyali, sebetulnya ini masih jadi pertanyaanku
sejak bertemu dengan Mustafa. Aku masih tidak habis pikir dan mungkin kami ini
juga masih tidak habis pikir dengan keputusan kami untuk menikah. Mengingat
kami sama – sama tidak percaya pernikahan dan agama, cukup mencengangkan juga
sampai kami akhirnya bisa melewati proses perkenalan antara calon besan, proses
lamaran, dan sampai saat ini kami menjalani penyelesaian keperluan surat nikah
mulai dari sipil dan gereja, juga hendaknya kami mengikuti katekisasi serta
kursus perkawinan yang kadang – kadang juga mengganggu pola berpikir kami yang
terlalu absurd. Namun inilah Mustafa, dibalik sikap kekanak – kanakan dan
manjanya sebagai anak bungsu, namun dia betul – betul punya nyali untuk
mengajak aku menikah dan sebagai seorang calon mempelai dia sangat menyenangkan
diajak bekerja sama. Seperti pada pagi ini, merapihkan dokumen, merangkum
pengeluaran, menyelesaikan desain undangan, membuat buku pemberkatan, memilih
lagu – lagu yang akan dinyanyikan, dan kesana kemari mendampingi aku
menyelesaikan semua – semua procedural yang melelahkan tetapi merupakan
tantangan yang menarik. Jadi Mustafa, lebih baik aku saja yang santai – santai disini
dan memastikan semuanya beres sembari menikmati kopi dan sebatang dua batang
racikan tembakau.
Nyali - Naif Kekasih,Telah bulat hatiUntuk ucapkan sebuah janjiBila engkau mau menanti Bagaimana caranya akuMengungkapkan maksud hatikuAndai engkau mau mengerti Tuhan...Beri aku nyaliUntuk mengucapkan janjiSehidup sematiAku tak ingin lagiMembuatnya menunggu untuk sesuatu yang tak pasti